KOTA BLITAR - Sudah dua tahun pandemi Covid-19 berlalu dari Bumi Bung Karno, tetapi dampaknya masih dirasakan oleh sebagian masyarakat. Khususnya bagi para pedagang kerajinan yang berada di sepanjang barat Makam Bung Karno (MBK). Ada pedagang yang terpaksa gulung tikar, dan yang bertahan pun belum bisa meraup keuntungan seperti sebelum pandemi.
Jam menunjukkan pukul 12.00. Salah satu kios terlihat masih sepi pengunjung. Mungkin karena cuaca yang panas, membuat para wisatawan agak enggan untuk mampir atau sekadar melihat-lihat barang yang dijajakan di kios-kios kerajinan, mulai dari miniatur, alat dapur, alat pijat, lampu hias, mainan anak-anak, dan berbagai tas yang terbuat dari berbagai macam bahan. Tampak seorang pedagang perempuan buru-buru menemui Koran ini yang mendekati kiosnya. Dia mengaku bernama Sih Fatimah. Meskipun sedikit enggan, tetapi dia tetap meladeni beberapa pertanyaan yang diajukan padanya.
Dia menuturkan bahwa hingga kini masih merasakan bagaimana perihnya bertahan di saat pandemi. Ditemani dua pegawainya, dia harus berusaha memutar otak agar tetap bisa survive, apalagi kondisi ekonomi setelah pandemi yang karut-marut sehingga pedagang seperti dirinya butuh perjuangan berat untuk bisa berjualan dan mendapatkan keuntungan.
Menurut dia, pandemi mengubah segala hal dari hidupnya. Dulu, ibu yang biasa disapa Bu Sih ini dapat menafkahi keluarganya dengan hanya berdagang kerajinan dan pakaian jadul. Namun, semua berubah ketika pandemi menyerang. Bahkan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), wisata harus buka-tutup. Mau tidak mau usahanya juga terimbas dari kebijakan pemerintah tersebut. Selama itu pula banyak barang dagangannya yang hancur dimakan rayap sehingga harus dibakar karena rusak. “Jadi, saya memulai lagi dari nol. Berjuang untuk hidup,” ungkapnya.
Kemudian setelah pandemi berangsur-angsur pulih, kondisi wisata MBK mulai dibuka total. Dia harus menerima kenyataan karena beberapa stok barang yang dimilikinya hancur. Dia harus menghubungi perajin untuk menyuplai kembali produk baru yang harus dijual. Namun, karena tidak ada uang, dia terpaksa berhutang dulu. “Kalau nggak gitu pinjam. Bahkan, ada pedagang lain yang harus hutang bank juga,” bebernya.
Tak hanya itu, jelas Sih, dia juga harus menaikkan harga jual hingga 10 persen karena dari pihak perajin juga menaikkan harga. Karena adanya perubahan harga, tentunya pendapatan yang didapatkan juga belum bisa seperti dulu (saat sebelum pandemi, Red).
“Paling laku itu mainan anak-anak yang harganya murah, karena terjangku masyarakat. Kalau kerajinan lain ramai saat hari libur,” terangnya.
Pedagang lain, Mujiasri, 70, juga kurang lebih mengeluhkan hal yang sama. Penurunan omzet benar-benar dirasakan selama Covid-19 melanda. Bahkan, modal berdagang juga amblas sehingga terpaksa harus mencari pinjaman modal. “Omzet saya turun drastis. Untuk bertahan, akhirnya saya pinjam bank, dan untuk melunasi hutang itu saya harus jual tanah,” keluhnya.
Dia membandingkan kondisi berjualan sebelum pandemi dan kini. Kondisi belum sepenuhnya kembali normal. Namun, dia optimistis bisa terus bertahan untuk menghidupi keluarga. “Selama saya berjualan kerajinan, saya bisa membeli rumah, tanah, motor, hingga memasukkan anak saya menjadi TNI,” aku perempuan berusia setengah abad lebih itu. (mg3/c1/ady)
Editor : Doni Setiawan