Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Stok Bensin Menipis, SPBU Shell Terancam Tutup, Inggrid Siburian: Penyediaan Produk Tetap Jalan

Resma Putri Anggraini • Rabu, 17 September 2025 | 21:18 WIB

 

SPBU Shell di Jabodetabek alami krisis bensin, pelanggan kebingungan cari bahan bakar
SPBU Shell di Jabodetabek alami krisis bensin, pelanggan kebingungan cari bahan bakar

RADAR TULUNGAGUNG– Ketidakpastian menyelimuti SPBU Shell di Indonesia, khususnya di wilayah Jabodetabek, setelah sebagian besar stasiun pengisian bahan bakar tersebut mengalami kekosongan stok bensin dalam beberapa waktu terakhir.

Produk unggulan seperti Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+ kini menjadi barang langka yang sulit ditemukan, memicu pertanyaan besar di kalangan konsumen setia.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan keluhan pelanggan, tetapi juga memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan bisnis ritel BBM swasta di Tanah Air.

Baca Juga: Warga Tulungagung Perlu Tahu, Berikut 5 Dampak Gonta-Ganti BBM pada Mesin

Kondisi kritis mengenai nasib SPBU Shell ini menjadi viral di media sosial, salah satunya melalui unggahan yang memuat curhatan petugas SPBU.

Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa stok impor bahan bakar tidak akan tersedia hingga tahun depan, dan jika stok di terminal penyimpanan habis, maka operasional akan berakhir.

Menanggapi hal ini, manajemen Shell Indonesia mengambil langkah penyesuaian operasional, termasuk mengatur ulang jam kerja karyawan untuk menjaga efisiensi di tengah krisis pasokan.

Baca Juga: Lebih Irit Mana: Mitsubishi Xpander Cross, Suzuki XL7, atau Honda BR-V? Ini Hasil Uji Konsumsi BBM yang Wajib Diketahui Warga Tulungagung

Langkah ini diambil untuk memastikan bisnis tetap berjalan meskipun di tengah tantangan besar dan untuk menghindari terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Penyebab utama dari ketidakpastian nasib SPBU Shell ini diduga kuat berkaitan dengan perubahan kebijakan impor BBM oleh pemerintah.

Menurut pakar bahan bakar dan pelumas dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, kebijakan pemerintah yang baru tampaknya tidak lagi mengizinkan impor bahan bakar melalui Singapura, yang selama ini menjadi jalur pasokan utama Shell.

Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Serentak per 1 Juli 2025, Catat Rinciannya

Selain itu, perubahan aturan yang mengharuskan izin impor diperbarui setiap enam bulan bukan lagi setahun sekali juga disebut menjadi pemicu kesulitan bagi SPBU swasta dalam menjaga kelancaran pasokan.

President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia, Ingrid Siburian, mengonfirmasi bahwa produk BBM jenis bensin memang tidak tersedia di beberapa jaringan SPBU Shell hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Namun, ia menegaskan bahwa Shell Indonesia terus berupaya memastikan kelancaran pendistribusian dan penyediaan produk.

"Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait untuk memastikan produk BBM jenis bensin dapat tersedia kembali," ujar Ingrid.

Selama masa keterbatasan ini, SPBU Shell tetap menyediakan varian produk yang masih ada, seperti bahan bakar diesel, serta layanan lain seperti pelumas, bengkel, dan toko ritel Shell Select.

Baca Juga: Harga BBM Pertamina di Tulungagung Resmi Turun, Segini Harga Lengkapnya

Opsi Pembelian dari Pertamina dan Kendala Teknis

Di tengah krisis ini, pemerintah melalui Kementerian ESDM menyarankan agar SPBU swasta seperti Shell membeli bahan bakar dari Pertamina sebagai solusi.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa sesuai Peraturan Presiden, impor BBM tetap harus dilakukan melalui Pertamina.

Mekanisme ini dirancang agar jika stok Pertamina mencukupi, SPBU swasta akan dipasok langsung. Jika tidak, impor akan tetap dilakukan, namun harus melalui Pertamina.

Meskipun demikian, opsi ini tampaknya belum diambil oleh Shell. Prof. Yuswidjajanto menjelaskan bahwa secara teknis, Shell bisa saja membeli bahan bakar dari Pertamina dan kemudian memformulasikannya kembali dengan aditif khusus agar produknya tetap memiliki ciri khas berbeda.

Namun, tampaknya Shell belum memutuskan untuk menempuh jalur tersebut. Kendala lain datang dari sisi spesifikasi teknis, di mana setiap perusahaan memiliki standar aditif yang berbeda.

Presiden Direktur BP AKR, Vanda Laura, menyatakan bahwa perlu ada pembahasan lebih lanjut dengan Pertamina mengenai spesifikasi BBM sebelum opsi ini bisa dijalankan.

Baca Juga: Pertamina Bantah Praktik Oplos Pertalite jadi Pertamax

Dampak Kebijakan dan Kondisi di Lapangan

Kelangkaan stok BBM di SPBU swasta sudah terjadi sejak pertengahan Agustus 2025, dipicu oleh perubahan aturan importasi yang berlaku sejak 26 Februari 2025.

Kebijakan ini, menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, bertujuan untuk menjaga neraca komoditas migas dan mendorong peningkatan produksi domestik. Namun, dampaknya langsung terasa di lapangan, di mana banyak SPBU Shell kini hanya menjual bahan bakar diesel.

Pemerintah sebenarnya telah menambah kuota impor BBM untuk SPBU swasta sebesar 10 persen pada tahun 2025, tetapi kuota tersebut cepat habis akibat tingginya permintaan.

Hal ini juga didorong oleh peralihan konsumsi masyarakat dari BBM subsidi Pertalite ke BBM nonsubsidi yang mencapai 1,4 juta kiloliter tahun ini.

Hingga kini, para konsumen masih menantikan kembalinya produk-produk bensin Shell di pasaran. Pihak Shell Indonesia berharap proses koordinasi yang sedang berjalan dapat segera membuahkan hasil.

Sehingga pasokan kembali normal dan kepercayaan pelanggan dapat terus dijaga di tengah situasi yang menantang ini.

Editor : Dharaka R. Perdana
#pertamina #Shell Indonesia #SPBU Shell Indonesia