TULUNGAGUNG - Tingginya potensi perputaran rupiah di aktivitas car free day (CFD) dipelototi oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop-UM).
Hal ini membuat dinas berencana mengajukan gelaran serupa di wilayah luar pusat kota. Tujuannya, untuk pemerataan pertumbuhan ekonomi.
Kepala Dinkop-UM Tulungagung, Slamet Sunarto mengatakan, dinas baru melakukan perhitungan melalui metode sampling di gelaran CFD pada 21 Juli lalu.
Hasilnya, diketahui satu pelapak rata-rata mampu menghasilkan Rp 541 ribu dalam tiga jam gelaran CFD. Itu berarti, aktivitas CFD berpotensi menghasilkan sekitar Rp 233 juta dari sekitar 413 pelapak.
"Lalu, ada tambahan 150 pedagang lagi. Berarti, bisa diasumsikan CFD menghasilkan sekitar Rp 400 juta per tiga jam," akunya.
Mengingat tingginya potensi perputaran uang yang ada, dia menilai hal ini bisa dikembangkan. Selama ini, CFD baru digelar di pusat kota, tepatnya di area alun-alun dan sekitarnya.
Jelas aktivitas kemasyarakatan akan terkonsentrasi di sana. "CFD jadi semacam test case di dalam kota. Gini rasio kita cukup rendah. Yaitu, di angka 0,32. Sehingga, perlu pemerataan pertumbuhan ekonomi," bebernya.
Nah, konsentrasi perputaran ekonomi bisa dipecah jika pemkab juga membuka spot-spot CFD di beberapa wilayah lain.
Hal ini juga bertujuan agar pertumbuhan ekonomi juga terjadi secara merata di seluruh wilayah di Bumi Lawadan. Slamet menilai, opsi ini bisa saja diambil karena masyarakat Tulungagung terbilang konsumtif.
"Kemarin sudah studi referensi. Ada berbagai wilayah di Tulungagung yang berpotensi untuk dibuka CFD. Misalnya, di Kecamatan Bandung. Itu strategi untuk memecah konsentrasi. Sehingga, wilayah lain juga mengalami pertumbuhan ekonomi," ujar Slamet.
Selain itu, wilayah Ngunut juga dinilai potensi serupa. Sehingga, tugas pemkab selanjutnya adalah menyiapkan berbagai kebutuhan teknis-nonteknis.
Mulai dari survei lokasi, studi kelayakan, kajian potensi perputaran ekonomi, hingga penyediaan sarana fisik.
"Konsekuensinya, pemkab harus siapkan tenda dan keperluan lain. Itu bisa di-planning ke depan," ujarnya.
Wacana bisa ini diperdengarkan ke OPD pengampu aktivitas CFD begitu seluruh pihak sepakat dengan berbagai konsekuensi yang ada.
Tapi, dia memastikan bahwa aktivitas CFD merupakan magnet bagi masyarakat untuk berbaur dalam kegiatan keolahragaan, budaya, hingga pendidikan.
Sehingga, besar kemungkinan sektor ekonomi juga akan ikut terungkit jika difasilitasi secara baik.
"Yang penting CFD ini harus bisa menunjukkan hasilnya dulu. Kalau sudah terbukti dan bergerak, OPD lain tentu juga akan mulai terbuka untuk bicara pengembangan," ucap Slamet.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra