RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Rasa waswas sedang dirasakan Sumiatin, salah satu petani Tembakau asal Desa Bangunjaya, Kecamatan Pakel. Tanaman tembakau miliknya yang masih berusia sebulan sudah mulai layu karena hujan yang terus menyapa beberapa waktu terakhir. Dampak yang paling fatal, tanaman tembakaunya bisa saja membusuk saat musim kemarau basah kali ini.
Beberapa hari belakangan ini, mayoritas wilayah Tulungagung sering diguyur hujan dengan beragam intensitas. Bagi mereka yang doyan malas gerak alias mager pasti pilih rebahan di rumah. Apalagi ditemani secangkir kopi atau teh hangat dan gorengan, tentu sebuah kenikmatan yang haqiqi.
Berbeda dengan para petani tembakau. Hati mereka berkebit-kebit dengan nasib tanaman mereka. Apakah bakal bagus atau tidak dengan kondisi cuaca yang tidak menentu ini.
Saat ditemui di lahan tembakau garapannya kemarin (5/7), Sumiatin sedang asyik mencabuti rumput liar yang tumbuh di antara tanaman tembakau. Di tengah rintik hujan, dia meluapkan keresahannya kepada koran ini. “Saat menanam tembakau ini sebulan lalu, saya kira sudah masuk musim kemarau karena berhari-hari cuaca juga panas terus,” jelas ibu 47 tahun itu.
Dia bercerita tepat 5 Juni atau sebulan yang lalu, lahannya yang berada di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu mulai ditanami benih tembakau. Di awal, memang cuacanya panas dan sangat cocok untuk pertanian tembakau. Prediksinya tersebut rupanya meleset. Baru sebulan ditanam, eh hujan malah terus turun di Tulungagung, termasuk menghujani tanaman miliknya. “Tidak mengira kalau tiba-tiba cuacanya menjadi hujan begini, setiap hari hujan terus,” katanya.
Tembakau memang salah satu jenis tanaman yang tidak bisa jika mendapatkan terlalu banyak air. Kalau terlalu banyak, tanaman berangsur layu dan bisa saja membusuk jika tidak ditangani dengan benar dan cepat. Sumiatin, juga terus bersiap jika sewaktu lahannya yang berukuran sekitar 30 x 15 M persegi itu kebanjiran. “Kalau kebanjiran airnya harus dikeluarkan menggunakan diesel pompa air. Untungnya sampai sekarang tembakau saya belum pernah tenggelam, karena lahan di sini posisinya cukup tinggi dibanding lahan lainnya,” jelas Sumiatin.
Apalagi saat ini tanamannya juga masih muda, masih berumur satu bulan dan sangat rawan membusuk. Sedangkan untuk masuk masa panen, biasanya berumur 3 bulan. Sehingga masih ada waktu sekitar 2 bulan lagi bagi Sumiatin untuk terus berjuang mempertahankan tanaman tembakaunya. “Tetap dirawat seperti biasa, masih disemprot juga setiap hari agar kualitasnya bisa tetap bagus,” katanya.
Dia sendiri juga heran, kenapa hujan bisa turun saat musim kemarau tiba. Pikirannya pun sudah kemana-mana. Utamanya jika kualitas hasil panennya menurun akibat hujan yang terus menerus datang di Bumi Lawadan ini. “Kalau rendheng (hujan, red) begini pasti kualitas tembakau akan menurun. Otomatis harganya juga merosot,” keluhnya.
Sumiatin hanya bisa pasrah dengan kondisi yang dialami. Bagaimana tidak, kalau hujan turun apa yang bisa dilakukan selain memperbanyak berdoa. Pun, lahan garapannya juga masih konvensional atau ladang biasa tidak tergolong green house yang mampu membuat tanaman tetap terjaga meski cuaca tidak menentu. “Ya hanya bisa pasrah mas, mau gimana lagi. Harus bersiap juga sewaktu-waktu ndiesel (mengeluarkan) air yang masuk ke tanaman,” ujarnya.
Sumiatin sendiri, setiap hari dengan penuh semangat mengayuh sepedanya untuk menengok lahan tembakau miliknya. Padahal jarak rumah dengan lahan pertanian miliknya juga terpisah cukup jauh. Rumahnya berada di Desa Bangunjaya, Kecamatan Pakel. “Setiap hari harus ditengok. Entah untuk menyemprot, mencabut rumput liar yang tumbuh atau melakukan pengecekan-pengecekan lainnya,” tutup ibu paro baya tersebut.(*/rka)
Editor : Nurul Hidayah