RADAR TULUNGAGUNG — Di tengah gempuran camilan modern, produk jajanan tradisional seperti rengginang tetap bertahan sebagai pilihan masyarakat, khususnya di Tulungagung.
Salah satu kawasan yang masih konsisten memproduksi rengginang adalah Desa Suruhan Lor, Kecamatan Bandung, Tulungagung.
Baca Juga: Kerupuk Gaplek Pakisrejo Tulungagung Tetap Tumbuh, Tapi Terkendala Branding
Namun di balik keunikan rasa dan warna khasnya, industri rumahan rengginang di desa yang terletak di Tulungagung barat ini menghadapi sejumlah tantangan yang patut menjadi perhatian.
Rengginang dari Suruhan Lor dikenal memiliki warna merah kecokelatan yang tak lazim dibanding rengginang pada umumnya.
Baca Juga: Proses Produksi Manual, Ternyata Ini Resep Emping Melinjo dari Desa di Tulungagung Masih Eksis
Warna tersebut berasal dari racikan bumbu tradisional yang diturunkan secara turun-temurun. Selain tampil beda, rasa gurih yang melekat membuat produk ini mudah dikenali oleh konsumen.
Meski demikian, keunikan ini belum sepenuhnya berdampak pada penguatan posisi produk di pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Industri Kerupuk Rambak di Kelurahan Sembung Tulungagung Terus Bertahan di Tengah Persaingan Pasar
Skala produksi yang masih terbatas, kendala peralatan, dan akses pemasaran yang belum optimal menjadi persoalan klasik yang belum terurai tuntas.
Mayoritas pelaku usaha masih mengandalkan proses manual, mulai dari pengeringan hingga pengemasan, sehingga kapasitas produksi tak bisa ditingkatkan secara signifikan.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Sate Kambing Legendaris di Tulungagung, Nomor 3 di Pinggiran Kota
Di sisi lain, regenerasi pengusaha rengginang juga mulai menjadi sorotan. "Anak-anak muda banyak yang memilih kerja ke kota atau merantau. Jarang yang mau meneruskan usaha orang tua," ujar salah satu pelaku usaha yang enggan disebutkan namanya.
Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa keberlangsungan industri rumahan ini akan tergantung pada seberapa besar perhatian dan dukungan yang diberikan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Upaya pendampingan dari pemerintah daerah sebenarnya sudah dilakukan dalam bentuk pelatihan dan fasilitasi perizinan.
Namun, masih banyak pelaku industri kecil di Suruhan Lor yang belum bisa mengakses pasar digital atau memperluas distribusi ke luar daerah secara konsisten.
Baca Juga: Hasil Penelitian Bisa untuk Mengembangkan UMKM? Peneliti BRIN: Ada Dua Skema yang Ditawarkan
Kondisi ini menggambarkan dilema khas industri rumahan tradisional di daerah. Di satu sisi, ada potensi nilai budaya dan ekonomi yang tinggi.
Namun di sisi lain, tanpa sistem yang mendukung, produk-produk lokal seperti rengginang Suruhan Lor rentan terpinggirkan dalam dinamika pasar modern. ****
Editor : Dharaka R. Perdana