TULUNGAGUNG — Merintis bisnis memang memerlukan keberanian, tetapi lebih dari itu, dibutuhkan perencanaan keuangan yang matang agar tidak terjebak dalam utang yang berlebihan.
Banyak pelaku usaha yang tergiur merintis bisnis tanpa strategi pengelolaan modal, hingga akhirnya mengalami pembengkakan anggaran, bahkan kebangkrutan. Salah satu contoh nyata adalah yang dialami oleh artis muda Syakir Daulay.
Syakir Daulay pernah memiliki utang hingga Rp 5 miliar akibat ketidaksiapan dalam merancang struktur keuangan saat merintis bisnis dengan memproduksi film.
Meski akhirnya utang tersebut berhasil dilunasi, kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa manajemen keuangan adalah fondasi utama dalam berwirausaha.
Berikut ini adalah beberapa tips kelola modal bisnis agar tidak terjebak dalam lingkaran utang:
1. Tentukan Ide Bisnis yang Jelas dan Terukur.
Menurut perencana keuangan dan pendiri Rekadana, Rina Dewi Lina, langkah awal dalam membangun bisnis yang sehat adalah menetapkan ide yang jelas.
“Pelaku usaha harus mengetahui produk atau jasa apa yang akan dijual, siapa target pasarnya, serta bagaimana karakteristik kompetitor di industri tersebut,” ujar Rina dalam wawancara Jumat (18/7/2025).
Riset pasar sangat penting dilakukan sejak awal guna menilai potensi permintaan, tren harga, serta ruang kompetisi.
Dengan perencanaan yang berbasis data, pengusaha dapat mengurangi risiko kerugian di kemudian hari.
2. Siapkan Modal Awal, Modal Operasional, dan Dana Cadangan.
Modal usaha tidak hanya tentang dana awal, melainkan mencakup tiga komponen penting:
Modal awal untuk pengadaan peralatan, bahan baku, dan penyewaan tempat.
Modal operasional untuk menutupi biaya rutin seperti gaji, logistik, listrik, serta kebutuhan bisnis lainnya selama tiga hingga enam bulan pertama.
Dana cadangan sebagai antisipasi terhadap kondisi darurat, termasuk ketika bisnis tidak menghasilkan penjualan sama sekali.
Sebagai gambaran, bisnis kecil seperti warung kopi rumahan dapat dimulai dengan modal Rp 5 juta–Rp 10 juta.
Sedangkan usaha menengah seperti laundry kiloan membutuhkan dana awal sebesar Rp15 juta–Rp30 juta, tergantung skala dan lokasi usaha.
3. Batasi Penggunaan Utang Maksimal 30 Persen dari Modal.
Jika modal internal tidak mencukupi, utang bisa menjadi opsi tambahan, namun harus tetap dalam batas yang wajar.
Rina menyarankan agar jumlah utang tidak melebihi 30 persen dari total kebutuhan modal.
“Lebih baik memulai dengan modal sendiri dahulu. Jika terpaksa mengambil pinjaman, cari sumber yang paling aman dan terjangkau,” tegasnya.
Sumber utang yang relatif aman dapat berasal dari keluarga atau teman, dengan tetap membuat perjanjian tertulis untuk menghindari konflik di masa depan.
4. Evaluasi Arus Kas Secara Berkala.
Keberlanjutan usaha sangat tergantung pada bagaimana pelaku bisnis mampu memantau dan mengevaluasi arus kas (cash flow).
Membuat laporan keuangan sederhana, memahami siklus pendapatan dan pengeluaran, serta meninjau efisiensi biaya akan membantu mencegah pemborosan dan potensi krisis likuiditas.
5. Jangan Tergoda Ekspansi Terlalu Cepat.
Kesalahan umum lainnya adalah terburu-buru memperluas bisnis tanpa kesiapan keuangan.
Ekspansi yang dilakukan tanpa cadangan modal yang kuat bisa berujung pada pinjaman besar yang tidak terkendali.
Alih-alih fokus memperbesar usaha dalam waktu singkat, lebih baik memantapkan fondasi bisnis terlebih dahulu agar pertumbuhan yang dicapai bersifat berkelanjutan.
Mengelola modal bisnis secara bijak bukan hanya akan menyelamatkan usaha dari jeratan utang, tetapi juga memperbesar peluang untuk berkembang di masa depan.
Perencanaan yang matang, pengendalian biaya, dan sikap realistis menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan finansial usaha.
Kisah Syakir Daulay menjadi bukti nyata bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh keberanian, tetapi oleh kecermatan dalam menyusun strategi keuangan sejak awal.(rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah