Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Banyak Bansos, Harga Beras Anjlok

Choirurrozaq • Senin, 22 Februari 2021 | 16:10 WIB
banyak-bansos-harga-beras-anjlok
banyak-bansos-harga-beras-anjlok

BOYOLANGU, Radar Tulungagung - Banyaknya stimulus bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ternyata berdampak pada jual-beli beras. Beberapa pihak mengklaim bahwa daya jual dan daya beli beras di pasar melemah. Padahal, biasanya pada awal tahun harga beras cenderug naik. Tapi tahun ini harga beras malah turun.


Pimpinan Cabang Bulog Tulungagung Junaidi mengatakan, banyak bantuan sembako dari pemerintah ternyata membuat harga dan daya beli beras turun. Banyaknya masyarakat yang mendapatkan bantuan sehingga perputaran ekonomi melambat. Bahkan, dalam satu program saja seperti bantuan sosial beras (BSB), setidaknya ada 5.200 ton beras yang diberikan masyarakat. "Saya melihat harga dan daya beli masyarakat terhadap komoditas beras turun. Saat ini untuk beras medium dari Bulog Rp 8.300 sedangkan harga beras di pasar Rp 8.200," tutur pria asli Lampung itu.


Sementara itu, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tulungagung Didik Sulaksono menjelaskan, berdasarkan data objektif dari tiga pasar, harga beras memang sempat mengalami penurunan jika dibandingkan tahun lalu. Meskipun penurunan harga beras masih terbilang relatif wajar. "Dari pantauan yang kami lakukan di Pasar Ngemplak, Ngunut, dan Bandung, harga beras sempat turun. Meskipun penurunan hanya Rp 500 sampai Rp 900," jelasnya.


Didik, sapaan akrabnya mengungkapkan, untuk harga beras Bengawan tahun lalu seharga Rp 11.400, turun menjadi Rp 10.500 per kilogram (kg) pada tahun ini. Sementara untuk beras Mentik tahun lalu seharga Rp 11.933 per kg, kini turun menjadi Rp 10.500. Sedangkan untuk beras IR 64, tahun lalu seharga Rp 9.567 per kg, naik menjadi Rp 9.750. Berdasarkan perbandingan harga tersebut, menurut Didik, bisa dikatakan jika sebenarnya harga beras di Tulungagung cenderung stabil. Tidak mengalami penurunan ataupun kenaikan secara signifikan. "Jadi kami selalu meng-update dan memantau harga beras bahkan setiap hari. Berdasarkan pantauan itu, setiap hari tidak ada penurunan harga yang signifikan," ungkapnya.


Pria ramah itu meyakini bahwa sebenarnya penurunan harga beras di Tulungagung pada saat ini terjadi disebabkan lantaran banyaknya bansos selama masa pandemi. Hal itu menjadikan minat beli beras oleh masyarakat sedikit menurun. Pihaknya juga memprediksi berdasarkan pantauan tahun lalu, harga beras akan terus seperti ini sampai memasuki Ramadan atau saat Hari Raya Idul Fitri. "Karena saat ini juga masuk musim panen, stok berasnya juga aman. Harusnya pada hari-hari besar keagamaan harganya akan naik, tetapi kalau melihat tahun lalu karena bertepatan dengan pandemi, harganya stabil," ujarnya.


Di sisi lain, Kepala UPT Pasar, Zaenu Mansur menambahkan, harga beras di pasar masih bisa dikatakan normal. Sedangkan untuk daya beli masyarakat juga stabil. Mungkin penurunan harga beras terjadi di pengecer. "Kalau daya beli masyarakat masih stabil tidak ada gejolak. Bisa jadi penurunan daya beli berada di pengecer. Kalau grosir relatif aman," pungkas pria berkacamata itu. (*)

Editor : Choirurrozaq