RADAR TULUNGAGUNG - Pasar modal Indonesia dibuka dengan sentimen negatif menyusul wacana perubahan metodologi penghitungan free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Perubahan metodologi MSCI ini menimbulkan risiko besar terhadap saham-saham berkapitalisasi jumbo di Bursa Efek Indonesia (BEI), memicu kekhawatiran outflow investor.
Kabar penyesuaian perhitungan float Indonesia yang dilakukan oleh MSCI ini menjadi penyebab utama anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sebelumnya.
Penurunan bobot indeks akibat kebijakan MSCI tersebut memicu penurunan tajam saham kakap, membuat pasar keuangan Tanah Air babak belur.
IHSG pada perdagangan Senin (27/10/2025) ditutup terkapar 1,87 P di level 8.117,15, setelah sempat berfluktuasi hingga menyentuh 7.959,17 intraday.
Meski dilanda badai rebalancing MSCI kemarin, para investor kini mencermati peluang rebound pada perdagangan hari ini.
Investor saat ini mencermati sentimen wacana perubahan metodologi penghitungan free float oleh MSCI. Perubahan ini berisiko menekan saham-saham berkapitalisasi besar di BEI.
Kekhawatiran utama yang muncul adalah potensi outflow (arus dana keluar) dan penurunan bobot indeks bagi saham-saham yang masuk dalam perhitungan MSCI.
Wacana ini membuat pasar keuangan Indonesia babak belur pada awal pekan, dengan pergerakan IHSG dan nilai tukar Rupiah sama-sama berada di zona pelemahan. IHSG tercatat ditutup terkoreksi 1,87 persen ke level 8.117,15.
Sepanjang perdagangan Senin (27/10/2025), IHSG sempat berfluktuasi di kisaran 7.959,17 hingga 8.354,67.
Bahkan, IHSG sempat turun sangat tajam hingga 3,70 persen di level 7.965,47 pada perdagangan intraday, sebelum akhirnya berhasil ditarik kembali pada sesi II ke level psikologis 8.100.
Pelemahan IHSG disebabkan oleh kejatuhan sejumlah saham berkapitalisasi besar atau saham kakap. Saham PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) tercatat turun paling dalam, yakni 12,83 persen. Kemudian diikuti oleh saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang jeblok 9,34 persen.
Dua saham besar lain yang juga terdampak signifikan adalah PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN) yang turun 6,19 persen dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang terkoreksi 3,00 persen.
Baca Juga: Umumkan Buyback Rp5 Triliun, BCA Optimistis Pasar Saham Menguat, Laba Kuartal III Sesuai Target
Pergerakan harga saham BREN menjelang MSCI memang menjadi perhatian khusus bagi investor raksasa.
Saham-saham ini, yang sering menjadi motor penggerak IHSG, menunjukkan volatilitas tinggi akibat sentimen rebalancing dan perubahan metodologi perhitungan free float.
Meskipun dihantam badai rebalancing MSCI yang parah, penurunan tajam pada hari Senin (27/10/2025) justru memberikan peluang bagi IHSG untuk rebound (memantul naik) pada perdagangan hari ini. Analis mencermati peluang rebound ini seiring meredanya kepanikan jual (selling panic).
Sentimen dan proyeksi pasar hari ini akan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain badai rebalancing MSCI yang mulai mereda, data ekonomi global dan agenda rilis data dalam dan luar negeri yang terjadwal hari ini juga akan menjadi penggerak sentimen pasar.
Investor asing dan obligasi Indonesia akan menjadi fokus perhatian setelah terjadi pelemahan pasar yang signifikan di awal pekan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana