RADAR TULUNGAGUNG - Penjualan bensin eceran di wilayah Tulungagung mengalami penurunan dalam dua pekan terakhir.
Sejumlah pedagang di Tulungagung menduga meredupnya permintaan tersebut berkaitan dengan merebaknya isu motor brebet yang dikaitkan dengan penggunaan Pertalite, meskipun bahan bakar yang mereka sediakan berbeda dari jenis yang disebut-sebut menimbulkan masalah.
Jinah, salah satu pedagang bensin eceran di kawasan Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung mengatakan bahwa sudah hampir dua pekan bensin eceran yang ia jual tidak laku sama sekali.
Padahal sebelumnya ia masih bisa menjual satu hingga dua liter per hari. Kondisi ini membuatnya bertanya-tanya apakah penurunan tersebut dipicu oleh maraknya isu motor brebet yang belakangan ramai diperbincangkan.
“Sekitar dua minggu, menurut saya agak tersendat. Masalahnya apa saya nggak tau. Apa denger-denger sepedah motor jadi pada brebet itu atau gimana, saya heran kok jadi gini, jadi nggak laku. Biasanya itu seliter dua liter laku, lha ini beberapa hari ini kok nggak laku itu kenapa,” ujarnya terheran-heran ketika ditemui pada Senin (17/11).
Perempuan 65 tahun itu menuturkan, ketika kondisi normal persediaan bensin senilai Rp 200 ribu yang biasa dibelinya akan habis dalam kurun waktu sekitar sepuluh hari, dengan penjualan 2–3 botol per hari.
Namun kini, stok terakhir yang dibelinya sejak dua minggu lalu masih tersisa banyak. Kondisi tersebut tentu merugikannya, karena penurunan penjualan berdampak langsung pada berkurangnya pendapatan yang ia terima.
Jinah berharap situasi ini segera membaik agar usahanya dapat berjalan seperti sedia kala. Ia mengaku salah satu sumber pendapatnya bergantung pada penjualan bensin eceran tersebut untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Semoga jualan saya itu laku, lancar. Kan kalau sehari-hari lancar ada hasilnya, misal nggak ada hasilnya buat ekonomi sehari-hari apa. Ya, pengen laku, lancar gitu,” ungkapnya.
Tidak hanya Jinah, peristiwa serupa juga dialami ASR, pedagang warung sekaligus penjual bensin eceran di wilayah Kelurahan Kepatihan.
Pria 52 tahun itu mengungkapkan bahwa penjualannya sepi dalam dua pekan terakhir. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa biasanya setiap dua minggu sekali ia akan membeli satu jeriken penuh Pertamax dari SPBU.
Kala kondisi normal harusnya persediaan tersebut akan habis dalam waktu sekitar satu minggu. Namun kini, sudah lebih dari dua minggu berlalu, namun stok terakhir yang dibelinya belum juga habis terjual.
ASR mengaku kebingungan dengan kondisi tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui adanya isu motor brebet yang belakangan ramai diperbincangkan.
Namun kondisi ini berimbas langsung terhadap kelangsungan usahanya. Ia mengatakan beberapa konsumen sempat menanyakan keaslian bensin yang dijualnya.
Menghadapi hal tersebut ia mengaku tidak memiliki banyak cara untuk meyakinkan konsumen yang mulai ragu.
Menurut dia, satu-satunya langkah yang bisa ia lakukan adalah menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. “Barang yang saya jual itu halal, pokoknya tidak ada masalah,” tutupnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana