Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kreatif, Cobek Kayu Glonggong Tulungagung Mampu Menembus Pasar Luar Jawa

Dharaka R. Perdana • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 01:48 WIB

Kasun Glonggong Ahmad Fendi Habibi (kiri) menunjukkan kerajinan cobek yang dibuat warga setempat.
Kasun Glonggong Ahmad Fendi Habibi (kiri) menunjukkan kerajinan cobek yang dibuat warga setempat.

RADAR TULUNGAGUNG – Di tengah derasnya arus urbanisasi dan persaingan industri modern, cobek kayu Glonggong dari Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Tulungagung, justru mampu bertahan dan berkembang.

Produk ini lahir dari kreativitas warga Dusun Glonggong, yang mengubah sisa kayu rumah tangga menjadi komoditas bernilai jual tinggi.

Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung, Jajanan Gurih Cocok untuk Lauk dan Ngemil

Kepala Dusun Glonggong, Ahmad Fendi Habibi, menceritakan bahwa cobek kayu awalnya dibuat sebagai kegiatan ekonomi alternatif saat pandemi.

Bahan bakunya sederhana berupa potongan kayu yang biasanya terbuang yang diolah dengan ketelatenan menjadi cobek yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi.

Baca Juga: Proses Produksi Manual, Ternyata Ini Resep Emping Melinjo dari Desa di Tulungagung Masih Eksis

Kini, cobek kayu Glonggong telah menembus pasar Surabaya, Malang, hingga Kalimantan dan Sulawesi.

"Kami tidak punya pabrik besar, tapi kami punya semangat besar. Itulah kekuatan Notorejo," ujar Fendi di sela proses produksi.

Baca Juga: Makanan Paling Flavorful dari Tulungagung, Lodho Ayam menjadi Legenda Kuliner

Di tengah tren kuliner homemade dan kafe-kafe berkonsep tradisional-modern, cobek kayu menjadi pelengkap yang banyak dicari.

Tekstur kayu yang alami memberi sentuhan artistik pada penyajian makanan, membuatnya diminati pasar kuliner dan pecinta food photography.

Baca Juga: Jenang Asli Tulungagung, Warisan Kuliner Sejak Tahun 1987

Meski potensi pasarnya besar, Fendi mengakui tantangan terbesar ada pada promosi dan pemasaran digital.

Saat ini, pemasaran cobek masih mengandalkan mulut ke mulut, keikutsertaan pameran, dan festival budaya.

“Kami berharap ada pendampingan digital marketing, biar produk kami bisa dikenal lebih luas lagi,” tambahnya.

Cobek kayu Glonggong bukan sekadar produk rumah tangga. Dia adalah simbol ketahanan ekonomi desa contoh bagaimana kreativitas warga mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang usaha berkelanjutan.

Dengan dukungan promosi digital dan perluasan pasar, cobek kayu ini berpotensi menjadi ikon produk unggulan Tulungagung. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#kreativitas #tulungagung #cobek kayu