RADAR TULUNGAGUNG – Tulungagung yang terletak di selatan Provinsi Jawa Timur ini selama bertahun-tahun dikenal luas sebagai penghasil marmer berkualitas tinggi.
Namun kini, narasi keberhasilan Tulungagung tak berhenti pada tambang dan pahatan batu.
Tulungagung tengah menapaki babak baru sebagai pusat pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dinamis dan adaptif.
Pertumbuhan UMKM di Tulungagung mencerminkan perubahan struktur ekonomi daerah.
Tak sekadar bertahan dalam tekanan ekonomi global, sektor ini menjelma menjadi tulang punggung penggerak roda ekonomi lokal.
Ragam sektor seperti kerajinan tangan, kuliner, dan tekstil berkembang pesat, menyuguhkan identitas lokal dalam balutan inovasi kekinian.
Baca Juga: Gandeng BPOM Surabaya, Heru Tjahjono Ajak UMKM Tulungagung Peduli Pangan Aman dan Bermutu
Di antara berbagai jenis UMKM yang berkembang, kerajinan marmer tetap menjadi ikon yang mengakar kuat di Tulungagung.
Kualitas batu alam dari daerah ini tidak hanya diakui secara nasional, namun telah menembus pasar internasional.
Patung, meja, lantai, hingga ornamen dekoratif marmer buatan tangan pengrajin lokal menghiasi hunian dan ruang publik di berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Australia.
Salah satu desa yang menjadi nadi industri ini adalah Desa/Kecamatan Campurdarat, Tulungagung.
Desa ini dikenal sebagai wilayah dengan cadangan marmer yang melimpah dan kualitas batu yang baik untuk keperluan konstruksi maupun seni ukir.
Pengolahan marmer di Desa Campurdarat tidak lepas dari sentuhan budaya lokal, meskipun sebagian proses produksi telah dibantu oleh teknologi modern guna meningkatkan efisiensi dan presisi.
Julukan Kota Marmer bukan tanpa dasar. Selain memiliki tambang batu marmer yang luas, Tulungagung juga dikenal sebagai pusat kerajinan marmer terbesar di Indonesia.
Pusat-pusat industri pengolahan juga menjalar ke kecamatan sekitar seperti Besuki, Pakel, dan Bandung, membuka peluang ekonomi baru dan memperkuat jaringan usaha antarwilayah.
Masifnya pengembangan industri marmer turut membentuk ekosistem usaha yang lebih luas.
Baca Juga: Mengenal Wahyudi Setiana, Pengusaha Kerajinan Kulit Tulungagung yang Tembus Pasar Internasional
Munculnya pelaku-pelaku UMKM baru di berbagai sektor turut mencerminkan bagaimana warisan sumber daya alam dapat menjadi pengungkit kemajuan sosial ekonomi masyarakat.
Dengan strategi pengembangan yang inklusif serta keterlibatan komunitas lokal, Tulungagung memberi contoh bagaimana daerah dapat menjaga identitas sambil menyambut perubahan.
Di tengah pusaran globalisasi, marmer Tulungagung tetap terpatri sebagai simbol ketekunan dan kreasi tangan lokal, sekaligus menandai geliat baru dalam peta ekonomi kreatif nasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana