Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Terkuak! 10 Kisah Redenominasi Mata Uang Paling Gila di Dunia, Dari Hungaria 400 Oktillion: Belajar dari Negara yang Gagal dan Berhasil Sebelum Rupiah

Galuh Agista Rachmadyna • Rabu, 12 November 2025 | 01:50 WIB
Menkeu Purbaya ungkap langkah redenominasi rupiah: pangkas tiga nol demi efisiensi dan kepercayaan pada mata uang nasional. (Ilustrasi)
Menkeu Purbaya ungkap langkah redenominasi rupiah: pangkas tiga nol demi efisiensi dan kepercayaan pada mata uang nasional. (Ilustrasi)

RADAR TULUNGAGUNG - Wacana redenominasi mata uang rupiah kembali mencuat seiring dengan rencana Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudi Sadewa untuk merampungkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang perubahan harga rupiah.

Redenominasi sendiri merupakan penyederhanaan nilai nominal uang, misalnya dari Rp 1.000 menjadi Rp 1, tanpa mengubah nilai tukar atau daya beli masyarakat.

​Melihat rencana Indonesia, penting untuk berkaca pada sejarah global.

Tercatat, sejumlah negara di dunia pernah melakukan redenominasi mata uang, bahkan mengganti mata uang mereka akibat kondisi ekonomi yang sangat parah, terutama hiperinflasi ekstrem.

Hiperinflasi tersebut membuat nilai mata uang anjlok hingga tak lagi berharga, menjadikannya hanya bernilai sebagian kecil dari satuan mata uang baru.

Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga, mana negara yang sukses dan mana yang gagal total.

 

 

 



​Hungaria, Redenominasi Paling Spektakuler dalam Sejarah
​Kasus Hungaria pada tahun 1946 menjadi yang paling ekstrem dalam sejarah redenominasi mata uang.

Setelah menderita akibat perang dan krisis ekonomi, pemerintah Hungaria mengganti mata uang Pengo menjadi Forin Hungaria.

Rasio konversinya sungguh mencengangkan: 400 oktillion Pengo diubah menjadi hanya satu Forin.

Pada masa itu, nilai mata uang lama terus merosot sebanyak 400% setiap hari, dan uang kertas tertinggi senilai 20 oktillion Pengo hanya setara dengan 0,04 dolar AS.

Hiperinflasi ekstrem ini memaksa pemerintah mengeluarkan pecahan Milpengo dan Bipengo untuk memudahkan transaksi yang saat itu harga barang naik lima kali sehari.

Meski demikian, redenominasi yang masif ini tergolong berhasil menstabilkan kondisi moneter.

Mata uang Forin yang diperkenalkan pada Agustus 1946 masih digunakan hingga kini dan tergolong stabil.

 

 

 



​Kisah Redenominasi Akibat Hiperinflasi Ekstrem
​Banyak kasus redenominasi mata uang di dunia terjadi karena negara-negara tersebut dilanda hiperinflasi yang tak terkendali:

Zimbabwe: Gagal dan Kembali ke Dolar AS
Zimbabwe menjadi contoh negara yang mengalami redenominasi berulang dan cenderung gagal.

Antara 2006 hingga 2009, negara ini mengalami empat kali pergantian mata uang karena hiperinflasi memuncak hingga 79,6 miliar persen per bulan.

Pada 2009, pemerintah menghapus 12 nol dan memperkenalkan Dolar Zimbabwe keempat.

Sayangnya, satu dolar baru Zimbabwe itu setara dengan 1 triliun dolar lama.

Nilai tukar yang terus jatuh memaksa pemerintah melegalkan penggunaan mata uang asing seperti dolar AS.

Baru pada 2019, Zimbabwe mencoba kembali ke mata uang nasional.

Jerman: Pulih Setelah Bayar Reparasi Perang
Pasca Perang Dunia I, Jerman menghadapi krisis karena kewajiban membayar reparasi.

Pencetakan uang tanpa kendali membuat mata uang Papiermark kehilangan nilainya.

Pada 1923, inflasi mencapai 29.500 persen.

Untuk menstabilkan ekonomi, pemerintah memperkenalkan Rentenmark dengan rasio 1 triliun Papiermark dibanding 1.

Langkah ini sukses memulihkan kepercayaan publik dan menjadi dasar pencetakan mata uang stabil, Remark.

Yugoslavia: Redenominasi Paling Singkat Umurnya
Antara 1992-1994, Yugoslavia menghadapi hiperinflasi terpanjang ketiga di dunia, memaksa pemerintah melakukan empat kali redenominasi.

Bahkan, mata uang Dinar 1994 hanya bertahan sebulan sebelum diganti menjadi Novi Dinar yang dipatok terhadap Mark Jerman.

Kasus ini menunjukkan bahwa tanpa stabilitas ekonomi dan politik yang kuat, redenominasi hanya akan bersifat kosmetik.

 

 


Keberhasilan Turki dan Bolivia sebagai Pelajaran Indonesia
​Di sisi lain, beberapa negara sukses melakukan redenominasi mata uang dalam kondisi makroekonomi yang lebih stabil, seperti yang direncanakan Indonesia.


Turki: Menghapus Enam Nol dengan Hati-hati
Turki hidup dalam inflasi tinggi selama lebih dari 30 tahun, dengan nilai tukar mencapai 1,3 juta Lira per 1 dolar AS pada awal 2000-an.

Pada 2005, pemerintah menghapus enam nol dan memperkenalkan Lira baru.

Penerapan ini dilakukan sangat hati-hati dan memakan waktu tujuh tahun.

Langkah ini dinilai berhasil memulihkan stabilitas moneter, menjadikannya contoh sukses yang sering disorot untuk Indonesia.

Bolivia: Berhasil Menurunkan Inflasi Drastis
Setelah inflasi menembus 20.000% pada 1985, Bolivia memperkenalkan Boliviano baru pada 1987, menggantikan Peso Boliviano dengan rasio 1 juta banding 1.

Reformasi ini sukses menekan inflasi secara drastis di awal 1990-an, dan Boliviano tetap digunakan hingga kini.
​Pengalaman global menunjukkan bahwa kunci sukses redenominasi mata uang terletak pada waktu yang tepat, stabilitas ekonomi makro, dan yang paling penting, kepercayaan publik yang tinggi.

Tanpa kondisi tersebut, redenominasi bisa menjadi bumerang, seperti yang dialami Zimbabwe, dan gagal meningkatkan kredibilitas mata uang.

 

Baca Juga: Sulit Capai Target Pajak, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Pastikan Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Masih Bisa Didorong

Editor : Anggi Septian A.P.
#efisien #Uang nasional #ekonomi #rupiah