Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harapan Pengusaha Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional, Prayogi: Ekonomi dan Budaya Harus Selaras

Aditya Yuda Setya Putra • Kamis, 3 Oktober 2024 | 01:08 WIB

TELATEN: Seorang model, Seli Indrawati, sedang membatik motif Lurik Bhumi Ngrowo di galeri batik Satrio Manah, Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru.
TELATEN: Seorang model, Seli Indrawati, sedang membatik motif Lurik Bhumi Ngrowo di galeri batik Satrio Manah, Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru.

TULUNGAGUNG – Harapan besar disampaikan para produsen batik dan wastra Tulungagung di Hari Peringatan Batik Nasional 2024. Para pengambil kebijakan diminta mampu menghadirkan program yang bertujuan untuk mempertahankan kekayaan asli Bumi Lawadan.

Ketua Asosiasi Batik dan Wastra Tulungagung, Prayogi Science Gama Wijaya mengungkapkan, ada beberapa pelaku industri batik yang ditunjuk pemkab menjadi penyedia motof batik Lurik Bhumi Ngrowo. Menurut dia, hal ini jadi salah satu program yang baik untuk memperkaya khazanah wastra Tulungagung.

Baca Juga: PLN Nusantara Power UP Brantas Siapkan Batik Seng Naik Kelas

“Saya jadi salah satu UMKM penyedia batik Lurik Bhumi Ngrowo untuk dekranasda. Sekarang Tulungagung sudah punya motif batik khas yang diakui. Kalau sebelumnya ada banyak motif khas, tapi belum diakui. Alhamdulillah, saya dan teman-teman merasa bersyukur,” akunya.

Owner Batik Satrio Manah ini menerangkan, pemilihan motif batik khas Tulungagung tidak dilakukan secara sembarang. Namun dilakukan kajian panjang sebelum dipilih motif batik Lurik Bhumi Ngrowo. Itu berkaitan dengan sejarah panjang wilayah Tulungagung pada masa kerajaan lampau.

“Nama itu dari latar belakang Tulungagung yang dulunya Kadipaten Ngrowo. Ngrowo itu berarti rawa. Itu sebabnya, ada lurik berkelok seperti aliran air. Kemudian, kenapa ada sembilan jajar (lurik, Red)? Itu menunjukkan sembilan daerah atau nama desa yang ada di Prasasti Lawadan,” kata laki-laki yang karib disapa Yogi ini.

Mengingat dalamnya makna batik bagi pelaku UMKM dan masyarakat Tulungagung, dia berharap para pengambil kebijakan terus memberi wadah bagi para pegiat wastra dalam upaya meningkatkan produktivitas. Dia juga meminta para calon pimpinan daerah nanti agar memberi perhatian khusus ke pelaku UMKM.

Baca Juga: 4 Fakta Mengapa Wanita Dandannya itu Lama

Sebab, masyarakat Tulungagung harus bangga dengan apa yang dimiliki, termasuk motif batik khas yang dipatenkan dan mulai diproduksi secara masa. Terlebih, ada kebijakan khusus dari pemkab untuk mewajibkan jajaran ASN mengenakan motif batik Lurik Bhumi Ngrowo mulai bulan ini.

Yaitu, setiap Kamis di pekan pertama setiap bulan. Ini tertuang dalam Perbup Nomor 17 Tahun 2024. “Saya harap antara ekonomi dan budaya harus selaras. Kita dulu punya keroncong, tapi karena tidak dipakai lagi jadi punah. Nah, sekarang batik masih ada. Tapi kalau tidak dilestarikan, lama-lama juga akan punah. Harapannya, batik ini diproduksi, dipakai, dan dibanggakan orang Tulungagung,” ujarnya. ***

Editor : Dharaka R. Perdana
#batik lurik tulungagung #lurik bhumi ngrowo #Hari Batik Nasional 2024 #batik #Batik Lurik #hari batik nasional