Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perdagangan Awal Oktober, Rupiah Melemah ke Rp16.625 per Dolar AS, IHSG Justru Dibuka Menguat

Resma Putri Anggraini • Jumat, 3 Oktober 2025 | 18:20 WIB

Awal perdagangan Oktober 2025, Rupiah melemah ke Rp16.625 per dolar AS, sementara IHSG justru dibuka menguat di atas 8.099. (Antaranews)
Awal perdagangan Oktober 2025, Rupiah melemah ke Rp16.625 per dolar AS, sementara IHSG justru dibuka menguat di atas 8.099. (Antaranews)

RADAR TULUNGAGUNG – Nilai tukar mata uang Indonesia membuka perdagangan pada Jumat (3/10/2025) pagi dengan tren negatif.

Berdasarkan data pasar, Rupiah melemah sebesar 27 poin atau setara dengan 0,16 persen, membawanya ke level Rp16.625 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi ini tercatat turun dari penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp16.608 per dolar AS.

Pelemahan ini menjadi perhatian para pelaku pasar di awal bulan Oktober 2025. Kondisi di mana Rupiah melemah terjadi di tengah dinamika pasar saham domestik yang justru menunjukkan geliat positif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan di hari yang sama dibuka dengan penguatan yang cukup signifikan.

Pergerakan nilai tukar ini menjadi indikator penting bagi kondisi ekonomi makro. Ketika Rupiah melemah, hal ini dapat mempengaruhi berbagai sektor, mulai dari biaya impor bahan baku bagi industri hingga harga barang-barang konsumsi di pasar domestik.

Para analis akan terus memantau faktor-faktor eksternal dan internal yang berkontribusi terhadap volatilitas kurs Rupiah terhadap mata uang utama dunia, khususnya dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp16.700 per Dolar AS, Bank Indonesia Kerahkan Seluruh Instrumen Secara Bold untuk Redam Tekanan Pasar

Kontras dengan Pasar Saham

Meskipun nilai tukar Rupiah menunjukkan pelemahan, sentimen di pasar modal justru sebaliknya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI pada Jumat (3/10) pagi dibuka menguat sebesar 28,57 poin, atau naik 0,35 persen, ke posisi 8.099,65.

Penguatan ini juga diikuti oleh indeks LQ45, yang merupakan kelompok 45 saham unggulan dan paling likuid di bursa. Indeks LQ45 tercatat naik sebesar 2,05 poin atau 0,26 persen, menempatkannya di posisi 785,34.

Fenomena ini menunjukkan bahwa investor di pasar saham memiliki optimisme yang berbeda dibandingkan dengan pelaku pasar di pasar valuta asing pada awal sesi perdagangan.

Perbedaan arah pergerakan antara pasar saham dan pasar mata uang ini bukanlah hal yang jarang terjadi. Pasar saham sering kali lebih dipengaruhi oleh sentimen kinerja emiten, kebijakan korporasi, serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka menengah hingga panjang.

Sementara itu, pergerakan nilai tukar Rupiah lebih sensitif terhadap sentimen global, kebijakan moneter bank sentral utama dunia seperti The Fed di Amerika Serikat, serta arus modal asing jangka pendek.

Baca Juga: Fakta Atau Hoax, Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Meningkat Jadi Rp 8.170,65

Konteks Pasar Finansial

Pergerakan kontras antara IHSG dan Rupiah menjadi krusial bagi para investor, pelaku bisnis, dan pemerintah dalam mengambil keputusan strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dalam beberapa hari sebelumnya, pergerakan Rupiah sempat menunjukkan tren penguatan. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh isu government shutdown atau penutupan layanan pemerintahan di Amerika Serikat yang berpotensi melemahkan kepercayaan pasar terhadap kondisi fiskal negara tersebut.

Namun, pada pembukaan Jumat pagi, sentimen tersebut tampaknya berbalik arah, setidaknya untuk sementara waktu, yang mengakibatkan pelemahan pada Rupiah.

Masyarakat dan pelaku usaha di Tulungagung dan sekitarnya diharapkan untuk terus memantau perkembangan nilai tukar Rupiah.

Fluktuasi kurs dapat berdampak langsung pada biaya produksi bagi usaha yang mengandalkan bahan baku impor, serta mempengaruhi daya beli masyarakat secara umum.

Pemerintah dan Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah untuk melindungi perekonomian nasional dari gejolak eksternal yang berlebihan. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#ihsg #rupiah melemah #nilai tukar