RADAR TULUNGAGUNG - Saat harga emas hari ini merosot, harga perak (XAG) global sedang berada di puncak kejayaannya.
Logam mulia ini baru-baru ini mencatat rekor harga tertinggi sepanjang masa, didorong oleh sentimen safe haven yang lebih luas di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Reli fantastis ini menjadikan perak sebagai salah satu komoditas dengan kinerja paling cemerlang sepanjang tahun, diuntungkan oleh faktor-faktor pendorong yang sama dengan emas, serta dukungan kuat dari pasar spot yang ketat.
Pada penutupan perdagangan Kamis (9/10/2025), harga perak di pasar spot masih mencatatkan kenaikan sebesar 0,48 persen pada level US$49,11 per troy ons.
Bahkan, pada perdagangan intraday hari itu, harga perak sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di angka USD51,22 per troy ons, sebelum kemudian kembali stabil di level psikologis US$49 per troy ons.
Kenaikan tajam ini bukan fenomena sesaat; pada Rabu (8/10/2025) pukul 18:27 WIB, perak di pasar spot telah naik 2,23 persen ke level USD48,9 per ons.
Secara keseluruhan, kinerja perak sepanjang tahun ini sangat mencengangkan. Harga perak telah menguat 72 persen di sepanjang tahun 2025 ini.
Data lain menunjukkan lonjakan harga sebesar 70 persen sepanjang tahun ini, menjadikannya kenaikan tahunan terbesar sejak tahun 2010.
Kenaikan ini juga mewakili lonjakan 69,19 persen year to date (YtD) per Rabu (8/10/2025). Kinerja perak yang "meledak" ini didorong oleh perhatian investor yang beralih ke seluruh kompleks logam mulia di tengah permainan safe haven yang lebih luas.
Dorongan Ganda: Logam Mulia dan Bahan Industri
Lonjakan harga perak ini didorong oleh dua sisi, yaitu minat investor sebagai logam mulia dan permintaan kuat sebagai bahan industri.
Kepala Analis Pasar di Nemo.money, Han Tan, mengungkapkan bahwa perak diuntungkan karena investor mengalihkan perhatian mereka ke seluruh kompleks logam mulia di tengah permainan safe haven yang lebih luas.
Selain itu, banyak trader ritel yang melihat perak sebagai aset aman di tengah gejolak global, sehingga meningkatkan permintaan dan mendorong harga lebih tinggi.
Gejolak global ini mencakup ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, serta ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat.
Sentimen seperti government shutdown dan tensi geopolitik juga turut melambungkan harga perak, serta emas, yang bersama-sama berlomba mencapai all time high (ATH).
Sebagai bahan industri, permintaan perak sangat kuat, didorong oleh industri teknologi, terutama panel surya, elektronik, dan kendaraan listrik.
Morgan Stanley bahkan mencatat bahwa lonjakan instalasi tenaga surya di China antara Januari hingga Mei tahun ini turut memperkuat harga perak.
Namun, analis memperkirakan kenaikan perak mungkin mulai melambat jika pertumbuhan permintaan dari sektor surya mulai menurun.
Likuiditas Ketat dan Spekulasi Tarif
Kenaikan harga perak juga ditopang oleh likuiditas yang ketat di pasar spot London, setelah banyak pasokan perak dikirimkan ke gudang COMEX di Amerika Serikat.
Pengiriman ini awalnya dipicu oleh kekhawatiran akan adanya tarif impor AS yang rencananya diberlakukan pada April, meskipun pada akhirnya rencana tarif tersebut tidak terjadi.
Analis HSBC, James Steel, menjelaskan bahwa kekhawatiran tarif tersebut membuat harga di New York menjadi lebih tinggi daripada di London, sehingga banyak emas dan perak dipindahkan ke AS.
Lebih lanjut, masuknya perak dalam daftar rancangan mineral kritis AS pada September juga memicu spekulasi mengenai tarif baru.
Akibatnya, stok perak di COMEX mencetak rekor tertinggi pada minggu lalu. Sebagai perbandingan, di London, cadangan perak pada akhir September tercatat sebesar 24.581 ton metrik, turun 0,3 persen dari bulan sebelumnya, dengan perkiraan nilai US$36,5 miliar menurut LBMA. ****
Editor : Dharaka R. Perdana