Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Dinamika Global

Rahmat Nur Yahya • Sabtu, 10 Mei 2025 | 02:15 WIB
Photo
Photo

Jakarta, 9 Mei 2025 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga meskipun dinamika perekonomian dan volatilitas pasar keuangan global terus meningkat.

Hal ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 30 April 2025.

Selama April 2025, ketidakpastian global meningkat tajam seiring rencana Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif impor resiprokal.

Meskipun Presiden Donald Trump menunda pemberlakuan kebijakan tersebut selama 90 hari, ketegangan dagang AS–Tiongkok tetap memanas.

Imbasnya, volatilitas pasar keuangan global melonjak tajam.

Sejumlah lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO turut merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia.

IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 menjadi 2,8 persen, jauh di bawah rerata historis 3,7 persen.

WTO bahkan memproyeksi kontraksi volume perdagangan barang global sebesar 0,2 persen secara tahunan (yoy), setelah sebelumnya memperkirakan pertumbuhan 2,7 persen.

Di AS, data ketenagakerjaan masih solid, namun indikator ekonomi lain menunjukkan perlambatan, termasuk inflasi, keyakinan konsumen, dan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pun direvisi menjadi 1,4 persen dari sebelumnya 2 persen.

Pasar kini mengantisipasi penurunan suku bunga acuan yang diperkirakan dimulai pada Juni 2025.

Sementara itu, ekonomi Tiongkok mencatatkan kinerja kuat pada kuartal pertama 2025, didorong oleh sektor manufaktur dan strategi front-loading ekspor menjelang kemungkinan pemberlakuan tarif tambahan AS.

Dari sisi domestik, permintaan mulai menunjukkan pemulihan, tercermin dari naiknya inflasi inti dan penjualan ritel.

Ekonomi Domestik Tetap Solid

Di dalam negeri, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87 persen pada kuartal I-2025. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama.

Inflasi April 2025 tercatat rendah dan stabil di angka 1,95 persen yoy, sementara inflasi inti bertahan di level 2,50 persen yoy.

Sejumlah indikator seperti penjualan ritel, semen, dan kendaraan bermotor mengindikasikan pemulihan moderat.

Dari sisi produksi, surplus neraca perdagangan berlanjut dan kinerja emiten tahun 2024 tercatat lebih baik dibandingkan 2023.

Pasar Modal Menguat, Bursa Karbon dan Derivatif Berkembang

Meski sempat tertekan oleh pengumuman tarif dagang AS, pasar saham Indonesia berhasil mencatat penguatan 3,93 persen secara bulanan (mtd) ke level 6.766,8 pada akhir April 2025.

Penguatan ini ditopang oleh kebijakan OJK, sinergi pemerintah, forum KSSK, serta dukungan dari SRO dan pelaku pasar.

Kapitalisasi pasar meningkat 5,20 persen mtd menjadi Rp11.705 triliun, meskipun secara tahunan (ytd) masih turun 5,11 persen.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp20,79 triliun secara mtd.

Kinerja sektor saham secara sektoral juga menguat, terutama pada sektor basic material dan healthcare, sementara sektor teknologi melemah.

Rata-rata transaksi harian pasar saham meningkat menjadi Rp12,47 triliun.

Pasar obligasi menunjukkan tren positif. Indeks ICBI naik 1,61 persen mtd dengan penurunan yield SBN sebesar 15,53 basis poin. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp7,79 triliun.

Sebaliknya, di pasar obligasi korporasi, asing mencatat net sell sebesar Rp0,01 triliun.

Industri pengelolaan investasi mencatat nilai Asset Under Management (AUM) sebesar Rp821 triliun, naik 1,01 persen mtd.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga tumbuh 1,66 persen. Meski begitu, terjadi net redemption sebesar Rp6,24 triliun.

Hingga akhir April 2025, nilai penawaran umum di pasar modal mencapai Rp56,06 triliun, termasuk Rp3,31 triliun dari enam emiten baru.

Terdapat 85 pipeline penawaran umum dengan nilai indikatif Rp70,54 triliun.

Sementara itu, sektor securities crowdfunding (SCF) terus berkembang dengan 18 penyelenggara berizin dan total dana yang dihimpun mencapai Rp1,53 triliun dari 805 penerbit.

Pasar derivatif keuangan mencatat volume transaksi sebesar 1,13 juta lot dengan nilai akumulasi Rp1.050,58 triliun.

Di Bursa Karbon, sejak peluncurannya pada September 2023 hingga April 2025, tercatat volume perdagangan 1,6 juta tCO2e senilai Rp77,92 miliar dari 112 pengguna jasa.

Penegakan Hukum Tetap Dilakukan

Dalam bidang pengawasan, OJK telah menjatuhkan sanksi administratif berupa denda kepada satu emiten senilai Rp2,25 miliar dan memberikan peringatan tertulis kepada beberapa pelaku industri, termasuk tiga perusahaan layanan urun dana.

Sepanjang tahun 2025, total denda yang dijatuhkan mencapai Rp6,8 miliar kepada lima pihak, termasuk pencabutan izin usaha terhadap dua perusahaan efek dan 198 denda keterlambatan senilai total Rp15,46 miliar.(*)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Rapat Dewan Komisioner #perekonomian #investasi #perdagangan dunia #ekonomi #obligasi #ojk #inflasi