TULUNGAGUNG - Pasar tradisional di Tulungagung telah menjadi sarana berbagai aktivitas dilakukan tiap harinya.
Bahkan sebelum matahari terbit dan kebanyakan orang Tulungagung mulai beraktivitas, perputaran kegiatan di pasar tradisional sudah berlangsung.
Pasar tradisional telah menjadi salah satu tulang punggung perekonomian, khususnya di daerah kabupaten seperti Kabupaten Tulungagung.
Meskipun kini menghadapi ancaman dari munculnya pasar modern dan pertumbuhan retail yang menyediakan kebutuhan pangan, mulai dari sayuran hingga buah-buahan.
Kendati demikian, eksistensi pasar modern sebagai salah satu sarana dalam menggerakkan roda perekonomian tidak kehilangan porosnya.
Pasar tradisional tetap menjadi primadona bagi masyarakat Kabupaten Tulungagung karena menyediakan bahan pangan yang cenderung lebih murah.
Selain Pasar Ngemplak, pasar tradisional di Tulungagung yang eksis sebagai sarana belanja bahan pangan yang murah diantaranya adalah Pasar Kucen, Pasar Campurdarat, dan Pasar Ngunut.
Pasar tradisional memiliki peran strategis, diantaranya adalah
Sebagai pusat perdagangan rakyat
Pasar Tradisional di Tulungagung menjadi medium perdagangan antara petani, distributor, penjual, dan pembeli. Banyak pihak dilibatkan dalam kegiatan ini yang menjadi poros perputaran ekonomi di lingkup pasar tradisional.
Para petani diberikan sarana menjual hasil bumi yang telah dikelolanya, distributor dan penjual memberikan pembeli cara bertransaksi yang mudah dengan menyediakan bahan pangan yang dijual eceran, dan pembeli dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Sumber Penghidupan Ekonomi Lokal
Pelaku UMKM bergantung pada kesediaan bahan pangan dan bahan dasar produksi produk melalui pasar tradisional karena harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan minimarket atau swalayan.
Hal ini menciptakan efek domino terhadap penyerapan tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan banyaknya pihak dalam aktivitas ekonomi menjadikan pasar tradisonal sebagai medium yang digunakan untuk menggantungkan hidup bagi sebagian besar masyarakat.
Pusat Interaksi Sosial dan Budaya
Berbeda dengan pasar modern yang cenderung transaksional, pasar tradisional menyimpan nilai-nilai budaya lokal dan menjadi tempat interaksi sosial antarmasyarakat.
Kegiatan tawar menawar dan obrolan-obrolan antara penjual dan pembeli menciptakan harmonisasi tentang perspektif manusia sebagai makhluk sosial.
Kendati demikian, pasar tradisional mengalami ancaman eksistensi. Munculnya swalayan dan toko sayur modern yang mengemas sayur dan bahan pangan lain dengan rapi dan praktis menimbulkan ancaman bagi keberadaan pasar tradisional.
Tempat yang cenderung kumuh, becek, dan berantakan menjadikan masyarakat kian enggan untuk membeli bahan pangan di pasar tradisional.
Tata letak yang semrawut dan sistem drainase yang buruk membuat bau menyengat yang tidak sedap di lingkungan pasar.
Selain itu, proses transaksi di pasar tradisional yang kurang memberdayakan teknologi dan berbasis penjualan melalui uang tunai juga kian kurang diminati, terlebih di kalangan generasi muda.
Pemerintah harus melakukan revitalisasi terhadap tata letak pasar dan melakukan sosialisasi terkait transaksi digital.
Selain itu, penjual juga diharapkan lebih memperhatikan tata letak dagangannya agar tampak rapi dan menarik konsumen untuk mampir.
Masyarakat pun harus ikut andil dalam memberdayakan pasar tradisional dan menggerakkan roda perekonomian dengan membeli bahan pangan di pasar tradisonal daripada di swalayan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah