RADAR TULUNGAGUNG.ID - Ekonomi global menghadapi tahun 2025 dengan kombinasi optimisme yang didorong oleh kemajuan teknologi dan kecemasan akibat ketegangan geopolitik. Laporan "The World Ahead 2025" menyoroti bahwa dunia sedang memasuki masa yang ditentukan oleh tiga kekuatan utama: kembalinya Donald Trump, laju inovasi teknologi, dan ketidakpastian radikal.
Kembalinya Trump ke Gedung Putih, dengan kebijakan "America First" dan rencana tarifnya, menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan perdagangan global. Meskipun demikian, beberapa sektor ekonomi dan pasar negara berkembang menunjukkan momentum positif yang mungkin mengimbangi ketidakstabilan politik.
Amerika Serikat diprediksi akan memasuki tahun 2025 dengan momentum ekonomi yang impresif, melampaui tren pra-pandemi dan mempertahankan tingkat pengangguran rendah. Analisis menunjukkan bahwa inflasi akan kembali ke target Federal Reserve 2%, memungkinkan bank sentral untuk terus memotong suku bunga di bawah 4% pada akhir 2025.
Ini akan mendorong pengeluaran konsumen dan bisnis, yang pada gilirannya akan memungkinkan ekonomi Amerika mencapai soft landing. Namun, prospek ekonomi yang cerah ini dibayangi oleh agenda Trump. Rencana utamanya, termasuk janji untuk mengenakan tarif 60% pada barang-barang Tiongkok dan 10-20% pada impor lainnya, dapat menghambat pertumbuhan dan memicu inflasi kembali.
Selain tarif, rencana deportasi massal imigran ilegal juga dapat memperburuk kondisi ekonomi AS dengan mengurangi pasokan tenaga kerja, yang berpotensi membuat ekonomi menyusut 1,2% hingga 7,4% pada tahun 2028.
Di kawasan Asia, dinamika ekonomi yang beragam terus berlanjut. Tiongkok, meskipun menghadapi perlambatan ekonomi domestik yang signifikan, terutama akibat kemerosotan sektor properti, secara aktif mencari peluang baru.
Pemerintah Tiongkok mempromosikan "silver economy" (ekonomi perak), yang berfokus pada industri ramah lansia seperti perawatan kesehatan cerdas, produk anti-penuaan, dan pariwisata nostalgia. Pusat Penelitian Penuaan Tiongkok memperkirakan bahwa ekonomi perak akan bernilai 7 triliun yuan (sekitar $1 triliun) pada tahun 2024 dan meningkat menjadi 30 triliun yuan pada tahun 2035.
Sementara itu, Tiongkok juga mendominasi inovasi hijau, seperti mobil listrik (EVs), baterai, dan panel surya, yang mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk memperluas operasi mereka ke luar negeri untuk menghindari tarif AS.
Laju pertumbuhan di negara-negara berkembang menunjukkan tren yang bervariasi. India diproyeksikan akan melampaui Jepang pada tahun 2025, menjadikannya ekonomi terbesar keempat di dunia. India berambisi mencapai PDB $5 triliun pada tahun 2028, dan berharap mendapatkan manfaat dari ketegangan geopolitik antara AS dan Tiongkok, dengan perusahaan multinasional seperti Apple merencanakan produksi lebih dari seperlima iPhone di India pada akhir 2025.
Namun, pemerintah India sangat bergantung pada investasi publik untuk mendorong pertumbuhan, dengan rencana belanja modal lebih dari 11 triliun rupee untuk tahun fiskal hingga Maret 2025. Tantangan utamanya adalah apakah perusahaan swasta dapat mempertahankan tingkat investasi ini seiring upaya pemerintah mengurangi defisit anggaran.
Di Afrika Sub-Sahara, teridentifikasi pola pertumbuhan dua jalur: negara yang kaya sumber daya (seperti Angola dan Nigeria) menghadapi PDB per kapita yang lebih rendah dibandingkan satu dekade lalu, sementara negara yang kurang bergantung pada komoditas (seperti Rwanda dan Ethiopia) terus tumbuh stabil. IMF memprediksi bahwa sembilan dari 20 negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia pada tahun 2025 akan berada di Afrika.
Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menargetkan pertumbuhan 8% di bawah Presiden Prabowo Subianto. Untuk mencapai hal ini, rencana belanja besar, seperti program makan siang gratis untuk 83 juta anak sekolah, telah disiapkan. Namun, target ini terhambat oleh peraturan fiskal yang membatasi utang dan defisit, serta tingkat pengumpulan pajak yang rendah (10% dari PDB, separuh dari rata-rata regional).
Kecerdasan buatan (AI) siap memberikan dorongan signifikan pada sektor-sektor ekonomi penting, terutama pengembangan obat. AI diharapkan dapat membuat penemuan obat menjadi lebih cepat dan murah, berpotensi membalikkan "Hukum Eroom" yang menyatakan biaya pengembangan obat baru berlipat ganda setiap sembilan tahun.
Model AI generatif bahkan dapat merancang molekul baru untuk diuji. Pada tahun 2025, diperkirakan empat atau lima obat yang dikembangkan berbasis AI akan memasuki uji coba fase tiga. Selain farmasi, AI juga mendorong permintaan komputasi dan energi yang luar biasa, memicu investasi sebesar $1,4 triliun untuk pusat data AI antara tahun 2024 dan 2027.
Sementara itu, penyimpanan energi skala jaringan (grid-scale storage) menjadi teknologi energi dengan pertumbuhan tercepat secara global. Diprediksi pada tahun 2025, kombinasi pembangkit listrik tenaga surya-fotovoltaik dan penyimpanan baterai akan lebih murah daripada pembangkit listrik tenaga batu bara di Tiongkok atau pembangkit listrik tenaga gas baru di Amerika. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya penyebaran tenaga surya dan angin, kelebihan kapasitas baterai Tiongkok, dan lonjakan permintaan daya dari AI.
Secara keseluruhan, tahun 2025 akan menjadi tahun di mana ketidakpastian geopolitik yang dipicu oleh kebijakan non-tradisional Amerika akan berhadapan dengan percepatan inovasi dan ambisi pertumbuhan di Asia dan Afrika. Dampak akhirnya pada ekonomi dunia akan bergantung pada seberapa jauh AS mewujudkan ancaman proteksionisnya dan seberapa cepat negara lain dapat mengadopsi teknologi baru.
Editor : Dharaka R. Perdana