Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Tulungagung, Tutus Sumaryani mengatakan, banyaknya peternak babi membuat Tulungagung menjadi pemasok kebutuhan babi terbesar di Provinsi Jatim. Berdasarkan pantauan dari kepengurusan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), pengiriman hewan ternak babi tersebut dikirim ke wilayah Surabaya, Bandung, dan Jakarta. “Itu setiap minggu pasti ada pengiriman ke sana. Kita ini menjadi pemasok terbesar ketiga dari Jatim setelah Malang dan Pasuruan,” jelasnya, kemarin (25/05).
Adapun ratusan babi tersebut dikirim dalam kondisi hidup dan diperuntukkan sebagai kebutuhan konsumsi. Pusat peternak babi di Tulungagung berada di Ngunut. “Kalau di sini itu di wilayah Ngunut. Di situ sentranya peternak babi di Tulungagung,” ucapnya.
Disinggung ihwal tempat mendapatkan bibit babi guna pemeliharaan di wilayah Ngunut, dia mengaku bahwasanya para peternak babi di Ngunut telah melakukan sistem pembiakan atau breeding secara mandiri. Menurutnya, peternakan babi di wilayah tersebut disinyalir telah ada sejak dulu kala. “Mereka sudah melakukan sistem breeding-nya sendiri. Itu sudah turun-temurun, kelihatannya memang dari nenek moyangnya sudah beternak babi,” paparnya.
Bahkan, bibit babi yang ada di wilayah Ngunut juga dikembangbiakkan ke peternak babi di wilayah lain. Menurut dia, selain di wilayah Ngunut, peternakan babi juga terdapat di Kecamatan Pagerwojo. Kemudian, total populasi babi di Tulungagung hingga mencapai 10 ribu populasi babi. “Di Pagerwojo itu juga menggunakan plasma dari babi yang ada di Ngunut,” ungkapnya.
Lalu, persyaratan dalam mengurus izin peternakan babi diketahui lebih ketat dibandingkan dengan berternak hewan lainnya. Untuk mendirikan peternakan babi harus mendapat izin dengan sistem perizinan yang ada saat ini, yakni melalui Online Single Submission (OSS) Risk Based Approach (RBA) atau perizinan usaha berbasis risiko serta izin dari lingkungan. “Ada, kalau ingin beternak babi izinnya lebih ketat. Kalau skala besar itu dikarenakan rawan risiko limbah,” tutupnya. (ziz/c1/din/rka)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana