RADAR TULUNGAGUNG – Di tengah membanjirnya produk makanan pabrikan yang menguasai pasar ritel, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), apa yang dilakukan warga Desa Karangrejo, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung ini patut diacungi jempol.
Dengan produk olahan ikan yang khas dan beragam, warga desa yang tak jauh dari pusat kota Tulungagung ini membuktikan bahwa produk lokal bisa tetap bertahan dan bahkan berkembang dalam pusaran persaingan yang kian kompetitif.
Baca Juga: Proses Produksi Manual, Ternyata Ini Resep Emping Melinjo dari Desa di Tulungagung Masih Eksis
Didirikan sejak 2011 oleh Masruroh dan dikelola oleh 12 perempuan desa, produk yang dinamai Milost memproduksi berbagai makanan berbahan dasar ikan lokal seperti lele, patin, dan tuna.
Inovasi produknya mencakup abon ikan, nugget, bakso, keripik kulit, hingga aneka roti dan makanan tinggi kalsium yang menyasar konsumen keluarga dan anak-anak.
Baca Juga: Industri Kerupuk Rambak di Kelurahan Sembung Tulungagung Terus Bertahan di Tengah Persaingan Pasar
“Kami sadar, persaingan makin ketat. Tapi kami tidak bisa menurunkan kualitas. Justru di situ nilai jual kami,” kata Masruroh, Ketua Kelompok Sumber Anugrah.
Saat ini, mereka telah memasarkan produknya hingga ke wilayah Blitar dan Kediri. Namun, tantangan yang mereka hadapi bukan sekadar soal pemasaran.
Baca Juga: Kerupuk Gaplek Pakisrejo Tulungagung Tetap Tumbuh, Tapi Terkendala Branding
Sertifikasi halal, perizinan BPOM, dan digitalisasi usaha menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya rampung.
Menurut pengamat UMKM dari Universitas Tulungagung, Fitri Wulandari, UMKM yang digerakkan warga Tulungagung harus didampingi secara serius agar tidak tenggelam di tengah maraknya produk bermodal besar.
Baca Juga: Rengginang Suruhan Lor Hanya Berkutat di Lokal Tulungagung, Ini Kendala yang Mereka Hadapi
“Mereka butuh ekosistem. Tidak cukup hanya pelatihan teknis, tapi juga dukungan perizinan, pemasaran digital, hingga perlindungan terhadap resep lokal yang unik,” jelasnya.
Sementara itu, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tulungagung menyatakan telah memfasilitasi beberapa UMKM dalam proses pengajuan sertifikasi halal dan NIB (Nomor Induk Berusaha).
Mereka pun menjajaki kolaborasi dengan komunitas kuliner lokal dan mengikuti pelatihan pemasaran digital agar mampu menjangkau pasar e-commerce.
“Kami berharap bisa masuk Shopee atau Tokopedia. Pelan-pelan, yang penting jalan terus,” tutup Masruroh optimistis.****
Editor : Dharaka R. Perdana