RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Dalam seminggu terakhir ini, Pasar Hewan Terpadu Tulungagung di Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, ramai pembeli. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menambah daya beli terhadap hewan kurban yang dipamerkan karena transaksi cenderung sepi.
Salah seorang pedagang hewan kurban di Pasar Hewan Terpadu Tulungagung, Suyono mengatakan, penjualan sapi kurban masih sedang. Harga hewan kurban mengalami sedikit peningkatan. Dari biasanya Rp 20 juta, sekarang menjadi Rp 22 juta. Secara kondisi memang lebih bagus dulu sebelum ada virus penyakit mulut dan kuku (PMK) dan sekarang lumpy skin disease (LSD). Tentu ada pengaruhnya.
“Namun, tahun ini lebih bagus daripada tahun lalu yang hanya terjual 10 ekor. Mungkin mendekati Idul Adha nanti lebih baik lagi. Untuk sekarang, sapi saya yang sudah terjual masih 5 dan di rumah ada 20 ekor. Saya bawa 1 ekor ke pasar masih belum laku yang harganya Rp 27 juta,” ungkapnya di tengah keramaian Pasar Hewan Terpadu Tulungagung.
Dia lebih sering menjual sapi di rumah. Namun, kalau masih tersisa langsung dijual di pasar. Dia menjual kepada teman-teman peternaknya. Biasanya pemesan berasal dari wilayah kecamatan Tanggunggunung dan tentunya Trenggalek.
Masih menurut Suyono, rata-rata keluhan penjual di PHT sama, yaitu pasar ramai tapi peminat kurang. Padahal, tren kasus PMK dan LSD sudah berkurang. Rumah yang berada di daerah pegunungan Trenggalek cukup aman terhadap penyakit tersebut.
Menurut pedagang lainnya, Santo, warga asal Sumbergempol, kondisi hewan ternak Idul Adha tahun lalu dan tahun ini masih sama. Menurutnya, belum ada peningkatan harga yang signifikan. Harga standar sapi pejantan Rp 22 juta hingga Rp 30 juta. Ada yang Rp 20 juta, tetapi masih kecil. Lalu, harga sapi betina Rp 17 juta hingga Rp 20 juta.
“Pembeli banyak yang datang langsung ke rumah. Bila ditotal, di pasar dan di rumah laku 20 ekor sapi. Namun, tahun lalu bisa laku hingga 50 ekor lebih. Sekarang minat pembeli di pasar berkurang,” terang Santo.
Sementara itu, pedagang kambing asal Desa Domasan, Kecamatan Kalidawir, mengatakan bahwa harga kambing mulai naik 10 persen. Yakni, rata-rata naik Rp 200-300 ribu per ekor, tetapi juga melihat kondisi barang. Kemudian untuk kambing powel harganya mulai Rp 3 juta dan kambing paling mahal Rp 6 juta. Harga standar Rp 4 juta.
“Kondisi pasar sekarang ramai orang, tapi minatnya turun 50 persen dari tahun lalu. Padahal di Pasar Hewan Ngunut lebih ramai. Penjualan saya yang lebih laku itu kambing jantan dengan harga Rp 3,5 juta. Saya sudah berhasil menjual 15 kambing dengan stok 50 ekor. Berkurang daripada tahun lalu yang terjual 70 ekor,” pungkasnya. (jar/c1/rka)
Baca Juga: Berpenduduk Terbanyak, Inilah Serba-Serbi Kecamatan Kedungwaru Tulungagung
Editor : Aburizal Sulthon Hakim