Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rupiah Terpukul! Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Drastis, Ringgit Malaysia Jadi Pengecualian

Iqbal Pangestu • Kamis, 13 November 2025 | 19:00 WIB

Mata uang Rupiah menjadi salah satu Mata Uang Asia yang terkoreksi signifikan sebesar 0,21% terhadap dolar AS pada 12 November 2025.
Mata uang Rupiah menjadi salah satu Mata Uang Asia yang terkoreksi signifikan sebesar 0,21% terhadap dolar AS pada 12 November 2025.

RADAR TULUNGAGUNG - Mayoritas Mata Uang Asia terpantau melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari Rabu, 12 November 2025. Pelemahan ini terjadi di tengah penantian para pelaku pasar terhadap voting penyelesaian isu Government Shutdown AS.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan terbesar di Asia, mengalami koreksi tajam 0,40 persen ke level KRW 1.466,7/USD. Disusul Rupiah melemah 0,21, melanjutkan pelemahan dari perdagangan sebelumnya.

Sebaliknya, Ringgit Malaysia Menguat 0,34 persen ke posisi MYR4,122/USD pada pukul 09.15 WIB. Ringgit menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang berhasil mencatatkan kenaikan terhadap dolar AS.

Baca Juga: Redenominasi Rupiah Dijadwalkan Tuntas 2027: Angka Nol Hilang, Harga Barang Tetap? Purbaya Ungkap Tujuan, Manfaat, dan Bahaya Inflas

Dong Vietnam dan rupee India juga terkoreksi pada perdagangan pagi itu. Mereka melemah masing-masing 0,19 persen ke VND 26.329/USD.

Dolar Taiwan, Dolar Singapura, Yen Jepang, Yuan China, serta Baht Thailand juga mencatatkan pelemahan tipis. Koreksi mata uang-mata uang tersebut berkisar antara 0,07 persen hingga 0,15 persen terhadap greenback.

Pergerakan mata uang Asia hari ini dipengaruhi kuat oleh dinamika indeks dolar AS. Indeks dolar AS saat ini tengah menguat tipis 0,09 ke level 99,529.

Sentimen pasar global utama dibayangi oleh perkembangan drama government shutdown di AS. Sentimen lain adalah ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Pelaku pasar kini menanti hasil pemungutan suara di DPR AS yang dijadwalkan Rabu sore waktu setempat. DPR AS yang dikuasai Partai Republik akan memberikan suara atas kompromi anggaran.

Kompromi ini diharapkan dapat memulihkan pendanaan lembaga pemerintah dan mengakhiri shutdown. Penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS ini telah berlangsung sejak 1 Oktober, memasuki hari ke-42.

Baca Juga: Ekonom Nilai Rencana Redenominasi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Berisiko, Bisa Picu Inflasi dan Biaya Besar

Jika proses berjalan lancar, shutdown berpotensi berakhir dalam 24-48 jam setelah pemungutan suara. Ini berarti shutdown bisa selesai antara hari Kamis hingga Jumat waktu Indonesia.

Namun, akhir dari drama ini belum tentu menjadi "happy ending" bagi pasar. Penolakan dari kelompok konservatif Partai Republik berpotensi menunda voting.

Penolakan juga dapat memaksa negosiasi tambahan antara kedua belah pihak. Kesepakatan yang ada hanya memperpanjang pendanaan hingga 30 Januari 2026.

Ancaman shutdown dapat kembali muncul lagi pada awal tahun depan. Hal ini menambah ketidakpastian dalam pasar global.

Dari sisi kebijakan moneter, pelemahan pasar tenaga kerja AS semakin jelas. Laporan ADP menunjukkan perusahaan swasta AS memangkas rata-rata 11.250 pekerjaan per minggu selama empat pekan hingga 25 Oktober.

Data pelemahan pasar tenaga kerja ini memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Pemangkasan suku bunga diperkirakan terjadi pada pertemuan FOMC 9-10 Desember mendatang.

Saat ini, pasar memperkirakan peluang sebesar 67 persen The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya. Penurunan yang diprediksi adalah sebesar 25 basis poin.

Baca Juga: Harga Naik, Dompet Menjerit, Emas dan Telur Ayam Jadi Biang Inflasi Oktober 2025, BI Kediri Siaga Jaga Stabilitas Harga

Berbeda dengan sebagian besar mata uang regional, Ringgit Malaysia menguat di tengah tren tersebut. Penguatan ini didorong optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Malaysia.

Stabilitas fiskal Malaysia juga relatif terjaga dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara. Kinerja kuat ringgit juga ditopang oleh stabilnya harga minyak mentah dunia.

Harga minyak yang stabil menopang ekspor energi Malaysia, yang mayoritas adalah produk energi. Selain itu, Bank Negara Malaysia (BNM) diperkirakan mempertahankan suku bunga stabil.

Kebijakan suku bunga stabil ini untuk mendukung pertumbuhan domestik di Malaysia. Ringgit juga tercatat sebagai salah satu mata uang dengan performa terbaik di Asia sejak awal tahun 2025.

Ringgit telah menguat sekitar 8,39 persen jika dibandingkan dengan akhir tahun 2024. Sebaliknya, Rupiah Melemah 3,74 persen terhadap dolar AS sejak awal 2025.

Rupee India juga mengalami pelemahan signifikan sebesar 3,33 persen sejak awal tahun. Kontras performa ini menunjukkan bahwa sentimen The Fed dan shutdown AS memiliki dampak berbeda-beda di kawasan Asia. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#rupiah melemah #mata uang asia #dolar as #ringgit malaysia