RADAR TULUNGAGUNG — Desa Bungur, yang secara administratif berada di Kecamatan Karangrejo,Tulungagung, kian menunjukkan geliatnya sebagai salah satu pusat industri kreatif di daerah.
Salah satu sektor yang tumbuh signifikan di desa yang berada di jalur alternatif Tulungagung - Kediri ini adalah jasa pengelasan besi dan baja.
Baca Juga: UMKM Olahan Ikan Asal Tulungagung Ini Bertahan di Tengah Banjir Produk Pabrikan, Ada yang Kenal?
Bahkan kini menjadi ladang penghasilan sekaligus lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.
Dalam beberapa tahun terakhir, modernisasi di bidang properti turut mendorong kebutuhan akan produk berbahan besi.
Baca Juga: Industri Kerupuk Rambak di Kelurahan Sembung Tulungagung Terus Bertahan di Tengah Persaingan Pasar
Dari pagar rumah, teralis, kanopi, hingga perabotan rumah tangga berbasis desain industrial—semua menjadi komoditas yang digemari masyarakat urban dan pedesaan.
Tren ini ditangkap secara cerdas oleh para pelaku usaha di Desa Bungur yang mayoritas merupakan pengrajin las berpengalaman.
Baca Juga: Proses Produksi Manual, Ternyata Ini Resep Emping Melinjo dari Desa di Tulungagung Masih Eksis
“Permintaan meningkat hampir setiap bulan, terutama saat musim pembangunan rumah atau renovasi. Kami harus terus berinovasi agar bisa memenuhi kebutuhan pasar,” ujar Sarwono, salah satu pengrajin las senior yang telah menjalankan usahanya sejak 2007.
Bermodalkan pengalaman, keahlian teknis, serta kreativitas, para pengrajin di Bungur mampu mengubah besi menjadi produk bernilai estetika tinggi.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Sate Kambing Legendaris di Tulungagung, Nomor 3 di Pinggiran Kota
Tidak sedikit hasil karya mereka yang kini diminati hingga ke luar wilayah Tulungagung, seperti Blitar, Kediri, bahkan Surabaya.
Tidak hanya menciptakan produk berkualitas, industri las di Desa Bungur juga berdampak besar terhadap perekonomian lokal.
Banyak warga yang sebelumnya menganggur, kini terserap sebagai tenaga kerja di bengkel las maupun bagian produksi.
Bahkan, sebagian pemuda memilih tidak merantau ke kota, karena sudah cukup sejahtera bekerja di kampung halaman.
Baca Juga: Lagi di Tulungagung? 5 Menu Sarapan Ini Wajib Kamu Coba, Nomor 2 Bikin Kangen Rumah!
“Setiap bengkel rata-rata butuh 3 sampai 5 orang tenaga kerja. Ini sangat membantu mengurangi pengangguran dan menambah penghasilan keluarga,” jelas Sutarto, kepala dusun setempat.
Lebih dari sekadar usaha, para pengrajin kini juga mulai membentuk kelompok kerja atau komunitas bengkel las.
Baca Juga: Resep Sambal Pecel Khas Tulungagung, Cocok untuk Ide Jualan hingga Menu Harian
Hal ini bertujuan memperkuat kerja sama, berbagi informasi harga bahan baku, serta mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif, termasuk melalui media sosial.
Meski peluangnya besar, para pengrajin masih menghadapi sejumlah tantangan. Harga bahan baku yang fluktuatif, keterbatasan peralatan modern, hingga akses permodalan menjadi kendala yang kerap dihadapi.
Baca Juga: Gandeng BPOM Surabaya, Heru Tjahjono Ajak UMKM Tulungagung Peduli Pangan Aman dan Bermutu
Para pelaku usaha berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk pelatihan teknis, akses pasar, maupun dukungan modal usaha.
Dengan pendampingan yang tepat, industri las besi di Desa Bungur diyakini mampu berkembang menjadi ikon ekonomi kreatif perdesaan.
Desa Bungur telah membuktikan bahwa keterampilan, ketekunan, dan inovasi lokal mampu menjawab tantangan zaman.
Di balik dentuman suara mesin las, ada harapan dan masa depan yang sedang ditempa oleh tangan-tangan terampil putra daerah. ****
Editor : Dharaka R. Perdana