RADAR TULUNGAGUNG - Di tangan terampil Lucky Riswanti, batu akik yang dulu sempat menjadi tren sesaat, kini kembali bersinar dalam bentuk yang berbeda.
Warga Desa/Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung ini sukses mengubah batu alam sederhana menjadi karya perhiasan elegan bernilai tinggi. Tak tanggung-tanggung, dia mampu menembus pasar luar pulau hingga ke Aceh.
Baca Juga: Mengenang Pirus Lazuli Asal Tulungagung, Masihkan Jadi Primadona Penggemar Batu Akik?
Lucky dikenal sebagai satu-satunya perajin wire jewelry di Tulungagung yang menggabungkan keindahan batu alam dengan kawat tembaga enamel.
Dari tangannya lahir bros, gelang, cincin, dan kalung unik yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Batu alam yang ia gunakan sebagian besar berasal dari Pacitan, daerah yang terkenal dengan keindahan batu akiknya.
Baca Juga: Jejak Batu Akik di Tulungagung Dulu Trend Nasional, Kini Warisan Budaya yang Tersembunyi
“Dari bahan sederhana seperti batu dan kawat, bisa jadi karya yang punya nilai seni tinggi,” tutur Lucky sambil tersenyum.
Harga produknya bervariasi, mulai dari Rp10 ribuan hingga ratusan ribu rupiah, tergantung bahan dan tingkat kerumitan desain.
Baca Juga: Alasan Kenapa Orang Tulungagung Bangga Punya Batu Akik
Dalam sehari, ia bisa menghasilkan dua produk jadi. Tak hanya dijual di sekitar Tulungagung, karya-karyanya sudah menembus pasar hingga Aceh. Omzetnya pun tak main-main, bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Hobi ini telah ia geluti sejak 2010, namun baru digarap serius setelah pensiun bekerja pada tahun 2020. Bagi Lucky, membuat perhiasan bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk terapi diri.
Baca Juga: Mengadu Peruntungan dari Batu Akik, Pirus Super Masih Laku Rp 3 Juta Lebih
Setelah mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan patah tulang di empat bagian tubuhnya, kegiatan merangkai kawat dan batu menjadi obat penyembuh sekaligus healing. “Sehari saja tidak pegang kawat, rasanya ada yang hilang dari hidup saya,” ucapnya.
Dukungan penuh dari keluarga membuat Lucky semakin mantap berkarya. Ia menemukan ketenangan dan kebahagiaan dalam setiap lekuk kawat dan kilau batu yang ia rangkai. Motivasi terbesarnya sederhana, yakni tetap berkarya dan mencintai apa yang dikerjakan.
“Saya ingin terus berkembang, bahkan sampai ke pasar internasional. Bagi saya, keindahan itu harus dibagikan lewat karya,” ujarnya penuh semangat.
Di tengah era modern dan menurunnya minat terhadap batu akik, Lucky membuktikan bahwa keindahan klasik masih bisa hidup, bahkan menjadi tren baru ketika dikemas dengan sentuhan kreatif.
Dari tangannya, warisan alam Indonesia kembali berkilau. Bukan hanya karena batunya, melainkan karena cinta dan ketekunan di baliknya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana