RADAR TULUGAGUNG - Permintaan pasar yang minim disinyalir menjadi merosotnya harga telur puyuh asal Tulungagung.
Alhasil, stok di pasaran Tulungagung masih melimpah dan belum terserap ke tangan konsumen.
Kabid Prasarana dan Usaha Peternakan Disnakeswan Tulungagung Okky Anjas Asmoro menjelaskan bahwa harga telur puyuh yang kini turun disebabkan kebutuhan masyarakat akan komoditas tersebut semakin sedikit.
Baca Juga: Peternak di Tulungagung Menjerit, Harga Telur Puyuh Merosot Tajam
"Kalau dari pemantauan kami, penyebab turunnya harga telur puyuh murni karena permintaan pasar. Karena kan telur puyuh kebanyakan dikonsumsi untuk makanan tambahan atau jajanan, sedangkan saat ini perekonomian sedang lesu. Hal tersebut mengharuskan masyarakat lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan pokoknya," ungkapnya.
Okky juga menjelaskan bahwa sebenarnya potensi peternakan puyuh di Tulungagung sangat baik.
Baca Juga: Resmi, Harga BBM Pertamina Naik Per 1 Februari 2025, Pertamax Dibanderol Rp12.900 Per Liter
Terdapat sekitar 1,3 juta erkor burung puyuh yang tersebar di beberapa peternak di Kota Marmer ini.
Namun untuk permintaan pasar memang tidak bisa diprediksi. Apalagi kaitanya dengan kondisi perekonomian masyarakat.
"Kami memastikan kualitas dan kuantitas produksi telur puyuh di peternakan selalu baik. Namun, permintaan pasar tidak bisa dikendalikan. Itu yang memengaruhi harga. Harapan kami, semoga harga telur puyuh kembali stabil. Sehingga peternak bisa mendapat manfaatnya. Dan masyarakat juga mendapat harga yang sesuai," jelasnya.
Baca Juga: Pembebasan Lahan Terkatung-katung, Warga Terdampak Tol Tulungagung-Kediri Masih Menunggu
"Kami juga prihatin atas kondisi pasar telur puyuh. Tetapi bukan domain kami untuk mendongkrak permintaan pasar terhadap telur puyuh," imbuhnya.
Sementara itu, Ahmad Zuhri, salah satu peternak puyuh di wilayah Kecamatan Kedungwaru, mengaku bahwa saat ini peternak hanya bergerak sendiri hadapi keterpurukan harga.
Bahkan belum terlihat adanya campur tangan pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini.
"Kami benar-benar mandiri dalam menghadapi keterpurukan ini," katanya.
Dia pun tidak menampik jika penyebab utama tidak stabilnya harga telur puyuh diduga karena turunnya permintaan pasar. Terutama permintaan dari pasar luar Jawa.
“Permintaan dari luar Jawa tersebut benar-benar berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.
Baca Juga: Pemkab Tulungagung Peringati Isra Mikraj, Sekda: Teladani, Ambil Hikmah, dan Bermanfaat untuk Umat
Seperti diberitakan kemarin, harga komoditas telur puyuh sedang mengalami penuruan sejak beberapa bulan terakhir.
Walaupun sempat naik di beberapa hari, tapi lagi-lagi kini memperlihatkan tren yang semakin turun.
Penyebab utamanya adalah permintaan pasar yang semakin menurun. Para peternak puyuh hanya bisa berharap harga telur puyuh kembali stabil.
Harga telur puyu sempat menyentuh Rp 28.500 per kilogram, namun turun lagi di Rp 27.000 per kilogram. Bahkan sempat menyentuh Rp 25.000 per kilogram. ****
Editor : Dharaka R. Perdana