RADAR TULUNGAGUNG - Serapan liquified petroleum gas (LPG) alias elpiji melon di semester awal terpantau normal.
Meski begitu, Pemkab Tulungagung masih harus memastikan ketersediaan elpiji di penghujung tahun ini dalam kategori aman.
Tahun ini, wilayah Kota Marmer dijatah alokasi elpiji bersubsidi 3 kg sebanyak 42.009 metrik ton (M/T).
Adapun realisasi serapan hingga 30 Juni lalu mencapai 21.329 M/T. Pemkab mengeklaim kondisi ini mengindikasikan tidak terjadi kelangkaan elpiji melon di sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Baca Juga: Kiriman Gas Melon di Kecamatan Gandusari Blitar Telat, Banyak Dicari PKL Aneka Makanan dan Jajanan
"Jadi sudah separo lah. Kalau melihat dari realisasi sampai dengan separo ini masih normal. Dalam artian, kebutuhan gas elpiji tabung 3 kg yang memang sudah mendapatkan kuota sejumlah itu sampai dengan semester pertama ini masih mencukupi," kata Kabag Perekonomian dan SDA Setda Tulungagung, Arif Effendi.
Selanjutnya, pemkab juga mengkalkulasi jumlah ketersediaan dengan tingkat konsumsi di semester II tahun ini. Hasilnya diprediksi sisa kuota elpiji yang ada bakal habis pada 15 Desember mendatang.
Baca Juga: Dulu Oke Gas Sekarang Mana Gas, Polemik Aturan Distribusi Gas LPG Subsidi
Itu sebabnya, pemkab perlu melakukan permohonan penambahan kuota guna mencukupi kebutuhan yang belum ter-cover hingga 31 Desember nanti.
"Alhamdulillah di tahun-tahun sebelumnya belum sampai kita kehabisan. Jadi, kuota yang memang sudah diperuntukkan sampai dengan akhir tahun (lalu) masih mencukupi," terangnya.
Baca Juga: Curi Elpiji Melon, Pria Asal Tulungagung Babak Belur Dihajar Warga Gembleb Trenggalek
Pengusulan, lanjut Arif, biasanya dilakukan satu bulan waktu alokasi gas elpiji diprediksi habis. Dalam hal ini, pemkab juga akan menggelar komunikasi intens bersama pihak Pertamina.
"Nggih. Biasanya satu bulan mendekati Desember itu udah ada hitungan riilnya dari Pertamina Patra Niaga Kediri. Karena datanya semuanya dari sana," ujar Arif.
Antisipiasi akan diintensifkan, mengingat masyarakat juga mulai disibukkan dengan berbagai agenda peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah masing-masing.
"Kita tetap koordinasi di lapangan, baik dengan Pertamina Patra Niaga yang ada di Kediri maupun teman-teman Hiswana, agen, sampai tingkat pangkalan itu kita koordinasi. Terus monitoring ke lapangan," jelasnya.
Potensi surplus jumlah elpiji juga dinilai hal yang sulit terealisasi di akhir tahun ini. Sebab, penghitungan rinci sudah dilakukan oleh pemerintah pusat sebelum mulai menentukan alokasi elpiji ke masing-masing wilayah.
"Karena ini kan barang subsidi. Pemerintah pusat mengeluarkan biaya untuk subsidinya. Jadi benar-benar dibatasi, benar-benar sudah dihitung untuk kecukupan di Kabupaten Tulungagung berapa," tegasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana