Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Transformasi Energi Nasional, Proyek DME Pengganti LPG Impor Ditargetkan Mulai Tahun 2026 Mendatang

Iqbal Pangestu • Selasa, 28 Oktober 2025 | 20:35 WIB

Pemerintah serius mengembangkan Dimethyl Ether (DME) dari gasifikasi batu bara sebagai pengganti LPG impor, yang ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2026.
Pemerintah serius mengembangkan Dimethyl Ether (DME) dari gasifikasi batu bara sebagai pengganti LPG impor, yang ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2026.

RADAR TULUNGAGUNG - Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah ambisius dalam mewujudkan ketahanan energi nasional dengan mengembangkan gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai energi alternatif pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG).

Proyek strategis ini merupakan bagian dari upaya besar untuk mengurangi ketergantungan impor LPG yang selama ini membebani neraca perdagangan negara.

Langkah pengembangan DME ini menjadi solusi substitusi impor melalui hilirisasi batu bara, bahan baku yang melimpah di Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa proyek DME ini masuk dalam 18 proyek hilirisasi yang sedang diprioritaskan.

Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor LPG; dari total konsumsi sekitar 8,5 juta ton per tahun, kapasitas produksi domestik hanya mencapai 1,3 juta ton.

Ini berarti sisa sekitar 6,5 hingga 7 juta ton LPG harus dipenuhi melalui impor. Oleh karena itu, Bahlil menargetkan proyek hilirisasi batu bara menjadi DME dapat terealisasi pada tahun depan (2026).

Baca Juga: Polemik Data Harga LPG 3 Kg Memanas, Menkeu Purbaya Respons Santai Tuduhan Salah Baca Data dari Menteri ESDM

Apa itu DME? Berdasarkan Kementerian ESDM, DME adalah senyawa eter paling sederhana yang mengandung oksigen dengan rumus kimia CH₃OCH₃.

Senyawa ini berwujud gas pada kondisi normal, tetapi mudah dicairkan dengan tekanan rendah sehingga dapat disimpan dalam bentuk cair, mirip dengan LPG.

Keunggulan utama DME adalah karakteristik fisika dan kimia yang sangat mirip dengan LPG. Hal ini memungkinkan infrastruktur LPG yang sudah ada, seperti tabung gas, pipa distribusi, dan fasilitas penyimpanan, dapat dimanfaatkan kembali hanya dengan sedikit penyesuaian.

Pengembangan DME didorong oleh beberapa faktor keunggulan, terutama aspek ramah lingkungan dan ketersediaan bahan baku domestik. DME dinilai mudah terurai di udara, sehingga tidak merusak ozon dan mampu meminimalisir gas rumah kaca hingga 20 persen.

Kualitas nyala api yang dihasilkan oleh DME juga lebih biru dan stabil, serta tidak menghasilkan partikulat matter (pm), NOx, dan tidak mengandung sulfur.

Baca Juga: Ledakan Tabung Gas Elpiji 12 Kg di Jakarta Barat: 6 Rumah Hancur, Seorang Lansia Luka Bakar Parah 70 Persen

Bahan baku untuk memproduksi DME juga beragam, termasuk gas alam, hasil olahan minyak bumi, biomassa, limbah organik, hingga gas metana batubara (CBM).

Namun, pemerintah menilai bahwa batu bara berkalori rendah merupakan bahan baku yang paling ideal karena ketersediaannya yang besar dan harganya yang lebih ekonomis.

Meskipun DME memiliki keunggulan lingkungan, ada perbedaan dalam kandungan panas (calorific value) dibandingkan LPG. Kandungan panas DME adalah 7.749 Kcal/Kg, sedangkan LPG senilai 12.076 Kcal/Kg.

Meski demikian, DME memiliki massa jenis yang lebih tinggi, sehingga perbandingan kalorinya sekitar 1 berbanding 1,6.

Kementerian ESDM telah menyelesaikan uji terap pemakaian DME 100 persen. Uji coba ini telah dilakukan di Kota Palembang dan Muara Enim pada Desember 2019 hingga Januari 2020 terhadap 155 kepala keluarga, dan secara umum dapat diterima oleh masyarakat.

Uji terap juga pernah dilakukan di Kecamatan Marunda, Jakarta, pada 2017 kepada 100 kepala keluarga dengan komposisi DME 20 persen, 50 persen, dan 100 persen.

Baca Juga: Diduga Terlibat Korupsi Jual Beli Gas, Eks Dirut PT PGN Hendi Prio Santoso Resmi Ditahan KPK

Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa DME mudah dalam menyalakan kompor, stabilitas nyala api normal, mudah dalam pengendalian nyala api, dan menghasilkan warna nyala api biru.

Namun, uji coba juga mencatat bahwa waktu memasak menggunakan DME lebih lama dibandingkan dengan LPG.

Saat ini, proyek hilirisasi ini, yang masuk dalam 18 proyek strategis, masih dipelajari oleh konsultan untuk finalisasi di Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa teknologi yang akan digunakan kemungkinan besar akan berasal dari China atau Eropa, namun keputusan tersebut akan berada di tangan Danantara. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#energi alternatif #lpg #DME