Dr. Nuning Setyowati, S.P.,M.Sc, Fakultas Pertanian/PSP-KUMKM LPPM UNS
Perubahan lingkungan dan tingkat persaingan bisnis saat ini semakin ketat. Pelaku bisnis dihadapkan pada tantangan besar untuk mampu bertahan dan meningkatkan daya saing. Berbagai perusahaan mengerahkan sumber daya dan kreatifitasnya untuk meningkatkan daya saing dan memenuhi kebutuhan konsumen. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai pelaku bisnis dominan di Indonesia juga menghadapi tantangan yang sama. Bahkan, tantangan ini semakin diperberat dengan keterbatasan sumber daya, literasi bisnis dan karakter personal pengusaha sehingga mengancam kebelanjutan bisnis. Strategi inovasi menjadi solusi krusial untuk beradaptasi dengan turbulensi lingkungan ekonomi dan bisnis. Terlebih, pada pasca pandemi semua pelaku bisnis dituntut untuk segera menyusun strategi adaptif untuk menata kembali operasional bisnis, merancang model bisnis dan inovasi yang lebih ramping dan hemat.
Frugal Innovation (FI) atau inovasi hemat merupakan konsep inovasi yang berorientasi pada minimisasi biaya, fokus pada fungsi utama produk dan mampu mendorong peningkatan kinerja bisnis. FI memberikan banyak manfaat bagi UMKM antara lain menghasilkan inovasi produk, harga yang terjangkau, potensi pasar baru dan keberlanjutan bisnis. Inovasi ini tentunya sejalan dengan pola konsumsi masyarakat yang cenderung menuju pada produk frugal sebagai adaptasi goncangan ekonomi sebagai dampak COVID-19. UMKM harus mampu mengidentifikasi proses bisnis yang dapat diefisiensikan melalui FI. Inovasi ini mengedepankan kesederhanaan, keterjangkauan, kualitas dan berorientasi pada keberlanjutan bisnis. FI dirancang dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Penerapan FI ditingkat UMKM pangan dapat dijumpai dalam bentuk adopsi e-commerce untuk memangkas biaya pemasaran secara signifikan, kolaborasi dua atau lebih brand produk yang saling melengkapi seperti coffee shop dan UMKM kue (donat ataupun cookies). Secara khusus, bisnis kopi yang semakin potensial kini diramaikan dengan munculnya banyak kopi mobile berbagai merk. Meski dijual menggunakan sepeda motor/gerobak, namun dengan fokus pada produk kopi kekinian dan harga terjangkau nyatanya sangat diminati masyarakat khususnya basic pyramid atau small customer. FI berkontribusi pada pencapaian SDGs diantaranya sebagai penyedia pangan dengan akses mudah dan harga yang terjangkau, mendorong perkembangan inovasi dalam praktik bisnis, dan pemberdayaan perempuan seiring berkembangnya bisnis UMKM berbasis frugal innovation.
Adopsi Frugal Innovation
Adopsi FI oleh UMKM tentu saja membutuhkan proses yang tidak instan dan mudah. Namun, banyak faktor yang bisa menjadi jalan untuk memotivasi dan mendiseminasikan adopsi FI. Compatibility, inovasi hemat yang akan diterapkan tentunya harus selaras dengan nilai dan prinsip bisnis UMKM. Inovasi yang sesuai dengan nilai bisnis akan lebih mudah diterima dan diimplementasikan. Sustainable Leadership, karakter kepemimpinan dari pengusaha UMKM juga akan mempengaruhi adopsi FI. Kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan dan pertumbuhan bisnis akan mendorong penerapan inovasi hemat. Adopsi FI membutuhkan keberanian, integritas dan komitmen kuat dari pengusaha UMKM. Out of The Box Thinking, hanya UMKM yang berani dan optimis memilih cara “berbeda” yang akan sukses dengan frugal innovation. Tidak semua UMKM berani mengambil langkah berbeda dalam memilih solusi bisnis. Cara berpikir yang berbeda akan menghasilkan inovasi yang unik dan memiliki keunggulan kompetitif. Low cost manufacturing, inovasi hemat haruslah menghasilkan biaya produksi yang rendah atau efisien. Efisiensi biaya ini akan mengantar UMKM pada pencapaian kinerja bisnis yang diharapkan. Source of knowledge, UMKM harus membuka diri dengan berbagai pengetahuan khususnya terkait inovasi. Pengayaan literasi inovasi bisnis akan menjadi referensi kuat bagi UMKM dalam memutuskan adopsi frugal innovation. UMKM harus memperluas koneksi dan jejaring bisnis untuk mendapatkan pengetahuan yang terpercaya dan handal sebagai referensi pengambilan keputusan dalam bisnis. Digital platform, ketersediaan berbagai media digital menjadi sarana belajar dan berbagi pengetahuan dengan pihak eksternal (sesama pengusaha UMKM, pemerintah, investor, suplier, distributor dan lembaga penunjang bisnis lainnya). UMKM harus semakin aware dan terbuka dengan perkembangan teknologi digital untuk mempermudah dan mempercepat akses pengetahuan dan inovasi.
Strategi Keberlanjutan Bisnis
Frugal innovation tidak hanya penting bagi UMKM, namun menjadi wawasan yang mendasari pengambilan kebijakan bagi pemerintah, organisasi peduli UMKM (perguruan tinggi, LSM, investor dan lembaga pendukung lainnya). Strategi mendorong keberlanjutan bisnis UMKM melalui frugal innovation menuntut peran aktif semua pihak dan membutuhkan berbagai upaya efektif: 1) penguatan literasi pengetahuan dan inovasi secara umum dan frugal innovation pada khususnya; 2) aktivasi peran komunitas bisnis sebagai media belajar dan saling memotivasi diantara pengusaha UMKM untuk mengadopsi FI; 3) dukungan pemerintah melalui fasilitasi pembiayaan yang terjangkau untuk adopsi FI; 4) peran media khususnya media digital sebagai salah satu sumber knowledge yang terjangkau, terpercaya, dan up to date tentang FI bagi UMKM; dan 5) penguatan karakter kewirausahaan bagi pengusaha UMKM untuk mendukung kesuksesan adopsi FI. Penekanan karakter pengusaha yang transformatif dan kuat menjadi modal organisasi untuk mengelola sumber daya secara optimal, menjadi inisiator bagi karyawan dan berorientasi pada keberlanjutan bisnis.
Editor : Firman Aji Saputra