RADAR TULUNGAGUNG - Industri kelapa sawit masih memegang peran vital sebagai penopang ekonomi nasional.
Namun, dalam lima tahun terakhir, industri kelapa sawit harus berhadapan dengan masalah serius.
Berupa stagnasi produksi dan penurunan produktivitas di tengah melonjaknya kebutuhan domestik seiring pengembangan program biodiesel.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menyebutkan, lima tahun terakhir produksi crude palm oil (CPO) dinilai stagnan hanya berada di kisaran 50 juta ton per tahun.
Penyebab utama kondisi ini adalah program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang belum berjalan optimal.
"Tanaman sawit itu seperti manusia. Kalau sudah tua, diberi pupuk atau input sebanyak apa pun tidak akan produktif lagi. Harus diremajakan. Sayangnya, PSR hingga kini belum pernah mencapai target," bebernya di Jakarta Kamis (11/9/2025).
Program PSR terhambat persoalan legalitas lahan, status kawasan hutan, hingga keraguan petani untuk mene-bang pohon karena khawatir kehi-langan penghasilan.
Padahal, lanjut Eddy, produktivitas sawit yang diremajakan bisa meningkat hingga 2,5 kali lipat dalam 4-5 tahun. ****
Editor : Dharaka R. Perdana