Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Viral! Menkeu Purbaya Yudi Sadewa Berani Lawan Arus di Mata Najwa: “Saya Bekerja untuk Rakyat, Bukan Istana”

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Rabu, 12 November 2025 | 00:30 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa tampil lugas dalam acara Mata Najwa. Dengan tenang, ia menegaskan dirinya bekerja untuk rakyat, bukan istana  pernyataan yang langsung viral. (Pinterest)
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa tampil lugas dalam acara Mata Najwa. Dengan tenang, ia menegaskan dirinya bekerja untuk rakyat, bukan istana pernyataan yang langsung viral. (Pinterest)

RADAR TULUNGAGUNG – Pernyataan tegas Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudi Sadewa dalam wawancara eksklusif di acara Mata Najwa membuat publik heboh.

Dengan nada tenang namun penuh keyakinan, ia menegaskan bahwa tugasnya bukan melayani kekuasaan, melainkan rakyat.

Kalimatnya, “Saya bekerja untuk rakyat, bukan untuk istana,” seketika viral dan menjadi perbincangan nasional.

Pernyataan itu diucapkan dalam suasana wawancara yang tegang. Najwa Shihab, sang jurnalis senior, membuka diskusi dengan pertanyaan tajam seputar arah kebijakan fiskal dan keberpihakan pemerintah di tengah krisis ekonomi.

Namun Purbaya, yang baru seminggu menjabat sebagai Menkeu, tampil berbeda dari kebanyakan pejabat. Ia tak sekadar menjawab diplomatis, melainkan berbicara jujur dan terbuka.

Awal Tekad Sang Menteri

Sejak awal menjabat, Purbaya sudah menunjukkan sikap idealis. Dalam kesendiriannya di kantor Kementerian Keuangan, ia kerap menatap angka-angka defisit dan utang yang membengkak bukan sekadar sebagai data, melainkan sebagai cermin penderitaan rakyat.

Ia menyadari, di balik setiap kebijakan fiskal ada petani yang gagal panen, buruh yang kehilangan pekerjaan, dan ibu yang menahan lapar demi anaknya.

Beban moral itu membuatnya gelisah. Ketika istana mengingatkan agar berhati-hati berbicara soal utang negara, ia justru menegaskan, “Kadang yang bikin panik bukan kebenaran, tapi kebohongan yang sudah terlalu lama disembunyikan.”

Kalimat itu menjadi gambaran karakter seorang pejabat yang memilih nurani dibanding kenyamanan jabatan.

Undangan dari Najwa Shihab

Ketegangan semakin meningkat ketika undangan datang dari Najwa Shihab. Banyak pejabat senior menasihati agar ia menolak tampil di acara itu, karena dikenal kritis dan tajam.

Namun Purbaya justru menganggap undangan tersebut sebagai kesempatan untuk bicara jujur kepada publik.

“Kalau kita takut bicara di hadapan rakyat, untuk apa jadi pejabat publik?” katanya dingin dalam rapat internal. Pernyataannya membuat ruangan hening. Sejak saat itu, ia bersiap menghadapi sorotan besar.

Malam yang Menentukan

Hari wawancara pun tiba. Di studio Mata Najwa, suasana terasa tegang. Purbaya tampil sederhana dengan jas abu-abu dan dasi biru tua.

Saat musik pembuka berhenti, Najwa langsung membuka pertanyaan soal arah kebijakan keuangan negara. Tanpa ragu, ia menjawab, “Saya bekerja untuk rakyat, bukan untuk partai, bukan untuk istana.”

Jawaban itu disambut tepuk tangan spontan dari penonton.

Bahkan Najwa sempat terdiam sejenak, sebelum menimpali dengan pertanyaan lanjutan, “Bukankah pernyataan Anda bisa menimbulkan kepanikan?” Dengan tenang Purbaya menjawab, “Yang membuat rakyat panik bukan kebenaran, tapi kebohongan yang dijaga dengan rapi.”

Dialog tersebut menjadi puncak dari keberanian seorang pejabat yang memilih kejujuran di atas kepentingan politik.

Dalam sesi itu pula, ia mengungkap bahwa ada banyak data defisit yang dipoles dan proyek besar yang tidak transparan. “Kalau saya diam, berarti saya ikut berdosa,” ujarnya tegas.

Dampak Setelah Wawancara

Keesokan harinya, potongan video pernyataan Purbaya membanjiri media sosial. Tagar #PurbayaUntukRakyat mendadak trending di berbagai platform.

Warganet memuji keberaniannya, menyebutnya sebagai menteri jujur terakhir dan pahlawan fiskal yang berani bicara apa adanya di tengah tekanan politik.

Namun di sisi lain, suasana di lingkar kekuasaan berubah panas. Istana dikabarkan menggelar rapat darurat untuk membahas dampak politik dan ekonomi dari pernyataan sang Menkeu.

Sebagian pejabat menilai langkah Purbaya bisa memicu ketidakstabilan pasar, sementara yang lain menilai keberaniannya justru bisa memulihkan kepercayaan publik.

Di tengah semua tekanan itu, Purbaya tetap tenang. Ia datang ke kantor seperti biasa, menyapa pegawai, dan menegaskan bahwa yang ia lakukan bukan bentuk perlawanan, melainkan pengingat moral.

“Kita ini bekerja untuk rakyat, bukan untuk mempertahankan kursi,” katanya kepada stafnya.

Sore harinya, telepon dari istana benar-benar datang. Purbaya diminta hadir malam itu untuk bertemu Presiden. Ia tahu pertemuan itu akan menjadi penghakiman atas kejujuran yang ia tunjukkan.

Namun sebelum berangkat, ia menatap langit mendung Jakarta dan berbisik lirih, “Kalau ini harga dari kejujuran, biarlah aku membayarnya.”

Keberanian Menkeu Purbaya Yudi Sadewa kini menjadi simbol integritas baru di tengah birokrasi yang sering kali dibungkam politik. Bagi banyak rakyat, ia bukan sekadar pejabat, tapi sosok yang mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kejujuran hanyalah panggung sandiwara.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Purbaya Yudi Sadewa #Menkeu untuk rakyat #viral Purbaya #kejujuran pejabat #Mata Najwa