Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dolar Amerika Makin Ganas, Pasar Saham Menanti Kartu Truf Menkeu Purbaya di Tengah Sentimen Negatif Global

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Kamis, 9 Oktober 2025 | 20:15 WIB

moment  Purbaya Yudhi Sadewa  saat berkunjung
moment Purbaya Yudhi Sadewa saat berkunjung

RADAR TULUNGAGUNG – Pasar keuangan Tanah Air kini berada dalam periode yang penuh gejolak sejak Purbaya Yudhi Sadewa menjabat menjadi menteri keuangan (Menkeu).

Hal ini ditandai dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah, sementara investor beralih memburu instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

Di tengah tekanan global yang masif, terutama dari penguatan indeks dolar AS (DXY) ke level tertinggi dalam sebulan terakhir, seluruh mata investor hari ini tertuju pada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

Menkeu Purbaya dijadwalkan menghadiri dialog khusus dengan pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.00-11.00 WIB, sebuah agenda yang diyakini akan menentukan arah kebijakan fiskal dan potensi stimulus pasar.

Baca Juga: Pemerintah Wajibkan Campuran Etanol 10 Persen di BBM Mulai 2027–2028, Coba Tiru Kebijakan Serupa yang Berlaku di Amerika Serikat dan India

Kedatangan Menkeu Purbaya ke markas pasar modal pada Kamis pagi (9/10/2025) ini, yang tiba sekitar pukul 08.05 WIB, menandai kunjungan pertamanya sebagai Menteri Keuangan.

Dialog ini merupakan forum penting yang diharapkan mampu menghasilkan 'gebrakan baru' agar bursa saham Indonesia kembali diminati, menyusul koreksi tipis IHSG sebesar 0,04 persen ke level 8.166,02 pada perdagangan kemarin, Rabu (8/10/2025).

Pasar modal, yang telah mencatatkan peningkatan signifikan partisipasi publik dan kapitalisasi pasar mencapai Rp 15.079 triliun hingga pekan lalu, kini mendambakan terobosan dari Purbaya untuk merespons kondisi pasar yang cenderung bervariasi.

Menanggapi prediksi pasar, Menkeu Purbaya berkelakar bahwa pelaku pasar kemungkinan akan meminta insentif, sambil menegaskan bahwa dialog ini bertujuan untuk mendengarkan langsung "suara pasar" dan membahas berbagai isu terkait dinamika industri.

Kebutuhan akan intervensi kebijakan ini semakin mendesak mengingat ketidakselarasan kinerja pasar domestik dan global.

Rupiah tercatat melemah 0,12 persen dan ditutup di posisi Rp16.555/USD kemarin, bahkan sempat menembus batas psikologis Rp16.600/USD.

Pelemahan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang melonjak hingga menembus 98,9, level tertinggi sejak awal Agustus 2025.

Kondisi dolar ganas ini didorong oleh pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed).

Presiden The Fed Kansas City, Jeff Schmid, dan Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, sama-sama memperingatkan bahwa inflasi dinilai "masih terlalu tinggi" dan pemangkasan suku bunga yang terlalu agresif berisiko memicu kembali tekanan harga di AS.

Sentimen hawkish ini mengurangi peluang penurunan suku bunga lanjutan, yang pada gilirannya mendorong penguatan dolar AS dan memicu kekhawatiran outflow di emerging markets seperti Indonesia.

Baca Juga: Gestur Bahlil Colek Paha Rosan Saat Prabowo Ungkap Kerugian Tambang Ilegal Capai Rp300 Triliun Picu Spekulasi Warganet, Ada yang Bilang Begini

Dalam satu bulan masa jabatannya, Purbaya telah merilis kebijakan fiskal yang berbeda dari sebelumnya, terutama dalam hal pengelolaan kas negara.

Komitmen utamanya adalah menekan jumlah dana menganggur pemerintah yang masih tersimpan di Bank Indonesia (BI).

Saat ini, dana pemerintah yang tersimpan di BI diperkirakan mencapai sekitar Rp275 triliun, meskipun sebagian dari dana tersebut telah dipindahkan ke lima bank milik negara sejak pertengahan September.

Menkeu Purbaya menargetkan dana menganggur ini tersisa sekitar Rp100 triliun. Langkah ini penting agar uang negara segera disalurkan ke sektor riil untuk mendorong aktivitas ekonomi nasional.

Strategi ini melibatkan perubahan pengelolaan kas negara dengan memperbanyak penerbitan surat utang jangka pendek sebagai sumber pembiayaan likuiditas.

Purbaya menilai bahwa skema ini memungkinkan pemerintah memenuhi kebutuhan belanja secara lebih cepat dan efisien, tanpa perlu menahan dana cadangan besar di BI.

Ia juga menekankan bahwa langkah ini akan memperkuat stimulus fiskal, memperlancar realisasi belanja, dan membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global.

Baca Juga: Klaim Bukti Baru dari KPU, Pakar Telematika Desak Bareskrim Buka Kembali Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Meskipun Purbaya telah menjanjikan penguatan stimulus fiskal, pasar saham domestik masih menghadapi tantangan.

IHSG pada perdagangan kemarin (8/10/2025) melemah akibat koreksi di sektor keuangan dan industrial. Pelemahan terbesar disumbang oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan emiten konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bullish sejak pertengahan tahun ini. Namun, investor perlu mewaspadai munculnya sinyal bearish divergence.

Fenomena bearish divergence terjadi ketika IHSG membentuk puncak yang lebih tinggi, tetapi indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) justru bergerak menurun.

Kondisi ini mengisyaratkan bahwa meskipun harga masih menguat, dorongan beli tidak lagi sekuat sebelumnya.

Jika skenario bearish divergence ini terkonfirmasi, IHSG berpotensi menguji level support kuat di area 8.000. Jika level tersebut tertembus, koreksi bisa berlanjut menguji dua area gap terbuka, yakni Level 7.854-7.889 dan Level 7.726-7.743.

Baca Juga: Dana Transfer Daerah Dipangkas, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Bersumpah Anggaran Jalan Naik Rp 3,5 Triliun

Selain tekanan dari pasar global, pelaku pasar hari ini juga mencermati rilis data penjualan ritel Indonesia periode Agustus 2025 dari Bank Indonesia (BI).

Sebelumnya, pada Juli 2025, penjualan eceran tumbuh 4,7 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan bulan Juni.

Namun, penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ke level 115,0 pada Agustus (dari 117,2 pada Juli) menjadi sinyal bahwa daya beli masih tertahan, terutama di tengah pelemahan rupiah dan ketidakpastian global.

Penurunan IKK terutama terlihat pada kelompok pengeluaran menengah (Rp 3,1 juta-Rp 4 juta dan Rp 2,1 juta-Rp 3 juta).

Meskipun demikian, kelompok masyarakat berpengeluaran tinggi (di atas Rp 5 juta) justru mencatat kenaikan IKK, menunjukkan daya beli kelas menengah atas yang masih solid.

Baca Juga: BMKG Beri Peringatan Indonesia Dihantui Ancaman Curah Hujan Tinggi Akibat Fenomena Akhir Tahun 2025, Ini Dampaknya

Dengan kompleksitas sentimen global—mulai dari pernyataan hawkish The Fed, risalah FOMC yang menunjukkan perpecahan internal mengenai jalur pelonggaran suku bunga, hingga risiko penutupan pemerintahan AS—intervensi pemerintah melalui kebijakan fiskal menjadi sangat krusial. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#ihsg #pasar keuangan #menkeu #Purbaya Yudhi Sadewa #nilai tukar rupiah