RADAR TULUNGAGUNG - Dalam beberapa dekade terakhir, Mastercard dan Visa mendominasi infrastruktur pembayaran global terutama di sektor formal dan perbankan besar. Di Indonesia sendiri, Visa dan Mastercard masih mendominasi sekitar 75% pangsa pasar kartu pembayaran global.
Laporan keuangan menunjukkan besarnya dominasi kedua raksasa pembayaran global ini, dengan Visa membukukan transaksi senilai US$ 76,12 miliar dan Mastercard mencatatkan nilai transaksi sebesar US$ 72,6 miliar.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menunjukkan kehadiran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) meningkat signifikan di tanah air sejak diluncurkan pada 17 Agustus 2019.
Dalam konferensi pers, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa transaksi pembayaran digital melalui QRIS mencatatkan pertumbuhan signifkan pada kuartal I-2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu transaksi pembayaran digital melalui QRIS tumbuh 169,1% per tahun, didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Bank Indonesia (BI) melaporkan total nilai transaksi QRIS pada awal 2025 tercatat sebesar Rp80,88 triliun dengan frekuensi transaksi mencapai 790,79 juta kali.
Peningkatan ini mencerminkan penerapan QRIS yang semakin luas di berbagai lapisan masyarakat Indonesia.
Peran QRIS dalam Transaksi Pembayaran Inklusif dan Internasional
QRIS hadir sebagai solusi yang menyatukan berbagai platform pembayaran digital di Indonesia dalam satu standar QR code, secara efektif mengatasi fragmentasi pasar yang sebelumnya membingungkan konsumen dan pedagang.
Sistem ini tidak hanya menyederhanakan proses pembayaran, tetapi juga meningkatkan inklusi keuangan dengan menawarkan biaya yang lebih rendah dan akses yang lebih mudah bagi masyarakat yang selama ini belum terlayani oleh sistem perbankan.
Dengan mendirikan standar pembayaran nasional sendiri, Indonesia memperoleh kedaulatan yang lebih besar atas infrastruktur pembayaran, mengurangi ketergantungan pada perusahaan asing seperti Mastercard dan Visa yang selama bertahun-tahun mendominasi ekosistem pembayaran.
Lebih jauh lagi, QRIS berperan sebagai pendorong ekonomi digital hingga ke pelosok daerah, memfasilitasi transisi ke metode pembayaran modern dengan teknologi yang sederhana namun efektif, sehingga memudahkan adopsi oleh pelaku UMKM yang merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia.
Posisi QRIS di Tengah Dominasi Mastercard dan Visa
Kehadiran QRIS ini secara langsung menantang dominasi pemain global dengan menawarkan alternatif lokal yang lebih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pasar Indonesia.
QRIS muncul sebagai sistem pembayaran digital yang semakin mengancam hegemoni Mastercard dan Visa, khususnya di Indonesia dan berpotensi meluas ke Asia Tenggara.
Fenomena ini memicu keresahan di pemerintahan Donald Trump yang baru dilantik. Tahun 2025, sektor keuangan Indonesia terguncang akibat kritik tajam pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dalam "National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers", Amerika Serikat mengklaim QRIS dan GPN Indonesia sebagai "hambatan dagang" yang merugikan Visa dan Mastercard.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana inovasi sistem pembayaran dari negara berkembang dapat mengguncang keseimbangan kekuatan dalam industri finansial internasional yang selama ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan Amerika.
Penggunaan QRIS oleh negara-negara ASEAN berpotensi menciptakan perubahan besar dalam sistem pembayaran internasional. Dengan ratusan juta pengguna, sistem ini dapat meluas ke Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia dan UEA, membentuk jaringan pembayaran alternatif yang kuat. Semakin banyak transaksi yang diproses melalui QRIS, semakin berkurang ketergantungan terhadap USD dalam perdagangan regional.
Ini menciptakan reaksi berarti yang mempercepat pengurangan peran dolar di wilayah Asia. Bagi MasterCard dan VISA, perluasan QRIS mengakibatkan penurunan langsung pada pendapatan mereka.
Data dari Bank Indonesia Januari 2025 mengungkap fakta mengejutkan bahwa QRIS telah memberikan dampak finansial yang signifikan pada Visa dan MasterCard.
Kedua perusahaan pembayaran global ini dilaporkan mengalami kerugian mencapai 26 miliar per hari akibat pergeseran transaksi ke platform QRIS.
Perluasan pengaruh ini berpotensi menciptakan blok ekonomi regional dengan infrastruktur pembayaran yang tidak lagi bergantung pada teknologi dan standar Amerika, yang pada pasangannya dapat menggerus pendapatan dan pengaruh geopolitik perusahaan-perusahaan AS seperti Mastercard dan Visa.
