PONGGOK, Radar Blitar - Nampaknya para produsen telur ayam di Bumi Bung Karno belum dapat bernafas lega. Alasannya, minimnya program bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat terdampak Covid-19 ikut membuat serapan telur ayam dari peternak kian seret.
Hal ini diakui oleh Ketua Koperasi Peternak Ayam Petelur Blitar Sukarman. Dia mengungkapkan, satu bulan terakhir harga telur ayam cenderung fluktuatif hingga akhirnya kini harganya berada di angka Rp 19.000 hingga Rp 19.500 per kilogram (kg). Padahal, harga normal telur ayam di pasaran berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu per kg. "Distribusinya tidak terlalu berpengaruh. Tapi serapannya sangat minim. Karena wisata pembatasan di tempat wisata, hotel-hotel sepi dan pasar juga tidak full. Penyerapannya berkurang," katanya.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun 2020 lalu, di mana pemerintah banyak melakukan serapan telur ayam dari produsen untuk keperluan pemenuhan bansos kepada masyarakat terdampak Covid-19.
Untuk itu, lanjut dia, jika kini para peternak tengah mengusulkan kepada pemerintah terkait pengadaan bansos. "Kami usulkan kepada pemerintah agar telur ayam diserap untuk bansos seperti bantuan pangan non tunai (BPNT) atau program keluarga harapan (PKH)," katanya.
Dia menambahkan, kondisi ini sangat dikeluhkan para peternak ayam petelur. Sebab, kini para peternak terpaksa meliburkan sejumlah tenaga kerja demi memangkas biaya operasional yang tidak sepadan dengan pemasukan dari serapan teluar ayam yang mengalami penurunan. "Kalau serapan turun, otomatis tenaga kerja libur," ujar pria 59 tahun ini.
Dia bersama para peternak Blitar sudah melayangkan laporan kepada kementerian terkait di pemerintah pusat. Tujuannya agar pemerintah pusat mengkaji pengadaan program bantuan dengan menyerap telur ayam dari peternak. "Kami sudah kirim surat ke Kementerian BUMN dan Kementerian Sosial (Kemensos, Red) untuk menyerap telur untuk masyarakat bergizi buruk atau stunting," sebutnya.
"Kemarin saya juga terima tamu dari Kementerian Koperasi. Katanya bisa dilakukan penyerapan telur untuk didistribusikan di Jakarta. Tapi ini juga melalui pengawasan yang ketat oleh satgas pangan untuk memastikan distribusi dan penyerapannya maksimal," imbuhnya.
Dia berharap agar pemerintah dapat segera mengeluarkan kebijakan yang dapat memaksimalkan distribusi dan serapan telur ayam di berbagai daerah. "Harapannya kepada pemerintah agar di saat PPKM ini hadir di masyarakat agar kebutuhan itu bisa tercukupi dengan menyerap dari peternak. Jangan semua (bantuan, Red) diuangkan. Yang penting masyarakat tidak keberatan dengan harga telur itu saja peternak sudah untung," tutupnya. (*)
Editor : Choirurrozaq