RADAR TULUNGAGUNG - Isu mengenai penggabungan dua raksasa teknologi, Grab dan GOTO, kini menjadi sorotan utama pasar modal. Konfirmasi rencana Grab merger dengan GoTo datang langsung dari pihak Istana Kepresidenan.
Akibat sentimen positif ini, harga Saham GOTO (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk) melonjak tajam saat pembukaan pasar. Kenaikan ini terjadi pada sesi pertama perdagangan hari ini, Senin, 10 November 2025.
Harga Saham GOTO dibuka naik 3 poin atau 4,92 persen ke posisi Rp 64 per satu lembar saham. Kenaikan ini menunjukkan respons positif investor terhadap isu Grab Merger yang terkonfirmasi.
Baca Juga: MSCI Ubah Metodologi Indeks, Tekanan Jual Saham Besar Bikin IHSG Anjlok 1,87 Persen
Saham GOTO yang ditutup di harga Rp 61 pada perdagangan bursa kemarin kini berhasil menguat. Kenaikan ini terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru mengalami penurunan di sesi pagi.
Dengan pergerakan yang fluktuatif, GOTO tetap menjadi salah satu saham yang menarik perhatian investor. GOTO saat ini memiliki total nilai kapitalisasi pasar (market cap) sebesar Rp 75 triliun.
Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengonfirmasi rencana bisnis ini. Konfirmasi tersebut disampaikan dalam keterangan persnya di Istana Kepresidenan pada Jumat (7/11/2025).
Prasetyo Hadi menyebut rencana penggabungan ini akan melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Namun, ia tidak menjelaskan bagaimana peran spesifik Danantara dalam bisnis kedua perusahaan aplikator ini.
Keputusan ini merupakan bagian dari diskusi bersama antara Grab dan GOTO saat bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah memutuskan untuk ikut campur karena ojek online dianggap "pahlawan ekonomi" nasional.
Ojek online dinilai mampu menggerakkan ekonomi dan menyediakan lapangan kerja di tanah air. Rencana Grab Merger ini diperkirakan akan meningkatkan efisiensi biaya operasional.
Peningkatan efisiensi ini berpotensi besar untuk memperbesar pendapatan kedua perusahaan. Dengan demikian, fundamental perusahaan pasca-merger diprediksi akan semakin bagus.
Bahkan, sebelum rencana ini dikonfirmasi, analis sudah menilai prospek Saham GOTO sangat cerah untuk investasi. Kinerja GOTO terus membaik dan berpotensi membalikkan rugi menjadi laba dalam waktu dekat.
GOTO membukukan laba sebelum pajak yang disesuaikan sebesar Rp62 miliar pada kuartal III-2025. EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai rekor tertinggi sebesar Rp5.416 miliar selama periode Juni–September 2025.
Total EBITDA Grup yang disesuaikan GOTO periode Januari–September 2025 telah mencapai Rp 1,3 triliun. GOTO menaikkan target EBITDA Grup 2025 menjadi Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun.
Ryan Santoso dari BCA Sekuritas menilai profitabilitas GOTO semakin baik. Kinerja ini menunjukkan GOTO selangkah lagi bisa mencapai net profit yang positif.
Profitabilitas GOTO didorong kinerja dua unit bisnisnya yang semakin menguntungkan. Segmen fintech (Goto Financial/GTF) menjadi motor pertumbuhan utama dari sisi pendapatan dan laba.
EBITDA untuk GTF mencapai Rp136 miliar di kuartal III-202. Sementara On-Demand Services (ODS) atau Gojek mencatatkan perbaikan marjin laba yang signifikan, mencapai Rp336 miliar.
Baca Juga: Umumkan Buyback Rp5 Triliun, BCA Optimistis Pasar Saham Menguat, Laba Kuartal III Sesuai Target
Equity Research Samuel Sekuritas, Fadhlan Banny, menilai kondisi keuangan GOTO semakin sehat. Fintech berhasil mengeksekusi strategi mass market, mendongkrak bisnis transaksi pembayaran.
Bisnis pinjaman tumbuh 84 persen Year on Year (YoY) menjadi Rp1 triliun di kuartal III-2025. Nilai buku pinjaman konsumen juga tumbuh 76 persen YoY menjadi Rp7,6 triliun.
Ekspansi consumer lending GOTO dinilai sangat hati-hati (prudent), dibuktikan dengan nilai tunggakan yang rendah di bawah 0,6 persen. Fadhlan optimistis kontribusi fintech ke depan akan semakin besar seiring ODS yang matang.
Rencana Grab Merger ini menawarkan peluang emas bagi investor yang tertarik pada Saham GOTO. Isu ini semakin memperkuat pandangan bahwa investasi di GOTO kini semakin solid dan menarik. ****
Editor : Dharaka R. Perdana