Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Umumkan Buyback Rp5 Triliun, BCA Optimistis Pasar Saham Menguat, Laba Kuartal III Sesuai Target

Iqbal Pangestu • Selasa, 21 Oktober 2025 | 19:52 WIB

Saham BBCA direkomendasikan buy dengan potensi kenaikan hingga 47%.
Saham BBCA direkomendasikan buy dengan potensi kenaikan hingga 47%.

RADAR TULUNGAGUNG - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali menjadi sorotan utama di pasar modal setelah mengumumkan rencana besar untuk melakukan pembelian kembali saham perseroan (buyback) senilai Rp5 triliun.

Pengumuman ini beriringan dengan rilis kinerja keuangan yang solid hingga Kuartal III 2025. Kombinasi kabar positif ini segera mendorong optimisme analis, yang mempertahankan rekomendasi buy (beli) untuk saham BBCA, dengan menetapkan target harga yang menjanjikan potensi kenaikan signifikan.

Keputusan BCA untuk melaksanakan buyback senilai maksimal Rp5 triliun ini merupakan langkah strategis yang bertujuan untuk mendukung stabilitas harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Aksi korporasi ini tergolong signifikan di mata para analis. Rekomendasi beli yang dipertahankan oleh Ciptadana Sekuritas Asia (21/10) mencantumkan target harga sebesar Rp11.600.

Dibandingkan dengan harga penutupan saham BCA pada 20 Oktober 2025 yang berada di level Rp7.875, target harga tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sebesar 47 persen.

Periode pelaksanaan buyback yang akan menelan biaya hingga Rp5 triliun ini akan dimulai pada 22 Oktober 2025 hingga 19 Januari 2026, maksimal selama periode tiga bulan terhitung sejak tanggal keterbukaan informasi pada 20 Oktober 2025.

Aksi pembelian kembali saham BBCA ini akan berlaku untuk saham dengan harga Rp9.200 atau lebih rendah.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan bahwa pelaksanaan shares buyback ini tidak akan memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha Perseroan.

Baca Juga: Calon Investor Dituntut Jeli, Berikut Rekomendasi Trading Saham SCMA dan MBMA di Tengah Prediksi IHSG yang Melemah

Buyback Rp5 Triliun Mendukung Stabilitas Harga

Aksi pembelian kembali saham sebesar Rp5 triliun yang diumumkan oleh bank swasta nomor wahid di Tanah Air ini merupakan upaya untuk mendukung stabilitas harga saham perseroan.

Jumlah Rp5 triliun tersebut dianggap signifikan, bahkan setara sekitar 5,2 persen dari kapitalisasi pasar berdasarkan harga penutupan terakhir, jika program ini terlaksana sepenuhnya.

Selain itu, program buyback kali ini jauh lebih besar dibandingkan program sebelumnya yang dilaksanakan pada Maret 2025, yang hanya senilai Rp1 triliun (dan tidak sepenuhnya terealisasi).

Peningkatan besaran buyback ini dinilai mencerminkan meningkatnya kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan ke depan.

Langkah korporasi ini diharapkan dapat memberikan dukungan yang berarti terhadap harga saham BBCA di pasar.

Kinerja Laba Kuartal III Sesuai Ekspektasi Analis

Selain aksi buyback, sentimen positif yang menopang rekomendasi buy adalah kinerja solid yang dicatatkan BCA.

BCA (20/10) mengumumkan bahwa mereka telah mencatat laba bersih yang meningkat 5,7 persen Year-on-Year (YoY) menjadi Rp43,4 triliun selama periode sembilan bulan pertama tahun 2025 (Januari–September 2025). Angka laba ini disebut sejalan dengan estimasi dan konsensus analis.

Secara kuartalan, kinerja laba bersih BCA di Kuartal III 2025 sedikit mengalami penurunan tipis sebesar 3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, namun masih mencatat kenaikan 1% secara tahunan (YoY) menjadi Rp14,4 triliun.

Penurunan tipis secara kuartalan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan tipis biaya kredit menjadi 0,6% di Kuartal III 2025, dibandingkan 0,4 persen pada Kuartal II 2025.

Baca Juga: Harga Saham Logam Mulia Emas Antam Terus Cetak Rekor Tertinggi, Sentimen Global Mendorong Investasi

Biaya Kredit dan Margin Bunga Bersih Tetap Terkelola

Dalam laporan keuangannya, BCA mencatat beban pencadangan yang melonjak 54 persen secara kuartalan dan melesat 57 persen secara tahunan.

Lonjakan ini dipicu oleh dua faktor utama: penurunan kualitas aset di segmen konsumer akibat kondisi ekonomi yang masih lemah, dan pencadangan antisipatif di segmen wholesale.

Namun, secara kumulatif, biaya kredit tercatat 0,5 persen di periode Januari–September 2025, yang masih sesuai dengan target yang ditetapkan manajemen di kisaran 0,3 persen hingga 0,5 persen.

Sementara itu, Net Interest Margin (NIM) atau margin bunga bersih BCA tercatat stabil secara kuartalan di level 6,3 persen pada Kuartal III 2025. Meskipun secara kumulatif Januari–September 2025 NIM turun 20 basis points (bps) YoY.

Pertumbuhan Kredit dan DPK Tetap Solid

Dari sisi penyaluran kredit, meskipun pertumbuhan kredit BCA secara keseluruhan melambat menjadi 7,6 persen secara tahunan dan minus 1,7 persen secara kuartalan, angka ini masih berada dalam rentang target manajemen yaitu 6 persen hingga 8 persen.

Menariknya, rata-rata pertumbuhan kredit BCA tetap solid di angka 12,2 persen secara tahunan, bahkan naik 0,3 persen secara kuartalan.

Pertumbuhan ini didorong oleh segmen korporasi yang naik 10 persen secara tahunan, serta pembiayaan syariah yang melonjak 17 persen YoY.

Dari sisi pendanaan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA juga menunjukkan peningkatan menjadi 7 persen secara tahunan.

Pertumbuhan DPK ini utamanya ditopang oleh kenaikan kuat pada giro, yang tercatat naik 15% secara tahunan dan 5 persen secara kuartalan.

Baca Juga: Dolar Amerika Makin Ganas, Pasar Saham Menanti Kartu Truf Menkeu Purbaya di Tengah Sentimen Negatif Global

Secara keseluruhan, kinerja yang diumumkan oleh BCA dinilai solid oleh analis. Kinerja ini ditopang oleh NIM yang tangguh dan pertumbuhan yang stabil. Sementara itu, kenaikan biaya kredit masih dianggap wajar di tengah kondisi makroekonomi saat ini.

IHSG Menguat Mendorong Sentimen Pasar

Sentimen positif terhadap saham BBCA juga didukung oleh pergerakan pasar secara umum. Pada hari yang sama dengan terbitnya riset ini, 21 Oktober 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakselerasi, dibuka naik 1,06 persen ke level 8.174,47.

Sebanyak 315 saham naik, termasuk kemungkinan saham BCA, yang didukung oleh berbagai sentimen domestik.

Salah satu sentimen positif yang diharapkan menopang pasar adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada Selasa dan Rabu pekan ini (21–22/10/2025). ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#bursa efek indonesia #investasi #bca #Saham BBCA #buyback