KOTA, Radar Tulungagung - Semakin hari semakin pedas, begitulah kira-kira perumpamaan yang tepat untuk harga komoditas cabai rawit saat ini. Sudah hampir empat bulan ini harga cabai melambung tinggi. Bahkan, kini harganya telah tembus Rp 110 ribu per kilogram (kg). Atau hampir sama dengan harga 1 kg daging sapi segar. Tak heran kondisi ini membuat pembeli berbondong-bondong beralih ke cabai kering impor.
Musiyan, salah seorang pedagang sayur di Pasar Rakyat Ngemplak mengatakan, sudah sepekan terakhir harga cabai rawit tembus Rp 100 ribu per kg. Padahal pada akhir Februari lalu harganya masih berada pada kisaran Rp 85 ribu hingga Rp 93 ribu per kg. “Sekarang sudah Rp 110 ribu per kg. Bahkan ada yang jual Rp120 ribu, harganya terus naik,”jelasnya.
Pria paro baya ini mengaku terpaksa menaikkan harga lantaran barang yang dia terima dari pedagang besar juga sudah lumayan mahal. Sehingga mau tidak mau dia harus menaikkan harga. Tak hanya itu, untuk menyiasati harga, dirinya kerap mengambil cabai kepek atau cabai yang kualitasnya tidak terlalu bagus. Sebab, harga beli lebih murah jika dibandingkan dengan cabai yang berkualitas bagus. “Nggak busuk, hanya kualitasnya kurang, namanya cabai kepek. Saya campur dengan itu supaya harganya tidak terlalu mahal,” terangnya.
Hal senada juga diungkapkan Tuminah, pedagang sayur yang lain. Dia mengaku banyak pelanggannya beralih menggunakan cabai kering impor karena harganya masih stabil. Yakni pada kisaran Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu per kg. Meskipun tergolong mahal jika dibandingkan dengan harga cabai rawit saat kondisi normal, cabai kering impor mampu memberikan cita rasa yang lebih pedas dibandingkan dengan cabai rawit. “Rasanya lebih pedas. Jadi pakai sedikit sudah terasa. Kalau cabai rawit kan tidak. Makanya sekarang banyak yang cari cabai kering impor,” urainya.
Tuminah mengaku semenjak harga cabai terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan, turut berimbas pada omzet yang didapatnya. Para pembeli memilih menahan diri untuk tidak membeli cabai lantaran tingginya harga jual. “Omzet pasti turun. Pelanggan rata-rata hanya dari warung yang punya usaha makanan. Kalau rumah tangga sudah berkurang drastis,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala UPT Pasar Kabupaten Tulungagung Zaenu Mansur mengatakan, meskipun tergolong cukup mahal, stok di pasar masih tergolong aman. Ini lantaran peredaran cabai rawit terbilang cukup stagnan beberapa waktu terakhir. Sehingga tidak sampai terjadi kelangkaan barang. “Stoknya masih aman, tidak sampai langka. Namun, harganya memang masih tinggi. Ini karena daya beli masyarakat juga menurun akibat harga yang tergolong tinggi,” terangnya.
Zaenu memprediksi kemungkinan harga cabai rawit masih akan tinggi untuk beberapa hari ke depan. Ini lantaran cuaca yang tidak menentu membuat hasil panen cabai rawit lokal maupun luar tidak sebanyak tahun lalu. Hal itu turut berimbas pada pasokan cabai rawit lokal maupun luar daerah. “Dari informasi yang saya dapat dari beberapa pedagang, disebabkan daerah-daerah penghasil cabai mengalami penurunan produksi akibat cuaca yang tidak menentu,” tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq