Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bisnis Emas Melesat, Laba Bank Syariah Indonesia Menguat, Ini Rinciannya

Mohammad vicky avanda zilmy • Rabu, 24 September 2025 | 04:33 WIB
Bisnis logam mulia dan ekosistem Islam menjadi engine growth PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sepanjang kuartal II 2025.
Bisnis logam mulia dan ekosistem Islam menjadi engine growth PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sepanjang kuartal II 2025.

RADAR TULUNGAGUNG - Bisnis logam mulia dan ekosistem Islam menjadi engine growth PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sepanjang kuartal II 2025.

Hal itu juga didukung transformasi digital untuk tetap resilien di tengah kondisi makro ekonomi yang cukup menantang.

Alhasil, laba bank berkode emiten BRIS itu tumbuh 10,21 persen.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyatakan, laba naik 10,21 persen year on year (YoY) menjadi Rp 3,74 triliun per Juni 2025.

"Lebih detail, kinerja keuangan aset tumbuh 10,97 persen atau Rp 401 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) terkerek 8,83 persen atau Rp 323 triliun," terangnya dalam paparan kinerja BSI kuartal II 2025 Senin (22/9/2025)

Pembiayaan BSI tumbuh 13,93 persen YoY dengan outstanding Rp 293,24 triliun.

Mayoritas pembiayaan disumbang segmen ritel dan konsumer, termasuk emas senilai Rp 211,78 triliun yang nerkontribusi mencapai 72,22 persen dari total kredit.

Sedangkan segmen wholesale sebesar 27,78 persen.

Dari bisnis emas, pembiayaan bisnis emas BSI melesat 88,25 persen YoY mencapai Rp 16,88 triliun.

Terdiri dari cicil emas, Rp 9,09 triliun, yang naik 155,41 persen YoY dan gadai emas, Rp 7,79 triliun, yang tumbuh 44,08 persen secara tahunan.

"Melesatnya pembiayaan emas mendorong pembiayaan konsumer BSI naik 16,20 persen dengan oustanding Rp 162,19 triliun," kata Anggoro.

Dia memastikan kualitas pem-biayaan bank terjaga. Tercermin dari rasio pembiayaan macet alias non - performing finance (NPF) gross 1,87 persen.

Angka itu lebih baik dari posisi industri di level 2,22 persen.

Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menambahkan, strategi lain yang juga mendorong kinerja adalah pengelolaan dana murah.

Pertumbuhan DPK BSI ditopang tabungan sebagai mesin utama pertumbuhan sehingga menjaga komposisi dana murah atau current account saving account (CASA) di level 61,78 persen atau Rp199,48 triliun.

"Ekosistem payroll dan haji mendorong pertumbuhan DPK sebesar 8,83 persen YoY mencapai Rp 323 triliun.

Tabungan BSI mencapai Rp 141,30 triliun, naik 9,71 persen YoY," ujar Ade. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#laba bsi #Bisnis Emas #logam mulia #PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI)