TULUINGAGUNG- Para ibu rumah tangga sebenarnya bisa meraup rupiah dari apa yang menjadi hobi atau kesenangannya. Seperti yang dilakoni Dwi Kristanti, 49, warga Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman. Dia menekuni seni kerajinan decoupage selama setahun terakhir.
Decoupage, berasal dari bahasa Prancis découper yang berarti memotong. Ini merupakan kerajinan atau salah satu bentuk seni yang memerlukan potongan-potongan bahan yang dinamai napkin atau tisu khusus yang ditempel pada objek. Lalu pada sentuhan terakhir dilapisi furnish atau pelitur.
Melalui proses menempel tersebut, potongan-potongan pola terlihat seolah-olah dilukis pada objek atau media yang diproses dengan teknik decoupage. Jika dulunya teknik decoupage hanya diterapkan pada tas pandan, kini media kian bervariasi. “Ini cara yang menyenangkan. Nilai seninya adalah pada memilih pola mana yang sesuai untuk media yang akan ditempel. Akankah cocok antara warna dan kesesuaian bentuk dengan media tersebut,” ujar Dwi Kristanti, ibu rumah tangga asal Desa Batangsaren ini.
Ibu dua anak ini mengaku mengenal decoupage dari adiknya yang tinggal di Surabaya. Di Kota Pahlawan itu memang ada workshop khusus decoupage. Tak hanya melatih, tersedia pula media seperti tas pandan dan media lain yang digunakan untuk teknik decoupage. “Jadi, saya hanya menempel. Sedangkan tas pandan, tas rotan, sepatu, sandal rotan, dompet pandan, dan media lain saya mencari sendiri,” ujar istri Heri Purwanto ini.
Editor : Didin Cahya Firmansyah