RADAR TULUNGAGUNG - Produk unggulan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung, yang hingga kini tetap eksis adalah tiwul instan.
Makanan berbahan dasar ketela pohon ini tidak hanya menjadi ciri khas lokal, tetapi juga merepresentasikan sejarah panjang masyarakat Desa Demuk dalam wajah Kabupaten Tulungagung.
Baca Juga: Rengginang Suruhan Lor Hanya Berkutat di Lokal Tulungagung, Ini Kendala yang Mereka Hadapi
Sekretaris Desa Demuk, Sujianto menjelaskan bahwa tiwul instan merupakan bentuk modernisasi dari makanan pokok masyarakat Demuk di masa lampau.
“Tiwul itu makanan pokok warga sejak masa penjajahan. Bahkan sampai tahun 80-an hingga 90-an masih banyak yang mengonsumsinya karena faktor ekonomi,” ujarnya saat ditemui di Kantor Desa Demuk pada Senin (21/4/22025) lalu.
Baca Juga: Kerupuk Gaplek Pakisrejo Tulungagung Tetap Tumbuh, Tapi Terkendala Branding
Tiwul Instan diproduksi dari ketela pohon yang dikeringkan, ditumbuk halus, lalu dimasak dan dikeringkan kembali agar praktis dalam penyajian. Ketika akan disajikan, tiwul cukup dikukus kembali.
“Tiwul instan ini diciptakan agar bisa dikonsumsi oleh masyarakat yang tidak terbiasa atau tidak bisa mengolah tiwul secara tradisional,” tambahnya.
Baca Juga: Mengandalkan Sinar Matahari, Produksi Kerupuk Udang di Tulungagung Terkendala Saat Musim Hujan
Menurut Sujianto, masyarakat Desa Demuk merupakan pelopor pembuatan tiwul instan di wilayah Kecamatan Pucanglaban.
“Tiwul sebenarnya dikenal di daerah-daerah lain juga, namun yang pertama membuat versi instannya adalah warga kami sendiri,” jelasnya.
Baca Juga: Intip Pembuatan Tempe di Desa Tiudan Tulungagung, Proses Pembuatannya Tidak Sesederhana Rasanya
Saat ini, terdapat dua titik produksi utama di Dusun Gajahoyo, tepatnya di RT 4 RW 1, dekat Pondok Haji Makmun.
Salah satu tokoh pengrajin yang dikenal adalah Siti Muniroh, yang mempekerjakan lebih dari lima orang, bahkan bisa mencapai sepuluh orang pada musim produksi tertentu.
Produk tiwul instan dari Demuk bahkan telah dipasarkan hingga ke Kalimantan.
Pemerintah Desa Demuk turut berperan aktif dalam menjaga eksistensi produk unggulan ini melalui fasilitasi bantuan alat dari Dinas Pertanian dan promosi di berbagai pameran.
“Kami terus berupaya mendukung pemasaran, termasuk mendorong para pelaku UMKM untuk memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok,” kata Sujianto.
Ia juga menegaskan bahwa UMKM tiwul instan merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat desa.
“Harapan kami, UMKM ini tidak hanya dikenal secara lokal, tapi juga bisa mendunia. Yang terpenting, bisa membuka lapangan kerja bagi warga desa yang masih menganggur,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana