TULUNGAGUNG - Ibu rumah tangga harus pandai utak-atik urusan dapur. Alasannya harga bahan pokok komoditi beras di pasar tradisional Tulungagung melejit Rp 1.500 dari harga normal. Belum terdapat informasi pasti penyebab naiknya harga komoditi tersebut. Tentu kenaikan harga beras ini dikeluhkan oleh sejumlah konsumen.
Pedagang bahan pokok di pasar tradisional Ngemplak Tulungagung, Nur mengatakan, kenaikan harga bapok jenis beras ini telah terjadi beberapa minggu terakhir. Yang mana kenaikan harga tersebut naik secara berkala. Diketahui kini harga beras di Pasar Ngemplak naik Rp 1.500 per kilogram dari harga normal.
“Sudah beberapa minggu terakhir itu naik terus. Naiknya Rp 500 sampai sekarang selisihnya menjadi Rp 1.500 perkilogram dari harga normal,” jelasnya Minggu (8/10/2023).
Baca Juga: Rata-rata Beras di Tulungagung Naik Rp 1.500 per Kilogram, Berikut Rinciannya
Secara rinci, kini harga beras merek Mangga naik Rp 13.500 perkilogram dari harga normal Rp 12.000 perkg. Beras merek Bramo Rp 14.500 per kg dari harga normal Rp 13.000.
Beras merek Ongko 9 Rp 15.000 per kg dari harga normal Rp 13.500. Beras merek Mentik Wangi naik Rp 16.500 per kg dari harga normal Rp 15.000.
Menurut dia kenaikan harga bapok komoditi beras ini belum pasti penyebabnya. “Rata-rata naiknya Rp 1.500 per kg. Tidak tahu ya apa penyebab naiknya harga beras,” ucapnya.
Selaras beras dengan kemasan 5 kg juga mengalami kenaikan harga. Kini beras merek koi hijau dibanderol Rp 70 ribu, koi biru 72 ribu dan lahap lele Rp 74 ribu. Menurutnya harga normal dari koi hijau ini hanya sekitar Rp 66 ribu per 5 kg.
Baca Juga: Jelang Muludan, Harga Beras di Blitar Masih Mahal
“Sama, yang kemasan 5 kg harganya juga naik. Misalnya koi hijau itu sekarang Rp 70 ribu dari harga sebelumnya Rp 66 ribu,” paparnya.
Meski mengalami sejumlah kenaikan, stok beras di pasar tradisional Ngemplak ini terbilang aman. Adapun pasokannya juga termasuk stabil. “Ya karena kebutuhan pokok ya, jadi yang beli itu tetap ada. Kalau stoknya aman, pasokan juga aman,” tutupnya.
Sementara itu, konsumen, Sri Wahyuni mengatakan, kenaikan harga beras ini membuatnya harus mengakali kebutuhan dapur. Tentu kenaikan harga bapok ini membuat ibu rumah tangga satu ini harus mengurangi kebutuhan sayur dan lauk.
"Kalau mengurangi kebutuhan beras kan rasanya tidak mungkin. Ya akhirnya mengurangi beli sayur. Kalau bisa harga beras secepatnya bisa turun,” pungkasnya.
Editor : Dharaka R. Perdana