RADAR TULUNGAGUNG - Pasar aset kripto global kembali dilanda tekanan jual masif sejak pertengahan November 2025. Harga Bitcoin Anjlok tajam setelah menghapus seluruh kenaikan yang dicatat sejak awal tahun.
Penurunan ekstrem ini disebabkan oleh berbagai faktor, terutama karena Arus Dana Institusi Mengering di pasar. Sentimen menghindari risiko kini mendominasi, membuat Pasar Kripto Guncang.
Bitcoin bahkan jatuh di bawah level 93.714 dollar AS pada Minggu (16/11/2025), melampaui harga penutupan akhir tahun lalu. Hal ini berarti Bitcoin telah kehilangan lebih dari 30 persen kenaikan yang sempat dicapai.
Aset kripto terbesar dunia ini sebelumnya sempat melonjak hingga rekor 126.251 dollar AS. Puncak harga tertinggi itu terjadi pada tanggal 6 Oktober 2025.
Hanya empat hari setelah mencapai rekor, harga mulai merosot tajam. Hal ini terjadi setelah komentar mengejutkan Presiden AS Donald Trump soal tarif memicu kepanikan global.
Euforia akibat sikap pro-kripto pemerintahan Donald Trump kini terlihat memudar. Minimnya aliran dana institusional membuat pasar kehilangan salah satu penopang utamanya.
Para pembeli besar, seperti pengelola ETF hingga perusahaan-perusahaan raksasa, kini mulai menepi. Produk ETF sebelumnya mencatat arus dana masuk lebih dari 25 miliar dollar AS.
Aliran dana stabil ini dulu memperkuat narasi Bitcoin sebagai diversifikasi portofolio. Kini narasi tersebut kembali goyah, dan pasar mulai merasakan dampaknya.
Chief Investment Officer Bitwise Asset Management, Matthew Hougan, menyebut pasar berada dalam fase menghindari risiko. Kripto adalah indikator paling awal dari sentimen negatif tersebut, dan menjadi yang pertama melemah.
Selain aksi ambil untung investor jangka panjang, arus keluar institusional juga terjadi. Likuidasi posisi leverage dan ketidakpastian makro turut menekan harga.
Pada saat yang sama, pelemahan saham teknologi besar ikut menekan selera risiko investor. Pasar kini tampaknya memilih arah turun setelah periode konsolidasi yang cukup panjang.
Penurunan harga ini terjadi bahkan setelah shutdown atau penutupan pemerintah AS berakhir. Presiden AS Donald Trump telah menandatangani rancangan anggaran untuk mengakhiri shutdown 43 hari tersebut.
Pengakhiran shutdown memulihkan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026. Lembaga regulator penting seperti SEC dan CFTC dapat melanjutkan agenda regulasi mereka.
Perhatian pasar kini bergeser dari urusan politik ke arah kejelasan regulasi kripto yang lebih terarah. Ini mencakup proses persetujuan ETF Kripto dan lanjutan pembahasan regulasi stablecoin.
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai fluktuasi harga ini harus dilihat sebagai konsolidasi pasar. Faktor utama penentu pergerakan harga Bitcoin adalah ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed.
Selama arah kebijakan suku bunga masih belum pasti, volatilitas pasar akan tetap tinggi. Investor cenderung menunggu kejelasan moneter sebelum kembali masuk ke pasar.
Antony menambahkan bahwa sinyal pemangkasan suku bunga pada Desember bisa menjadi titik balik penting. Perubahan arah kebijakan moneter berpotensi membuka ruang pemulihan harga di pasar kripto global.
Penurunan harga Bitcoin di bawah US$ 100.000 memang dipengaruhi faktor makro yang bersifat eksternal. Operasional regulator yang kembali penuh memberikan ruang bagi pasar untuk menata ulang arah.
Baca Juga: MSCI Ubah Metodologi Indeks, Tekanan Jual Saham Besar Bikin IHSG Anjlok 1,87 Persen
Shutdown berkepanjangan sempat menyebabkan gangguan pada pengumpulan data ekonomi penting AS. Data yang tertunda adalah Consumer Price Index (CPI) dan laporan pekerjaan untuk bulan Oktober 2025.
Data CPI terakhir menunjukkan tingkat inflasi tahunan di AS naik menjadi 3% pada September 2025. Angka 3% ini merupakan yang tertinggi sejak Januari tahun itu.
Meskipun sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 3,1%, tekanan harga masih membayangi. Data CPI lama ini masih menjadi acuan utama The Fed karena penundaan perilisan data baru.
Antony Kusuma menyarankan agar volatilitas saat ini tidak disikapi dengan kepanikan. Koreksi ini merupakan bagian dari mekanisme pasar normal.
Setiap investor perlu meninjau kembali strategi investasi jangka panjang sesuai profil risiko. Mereka disarankan untuk tetap tenang dan fokus pada prinsip manajemen risiko.
Michael Saylor, yang perusahaannya dikenal sebagai simbol investasi korporasi di Bitcoin, kini juga terkena dampak. Harga saham Strategy Inc. kini mendekati nilai bersih kepemilikan Bitcoin mereka.
Hal ini menunjukkan investor tidak lagi bersedia memberikan premi atas strategi investasi agresif Saylor. Penurunan ini adalah kombinasi kompleks dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. ****
Editor : Dharaka R. Perdana