TULUNGAGUNG– Desa Sukoharjo, Kecamatan Bandung, di Kabupaten Tulungagung, menyimpan geliat ekonomi yang tak selalu tampak di permukaan termasuk produksi keripik.
Produksi keripik berada di antara aktivitas pertanian dan kehidupan rumah tangga, sejumlah warga di selatan Kabupaten Tulungagung ini, yang mengolah bahan lokal menjadi camilan yang kian diminati.
Bukan sekadar pengisi waktu luang, kegiatan produksi keripik ini telah tumbuh menjadi bagian penting dari ritme harian masyarakat desa di Kabupaten Tulungagung.
Di sana, usaha pembuatan keripik rumahan dijalankan dengan pendekatan sederhana namun konsisten.
Awalnya, aktivitas ini muncul dari kebutuhan menambah penghasilan keluarga, namun permintaan pasar yang terus bertambah perlahan mengubahnya menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Produk olahan seperti keripik sukun, tempe sagu, mbothe, sale pisang, hingga aneka rempeyek, menjadi bagian dari ragam camilan yang berasal dari Tulungagung.
Proses produksinya masih dilakukan secara manual, melibatkan anggota keluarga dan tetangga sekitar. Meski berskala kecil, usaha semacam ini memberi dampak nyata pada ekonomi mikro desa.
Seiring berkembangnya teknologi, pelaku usaha rumahan di Desa Sukoharjo ini mulai memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan distribusi.
Penjualan tidak lagi terbatas di pasar lokal, melainkan merambah ke berbagai kota, bahkan lintas negara.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana desa-desa di Tulungagung turut bergerak dalam arus transformasi digital.
Di tengah tantangan dan keterbatasan, dinamika Desa Sukoharjo menunjukkan bahwa masyarakat Tulungagung mampu membangun kemandirian ekonomi dari skala rumah tangga.
Dengan pendekatan kolektif, tradisi dan kreativitas berjalan beriringan menghidupkan desa tanpa kehilangan jati dirinya.(rin/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah