RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah dinamika industri alas kaki yang semakin kompetitif, kabar mengejutkan datang dari salah satu merek sepatu legendaris Indonesia, Bata.
Bata yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama puluhan tahun ini akhirnya resmi menghentikan operasional pabriknya di Purwakarta per 30 April 2024.
Keputusan ini tentu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, PT Sepatu Bata Tbk (BATA) mencatatkan kerugian yang terus meningkat.
Baca Juga: Produk Olahan Susu Dalam Negeri Masuk ke Pasar Internasional, Ini Negara Tujuan Ekspornya
Pada 2023 saja, perusahaan membukukan rugi bersih sebesar Rp 190,29 miliar, melonjak drastis dari tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 105,92 miliar.
Pendapatan pun terus menurun dari sekitar Rp 643,44 miliar di 2022 menjadi hanya Rp 609,61 miliar di tahun 2023.
Manajemen BATA mengungkapkan bahwa salah satu alasan utama di balik keputusan ini adalah penurunan signifikan permintaan terhadap produk sepatu yang diproduksi di dalam negeri.
Baca Juga: Stok Bensin Menipis, SPBU Shell Terancam Tutup, Inggrid Siburian: Penyediaan Produk Tetap Jalan
Selain itu, biaya operasional yang tinggi membuat model produksi konvensional menjadi tidak efisien dan membebani kinerja keuangan perusahaan.
Akibat penutupan pabrik ini, lebih dari 200 pekerja di Purwakarta terkena PHK. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyampaikan bahwa penutupan ini merupakan bagian dari strategi transformasi bisnis yang dilakukan oleh BATA.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa langkah ini diambil demi menjaga keberlanjutan usaha dan memperkuat efisiensi perusahaan ke depan.
Baca Juga: Rekomendasi Tipe Sepatu Lokal Indonesia, Kualitas Tak Kalah dengan Luar Negeri
Seluruh toko ritel BATA tetap beroperasi seperti biasa. Bahkan, manajemen menyatakan mereka akan memperkuat distribusi dan logistik,
termasuk memindahkan pusat distribusi dari Purwakarta ke Jakarta dan bekerja sama dengan penyedia logistik pihak ketiga.
Hal ini dilakukan agar rantai pasok tetap berjalan lancar meski tanpa fasilitas produksi internal.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) turut meminta agar BATA melakukan public expose untuk menjelaskan kepada publik mengenai kondisi keuangan dan rencana strategis ke depan.
Hal ini penting sebagai bagian dari transparansi perusahaan terbuka kepada investor dan pemegang saham. ****
Editor : Dharaka R. Perdana