RADAR TULUNGAGUNG - PT Bumi Resources Tbk (BUMI), emiten pertambangan, mengalami kenaikan Harga Saham BUMI yang sangat tajam pada perdagangan Selasa, 11 November 2025.
Lonjakan signifikan ini terjadi setelah BUMI dikabarkan resmi merampungkan Akuisisi Wolfram Limited (WFL).
Berdasarkan analisis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), saham BUMI kini berada dalam tren kenaikan yang sangat kuat dan impulsif.
Penguatan ini terjadi setelah BUMI berhasil menembus resistance historis di level 164 dengan volume perdagangan yang sangat tinggi.
Langkah PT Bumi Resources Tbk memperluas portofolio di luar batu bara ini adalah bagian dari strategi Diversifikasi Non-Batubara. Diversifikasi ini menargetkan kontribusi pendapatan non-batubara hingga 50% pada tahun 2030.
Saham BUMI naik tajam 28% ke level Rp 192 pada akhir sesi I perdagangan Selasa (11/11/2025). Saham ini bahkan sempat mencapai Rp 199 pada sesi tersebut.
Lonjakan harga BUMI mencapai 32% atau 48 poin ke level Rp 198 per saham, dibandingkan hari sebelumnya di level Rp 150 per saham.
Harga BUMI bahkan sempat melesat ke level tertinggi Rp 202 per saham atau menyentuh auto reject atas (ARA).
Sebanyak 18,5 miliar saham BUMI diterbitkan pada sesi I dengan frekuensi 232.675 kali. Nilai transaksi sesi I mencapai Rp 3,3 triliun, menandakan saham ini diborong oleh investor.
Data transaksi harian total mencatat nilai transaksi sebesar Rp 5,29 triliun dengan volume saham yang diperdagangkan sebanyak 286,01 juta lembar saham. Saham BUMI ditransaksikan sebanyak 357.560 kali sepanjang perdagangan hari itu.
Di tengah aksi jual oleh investor asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan melemah 0,33% ke level 8.363,15. Namun, BUMI menjadi saham yang paling banyak diborong oleh investor asing (net buy).
BUMI mencatat net buy asing tertinggi sebesar Rp 653 miliar menurut data dari aplikasi Stockbit Sekuritas pada sesi I. Dalam daftar Top 5 Net Foreign Buy, BUMI memimpin dengan pembelian bersih 2.620.118.400 saham.
Analisis teknikal BRIDS pada 11 November 2025 menyebut level support saat ini berada di 180. Sementara itu, resistance terdekat bagi pergerakan Harga Saham BUMI saat ini berada di level 200.
VP Marketing Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menilai penguatan saham BUMI didorong oleh beberapa faktor krusial.
Salah satunya adalah status BUMI yang menjadi konstituen indeks utama seperti LQ45, IDX80, BISNIS27, dan Kompas100.
Status ini mampu mendorong inflow seiring adanya realokasi dana oleh institusi yang bertolak ukur dengan indeks utama tersebut.
Kiwoom Sekuritas memperkirakan penguatan BUMI berpeluang menuju resistance 232-236 dalam jangka pendek.
Proyeksi teknikal tersebut didukung indikator MACD yang mengalami golden cross dan lonjakan volume transaksi. Selain faktor teknikal, sentimen utama kenaikan harga saham BUMI adalah aksi korporasi yang ambisius.
Sentimen positif ini muncul dari informasi Akuisisi Wolfram Limited sebesar 100% oleh BUMI. Akuisisi ini merupakan bentuk diversifikasi BUMI ke sektor tambang emas dan logam mulia.
Berdasarkan keterbukaan informasi, BUMI telah melakukan transaksi pembelian 400.670 saham WFL senilai Rp 2,2 miliar pada 7 November 2025. Pembelian ini merupakan lanjutan dari rangkaian transaksi untuk mengakuisisi 100% saham WFL.
WFL memperluas basis cadangan logam mulia dan tembaga BUMI. Kepemilikan 100% Wolfram Limited akan dikonsolidasikan sepenuhnya pada akhir tahun 2025.
Cadangan dari Wolfram diperkirakan memiliki nilai mencapai US$ 2,26 miliar. Selain WFL, PT Bumi Resources Tbk juga mengakuisisi 41,36% saham Jubilee Metals Limited (JML).
JML merupakan perusahaan tambang emas yang telah berproduksi di Australia. Kontribusi penjualan emas pada Januari–September 2025 mencapai 17%, naik dari 11% periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: MSCI Ubah Metodologi Indeks, Tekanan Jual Saham Besar Bikin IHSG Anjlok 1,87 Persen
Peningkatan kontribusi non-batubara ini mencerminkan minat tinggi investor terhadap perusahaan. Analis menilai para pelaku pasar merespons positif potensi sinergi dan ekspansi BUMI ke sektor mineral.
PT Bumi Resources Tbk adalah perusahaan yang fokus pada sektor pertambangan batubara dan minyak bumi.
Kegiatan utamanya mencakup penambangan, pengolahan, hingga pemasaran hasil tambang di Kalimantan Timur dan wilayah lainnya.
Dari sisi fundamental, prospek BUMI masih menjanjikan dalam jangka pendek dan menengah. Hal ini didukung oleh permintaan batu bara yang tinggi dari India dan Tiongkok.
Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) memproyeksikan harga jangka pendek bisa ke Rp 230-240 per saham. Kenaikan ini dapat terjadi asal volume transaksi saham BUMI tetap terjaga.
BUMI juga diuntungkan berkat biaya produksi yang rendah dan integrasi bisnis yang solid. Semua faktor ini membuat Harga Saham BUMI semakin atraktif di mata pasar. ****
Editor : Dharaka R. Perdana