Berbeda dengan Mastercard dan Visa yang merupakan jaringan pembayaran global berbasis kartu dengan biaya transaksi lebih tinggi berkisar 2 - 3%, QRIS menawarkan keunggulan berupa kemudahan sistem dan biaya transaksi yang rendah bahkan gratis.
Bank Indonesia (BI) menggratiskan biaya transaksi QRIS untuk merchant di sektor pelayanan publik mulai 14 Maret 2025. Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengumumkan penurunan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS untuk Badan Layanan Umum (BLU) dari 0,4% menjadi 0%.
QRIS memungkinkan proses pembayaran yang instan. Transaksi diselesaikan dalam hitungan detik, memangkas waktu tunggu yang biasanya terjadi pada sistem berbasis kartu. Keunggulan QRIS lainnya adalah kemudahan akses dengan perangkat sederhana.
Berbeda dengan Mastercard dan Visa yang memerlukan Electronic Data Capture (EDC) khusus, QRIS hanya membutuhkan smartphone atau bahkan cetak kode QR sederhana menjadikan teknologi ini lebih inklusif. QRIS juga berhasil menjangkau pelaku UMKM dan daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau oleh Mastercard dan Visa.
Meski sempat mendapat kritik dari Amerika Serikat di bawah perintahan Donald Trump, Bank Indonesia tidak gentar dan justru mempercepat perluasan sistem QRIS ke kancah internasional.
Terbukti, beberapa negara ekonomi utama seperti Jepang, China, dan Arab Saudi kini mencoba mengadopsi teknologi pembayaran digital Indonesia.
Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur BI, mengonfirmasi bahwa penerapan QRIS lintas negara telah berhasil beroperasi di beberapa negara tetangga, khususnya Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Kolaborasi ini dianggap sebagai strategi penting dalam memfasilitasi transaksi digital bagi wisatawan mancanegara dan pengusaha UMKM. Dengan adanya QRIS memungkinkan pembayaran melalui satu kode QR tanpa perlu konversi mata uang.
Contohnya, turis dari Tiongkok dapat berbelanja di Indonesia hanya dengan mengiklankan QRIS menggunakan aplikasi e-wallet mereka. Transaksi QRIS lintas negara diperkirakan mencapai nilai puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.
Situasi ini menimbulkan kegelisahan di Washington. Dalam Laporan Departemen Perdagangan AS (Februari 2024) menyebut sistem pembayaran alternatif seperti QRIS sebagai "tantangan potensial terhadap kepentingan ekonomi strategis Amerika".
Financial Times melaporkan pemerintahan Trump telah mengadakan pertemuan dengan eksekutif Visa dan Mastercard untuk membahas strategi mengatasi gangguan ini.
Meski Amerika Serikat sempat menyuarakan pendapatnya terutama dalam konteks keterbukaan sistem pembayaran, BI tetap pada komitmennya untuk memperkuat konektivitas sistem pembayaran digital dan kesetaraan di kawasan Asia dan Timur Tengah.
Kritik dari Amerika Serikat terhadap QRIS mencerminkan ketegangan antara upaya Indonesia untuk membangun kedaulatan ekonomi digital dan kepentingan perusahaan asing dalam mempertahankan pangsa pasar mereka.
Keluhan Amerika Serikat tidak memiliki dasar kuat, karena sejak awal QRIS memang dirancang untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.
Dalam konteks ini, penting bagi Indonesia untuk mempertahankan kebijakan sistem pembayaran domestik yang mendukung inklusi keuangan dan kedaulatan ekonomi digital, sambil tetap membuka ruang kerja sama yang adil dan setara dengan mitra internasional.
Bank Indonesia (BI) pada Maret 2025 telah meluncurkan QRIS Tap berbasis Near Field Communication (NFC). Sebulan meluncur, transaksi QRIS Tap tembus Rp 3,24 miliar, 20,8 juta pengguna dan 1,44 juta merchant hingga April 2025.
Dengan QRIS Tap diluncurkan yang cepat, mudah, dan aman yang jadi transaksi praktis cukup tap tanpa ribet. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa QRIS Tap merupakan terobosan strategis untuk mempercepat pengembangan ekosistem pembayaran digital di Indonesia.
Sistem ini sangat simpel karena pengguna cukup mendekatkan smartphone ke perangkat penerima, dengan transaksi selesai dalam 0,3 detik tanpa perlu memindai kode QR secara manual.
Dengan pertumbuhan pesat dan dukungan kebijakan yang tepat, QRIS berpotensi menjadi model pembayaran alternatif yang tidak hanya menantang hegemoni Mastercard dan Visa, tetapi juga menciptakan sistem keuangan yang lebih demokratis dan inklusif yang mampu memberikan solusi pembayaran yang efisien dan terjangkau bagi pelaku usaha, tetapi juga berkontribusi positif terhadap peningkatan pendapatan negara serta memperkuat kedaulatan ekonomi digital Indonesia.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.