Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gegara PMK, Harga Hewan Ternak di Tulungagung Merosot Tajam, Berikut Rinciannya

Aditya Yuda Setya Putra • Sabtu, 11 Januari 2025 | 01:10 WIB

Sugianto, peternak sapi asal Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung sedang memberi pakan hewan ternaknya. (YOGA DD/RADAR TULUNGAGUNG)
Sugianto, peternak sapi asal Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung sedang memberi pakan hewan ternaknya. (YOGA DD/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) memukul sektor peternakan sapi dan kambing di Tulungagung.

Sebab, jenis penyakit menular ini membuat harga sapi-kambing merosot tajam di pasaran Tulungagung.

Baca Juga: Lupakan 2024, Ini Target DPC PDIP Tulungagung di 2029

Sugianto, salah seorang peternak sapi di Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung mengungkapkan, bahwa PMK menyebabkan produksi susu sapi menurun.

Bukan hanya soal nominal atau harga, kualitas susu dari sapi yang terjangkit PMK juga turut merosot.

“Kalau terkena sapi PMK itu produksi susu menurun. Kalaupun dijual, susunya ndak laku. Kedua, kalau dijual, harganya menurun drastis,” akunya.

Baca Juga: UPDATE: Segini Harga Bapok di Pasar Ngemplak Tulungagung, Harga Cabai Terus Meroket

Sampai saat ini, dia memang belum menemukan indikasi adanya penularan PMK pada populasi sapi di kandang miliknya.

Sebab, penyemprotan disinfektan secara rutin digelar oleh dinas terkait sejak beberapa waktu lalu.

Hal ini jadi salah satu upaya untuk mencegah penularan.

Baca Juga: Gen Z di Tulungagung Pilih Pekerjaan Freelance Dibanding Pekerjaan Konvensional

“Sekarang tidak ada (sapi terinfeksi PMK, Red). Mudah-mudahan tidak sampai sini. Sebetulnya kalau dari dinas sudah mencegah. Terutama untuk pembersihan kandang dikasih semprotan,” ucap laki-laki yang mengaku beternak sapi sejak 1990 ini.

Harga sapi, lanjut Sugianto, terus mengalami penurunan sejak pemberitaan PMK mulai menyebar di masyarakat.

Dia mengungkapkan, pedhet alias sapi anakan bisa dihargai sekitar Rp 4 juta hingga 5 juta per ekor dalam kondisi normal.

Kini, harga anak sapi hanya berkisar Rp 1,5 hingga Rp 2 juta per ekor.

“Kalau di desa kan biasanya sapi penjantan harganya sampai Rp 25 juta per ekor, bahkan lebih. Tapi, adanya PMK (saat ini, Red) kadang Rp 10 juta-Rp 15 juta per ekor,” tegasnya.

Laki-laki 55 tahun ini menambahkan, para peternak biasa memberi sapi dengan ramuan khusus untuk meningkatkan daya tahan dari penyakit.

Baca Juga: Tak Sekadar Jaga Kebersihan, Begini Cara Desa Kamulan Kecamatan Durenan Raih Hasil Manis dalam Lomba Adipura Desa

Upaya lain yang harus dilakukan untuk mencegah PMK  adalah dengan memperhatikan kebersihan kandang, menjaga higienitas makanan, dan rutin memberikan vaksin pada hewan ternak.

“Sementara ini (vaksin, Red) ndak rutin. Tapi, dengan adanya PMK, insya Allah nanti akan dirutinkan. Biar kesehatan sapi membaik,” terangnya. ***

Editor : Dharaka R. Perdana
#Merosot #ternak #penyakit mulut dan kuku #pmk #harga hewan ternak #ternak tulungagung