Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Tatik Mujiangsih Manfaatkan Tanaman Lompong jadi Keripik Kota Blitar, Dulu di Remehkan Sekarang Bisa Ekspor, Terungkap dapat Ide Sebelum Usaha

M. Subchan Abdullah • Rabu, 22 November 2023 | 19:45 WIB
INOVASI: Tatik Mujianingsih menunjukkan olahan keripik lompong yang dibuat bersama ibu-ibu KWT.
INOVASI: Tatik Mujianingsih menunjukkan olahan keripik lompong yang dibuat bersama ibu-ibu KWT.

BLITAR-Bagi masyarakat kampung, tanaman lompong memang sering diolah menjadi makanan termasuk di Kota Blitar. Biasanya dimasak sayur lodeh dan disajikan dengan nasi ampok. Lengkap dengan kulupan atau urap-urap berpadu lauk ikan asin.

Namun, di tangan ibu-ibu KWT RT 3/RW 7, Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, tanaman lompong berhasil diolah menjadi camilan yang gurih dalam bentuk keripik.

Tidak mudah untuk membuat resep yang pas. Sebab, meski mudah ditemui dan murah, tanaman lompong memiliki getah cukup banyak.

Jika salah dalam mencuci maupun pengolahan, maka akan menimbulkan rasa kurang sedap hingga gatal di mulut. Prosesnya yang cukup rumit dan lama membuat olahan keripik lompong masih jarang ditemui.

Produsen keripik lompong, Tatik Mujianingsih menceritakan, ide membuat keripik tersebut berawal dari keberadaan tanaman lompong yang sering dipandang sebelah mata.

Seperti untuk pakan ternak, hingga dimanfaatkan sebagai pupuk organik sehingga muncul keinginan agar tanaman tersebut bisa naik kelas. Artinya bisa dikonsumsi dalam jangka panjang.

Sementara itu, hewan ternak bisa diberikan pakan lain karena lompong masih memiliki nilai pangan yang bisa dikonsumsi manusia.

“Awalnya pada 2013, kami membentuk KWT yang dibina oleh Dinas Ketahanan Pangan Dan Perikanan (DKPP) Kota Blitar,"  katanya Selasa (21/11/2023).

"Masyarakat dituntut untuk membuat berbagai olahan makanan. Barulah pada 2015, muncul ide untuk membuat keripik lompong dengan berbagai pertimbangan tersebut,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Dalam prosesnya, Tatik mengaku membutuhkan berkali-kali percobaan. Bukan sekali dua kali, bahkan hampir setahun untuk menciptakan komposisi resep yang maknyus (enak) dan layak jual.

Pada 2016, Tatik memberanikan diri untuk mengurus perizinan dan mulai dipasarkan kepada masyarakat melalui bazar maupun event-event tertentu.

Awalnya, penjualan dilakukan secara offline. Dititipkan ke toko-toko, bazar, maupun dari mulut ke mulut. Kemudian, juga dijual secara online dengan bantuan sang anak.

Hingga akhirnya, Tatik mendapat fasilitas dari dinas terkait khusus usaha kecil menengah (UKM) yang belum memiliki legalitas, seperti sertifikat produksi pangan untuk industri rumah tangga (SPP IRT), nomor izin berusaha (NIB), hingga sertifikat halal.

Kini, dia masih dalam proses melengkapi perizinan untuk melakukan ekspor ke luar negeri.

Selain itu, juga uji nutrisi demi bersiap ekspor ke Thailand bersama puluhan produk UMK Kota Blitar yang lolos kurasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar.

“Kalau ekspor, kami anggap bonus. Itu artinya, produk kami diterima oleh masyarakat luar negeri. Juga merupakan efek dari perizinan maupun legalitas yang sudah dimiliki, hingga packaging yang terpenuhi. Meskipun tidak diekspor, produk kami bisa masuk minimarket atau supermarket mana pun,” imbuh perempuan 50 tahun ini.

Memang, diakui Tatik, sebelumnya sudah pernah ekspor ke luar negeri seperti Hong Kong dan Jepang. Namun tidak dikirim secara mandiri, tetapi dijual kembali oleh reseller maupun kerabat yang kebetulan bekerja di sana.

Sementara itu, pemesan di dalam negeri seperti Blitar, Ngawi, Sumatera, Kalimantan, hingga Bali, biasanya dilayani oleh reseller maupun relasi yang tinggal di daerah tersebut.

Tatik menjelaskan, pembuatan keripik lompong dilakukan secara bersama-sama. Ada 10-15 anggota yang aktif bekerja hingga sekarang.

Masing-masing anggota memiliki jobdesk atau tugasnya masing-masing. Sebab, proses pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak singkat atau sehari jadi.

Misalnya,ada tahap pencucian lompong yang harus bersih, tahap menggoreng paling tepat, atau ada yang memiliki teknik packaging atau pengemasan paling rapi.

“Jadi, setiap orang punya tugas sesuai dengan kelebihan masing-masing. Tetap satu produk, tapi dengan job yang berbeda,” jelasnya.

Sementara ini, dia masih memiliki satu varian rasa yakni orisinal. Namun, inovasi terus dilakukan agar olahan keripik lompong bervariasi dan semakin diminati.

Dia merencanakan untuk menambah varian rasa pedas manis, rumput laut, dan cumi bakar. Uji coba sudah dilakukan, tetapi masih membutuhkan penambahan komposisi agar menciptakan perpaduan rasa yang tepat.

Selama ini, dia mendapat tanaman lompong dari tetangga sekitar. Sebab, Kelurahan Klampok berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten. Dengan begitu, banyak lahan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk ditanami lompong. Hal itu memudahkanya untuk menyuplai bahan baku. (*/c1/sub)

Editor : Doni Setiawan
#Kota Blitar #keripik lompong #tanaman lompong