RADAR TULUNGAGUNG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan bergerak naik pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa, 4 November 2025. Pada pembukaan tersebut, IHSG dibuka pada posisi 8.275,951, menunjukkan awal yang positif.
Mengacu data RTI hingga pukul 09.16 WIB, IHSG tercatat mengalami penguatan signifikan sebesar 17,081 poin. Kenaikan ini setara 0,21 persen, membawa indeks parkir sementara di level 8.292,165.
Pergerakan IHSG pada pagi hari ini terpantau naik dan sempat menyentuh level tertinggi harian di angka 8.301,531. Pada pukul 09.15 WIB, indeks berada di level 8.295,98, naik 0,25 persen atau 20,90 poin.
Kenaikan IHSG ini didorong oleh respons positif pelaku pasar terhadap kinerja emiten-emiten yang merilis laporan keuangan periode kuartal III-2025.
Tim Riset CGS Sekuritas memprediksi IHSG akan melanjutkan penguatan dengan kisaran support 8.210/8.145 dan resist 8.340/8.405.
Baca Juga: IHSG Menguat Tajam ke Level 8.239 di Awal Pekan, Sinyal Positif Ekonomi Akhir 2025?
Sentimen positif ini datang dari dalam negeri maupun mancanegara yang mendorong penguatan. Salah satu sentimen penting adalah berlanjutnya aksi beli investor asing (net foreign buy) pada perdagangan hari sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan hari Senin, 3 November 2025, IHSG naik 1,36 persen ke 8.275,08. Kenaikan ini disertai dengan net foreign buy sebesar Rp1,035 triliun dari investor asing.
Sentimen dari luar negeri juga mendukung, di antaranya menguatnya mayoritas indeks di bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street. Namun, bursa AS ditutup beragam pada Senin, 3 November 2025.
Indeks S&P 500 naik 0,17 persen dan Nasdaq meningkat 0,46 persen, didorong optimisme sektor AI. Sementara itu, Indeks Dow Jones justru turun 0,48 persen pada perdagangan Senin.
Pasar Asia pada Senin, 3 November 2025, ditutup menguat. Indeks Hang Seng menguat 0,97 persen, dan Shanghai juga meningkat 0,55 persen.
Namun, di perdagangan Selasa pagi ini, 4 November 2025, bursa regional Asia menunjukkan pergerakan yang beragam. Kospi dan Nikkei dibuka melemah, masing-masing 1,35 persen dan 0,31 persen.
Sementara itu, indeks Nikkei pagi ini terpantau menguat 0,09 persen, dan Shanghai melemah 0,08 persen. Indeks Hang Seng juga menguat 0,02 persen, dengan Strait Times melemah 0,18 persen.
Di sisi lain, Samuel Sekuritas memperkirakan IHSG justru akan turun hari ini. Prediksi pelemahan ini didasarkan pada sentimen negatif yang datang dari pasar regional yang cenderung melemah.
Di bursa Eropa pada perdagangan Senin (03/11), bursa saham ditutup variatif. Indeks DAX Jerman dan Euro Stoxx 50 menguat, sementara indeks FTSE 100 Inggris dan CAC Prancis melemah.
Dari data domestik, inflasi Indonesia periode Oktober 2025 tercatat sebesar 0,28 persen month to month (mtm). Angka ini setara 2,86 persen year on year (yoy).
Indeks PMI Manufaktur Indonesia juga meningkat ke level 51,2 pada Oktober 2025. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus sebesar 4,34 miliar dolar AS pada September 2025.
Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp15.111 triliun, didukung oleh transaksi yang ramai. Total transaksi yang tercatat sebanyak Rp2,154 triliun, melibatkan 3,195 miliar saham.
Baca Juga: MSCI Ubah Metodologi Indeks, Tekanan Jual Saham Besar Bikin IHSG Anjlok 1,87 Persen
Sebanyak 262 saham emiten menguat pada perdagangan pagi ini, sementara 231 saham lainnya melemah. Selain itu, sebanyak 182 saham tercatat stagnan tanpa adanya perubahan harga.
CGS Sekuritas juga menyebut naiknya harga beberapa komoditas sebagai sentimen positif yang mendorong penguatan. Namun, indeks manufaktur AS (ISM Manufacturing PMI) justru turun ke level 48,7 pada Oktober 2025.
Penurunan di AS ini menandai delapan bulan berturut-turut sektor manufaktur berada dalam fase kontraksi. Aktivitas produksi, pesanan baru, dan tenaga kerja AS semuanya mengalami penurunan.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data The Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) AS. Data ketenagakerjaan ini penting karena menjadi patokan sikap The Fed berikutnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana