TULUNGAGUNG – Matinya jalur kereta api Tulungagung-Trenggalek tidak lepas dari krisis malaise yang melanda Indonesia pada 1930 silam.
Hal ini memicu minimnya okupansi atau tingkat keterisian kereta api karena ekonomi dunia hancur. Belum lagi kondisi jalur Tulungagung-Trenggalek yang juga mengalami kerusakan dan ada yang dicabut.
Baca Juga: Jalur Mati Tulungagung-Campurdarat Sempat Kembali Aktif, Ke Mana Rel dan Railbed-nya Sekarang?
Tahukah anda mengenai krisis malaise? Dilansir esi.kemdikbud.go.id malaise atau zaman Malaise adalah penamaan lain terhadap depresi ekonomi yang mulai melanda Indonesia sejak 1929 hingga hampir sepanjang dekade 1930-an.
Istilah ini diperkenalkan pertama kali di Shinpo (27 Maret 1930). Dalam artikel di surat kabar itu ditulis, bahwa Malaise yang mengamuk di mana-mana telah bikin sengsara dan kelaparan.
Karena berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat dan krisis ekonomi. Bahkan pernah dipelesetkan orang Indonesia zaman meleset.
Depresi ekonomi yang disebut juga sebagai the great depression dimulai dengan ekonomi yang melanda Amerika Serikat.
Krisis ekonomi ini dimulai, ketika spekulasi pialang dalam perdagangan saham di bursa Wall Street Amerika Serikat yang menyebabkan jatuhnya harga.
Kejatuhan perekenomian Amerika Serikat itu mempengaruhi perkenomian dunia saham.
Krisis ekonomi dunia begitu keras menghantam Hindia Belanda, karena ekonomi Hindia-Belanda bergantung kepada ekspor, khususnya ke pasar Eropa.
Sektor ekonomi andalan Hindia Belanda adalah perkebunan. Kegiatan bisnis sektor ini sangat bergantung pada pasar Eropa khususnya dan dunia umumnya.
Ketika pasar Eropa (dunia) merosot, maka industri di Hindia Belanda juga turut merosot. Harga gula jatuh sampai 22 persen daripada harga 1925, getah sampai 10 persen, kopra sampai 18 persen, teh 50 persen, dan kopi 27 persen.
Rata-rata harga barang penghasilan tanah-tanah jajahan jatuh di pasar Eropa sampai lebih kurang 31 persen. Kemerosotan harga ini setara dengan merosotnya nilai dan volume ekspor-impor Hindia Belanda.
Baca Juga: Ini Cerita Jalur Lori PG Modjopanggoong Tulungagung, Salah Satunya Mengarah ke Stasiun Tulungagung
Sebagaimana dicatat Furnival,indeks nilai dan jumlah ekspor Hindia Belanda pada1928 adalah 100: 100, maka 1929 indeksnya menjadi 91: 105, 1930 menjadi 76: 103, 1931 menjadi 61: 84, 1932 menjadi 37: 89.
Sedangkan indeks nilai dan jumlah impor Hindia Belanda pada kurun waktu yang sama adalah 1985 nilainya 100: 100, maka 1929 menjadi 109: 119, 1930 menjadi 86: 100, 1931 menjadi 57: 78, 1932 menjadi 41: 61. ***
Editor : Dharaka R. Perdana