RADAR TULUNGAGUNG - Optimisme tinggi masih ditunjukkan para pengusaha dan pengrajin marmer di Tulungagung.
Bahkan mereka percaya diri, industri marmer di Tulungagung masih menjanjikan keuntungan menggiurkan hingga 10 tahun atau sedekade ke depan. Meskipun ada saja tantangan yang bakal ditemui di depan mata.
Reza Fauzi, 40, generasi kedua dalam bisnis marmer GM Stone, yang kini berdomisili di Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung menceritakan perjalanan panjang keluarganya dalam industri batu alam.
“Awal mula bisnis ini dari ayah sejak tahun 1997 dan masih aktif sampai sekarang. Kalau saya pribadi mulai terjun di tahun 2011,” tuturnya sambil tersenyum.
Reza menilai bahwa prospek marmer Tulungagung masih sangat menjanjikan, baik di pasar lokal maupun internasional. Bahkan dia optimistis, hingga satu dekade ke depan masih memiliki ceruk potensial.
“Kalau dari pengalaman saya, market 5 sampai 10 tahun ke depan masih cukup bagus. Saya optimistis,” ungkapnya.
Menurut dia, kualitas marmer Tulungagung tidak kalah dengan marmer dari negara manapun. Hanya saja tiap daerah memiliki ciri khas yang tak bisa ditiru. Apalagi marmer Tulungagung itu beda dari India, Pakistan, atau Tiongkok.
"Coraknya, warnanya, itu khas. Lebih ke krem-kreman. Kalau dikumpulkan jadi satu display, tetap kelihatan beda,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa produk olahan marmernya sekitar 80 persen masih menggunakan bahan baku yang berasal dari marmer Tulungagung, sisanya dari luar kota.
“Potensinya masih besar sekali. Saya sebisa mungkin menggunakan bahan baku marmer asli Tulungagung,” tegasnya.
Namun, di balik potensi besar, tantangan yang dihadapi pengusaha marmer juga tak sedikit. Salah satunya terkait keterbatasan teknologi dan sumberdaya manusia.
“Mesin potong kita itu masih sederhana. Teknologi kita jauh tertinggal dari negara produsen marmer besar. Mesin pola, mesin bubut, semuanya menggunakan teknologi yang masih rendah,” jelas Reza.
Sehingga, upaya untuk meningkatkan kualitas produksi, masih terkendala harga mesin yang sangat tinggi dan kebutuhan SDM yang lebih terampil.
“Mesin canggih itu mahal, SDM harus bisa operasional berbasis komputer. Jujur, saya pribadi belum mampu beli. Mungkin ada pengusaha yang mampu, tapi saya belum,” tambahnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, Reza berhasil menembus pasar internasional. Permintaan terjauh bahkan datang dari Kanada. Dan untuk permintaan terbanyak hingga saat ini datang dari negara-negara di Eropa.
“Pengiriman ke Kanada butuh waktu 48 hari. Tapi paling banyak dari Eropa, seperti Jerman dan Prancis. Orang Eropa banyak yang suka marmer Tulungagung,” ungkapnya bangga.
Di momentum Hari Jadi Kabupaten Tulungagung, Reza juga menyampaikan harapan khusus kepada Pemkab Tulungagung “Kalau pemerintah tidak bisa memberi bantuan, paling tidak jangan merepotkan kami,” tegasnya.
Salah satu keluhan terbesar yaitu soal perpajakan yang dirasa terlalu tinggi. Padahal mereka mengeklaim sudah bayar sesuai laporan, tapi versi petugas pajak masih kurang.
“Kami tidak pernah dapat bantuan, penyuluhan, apalagi modal. Tapi pajaknya tinggi. Itu yang bikin sakit hati,” keluhnya.
Sebagai pengrajin lokal, Reza berharap pusat industri marmer di Desa Gamping bisa menjadi ikon kuat untuk Tulungagung.
“Semoga masyarakatnya semakin berkembang. Dan sentral industri marmer ini bisa mengangkat nama Tulungagung, bukan hanya nasional tapi internasional,” pungkasnya.
Dengan potensi besar marmer Tulungagung yang telah dikenal luas, harapan tersebut bukan mustahil terwujud.
Momentum Hari Jadi ke-820 ini menjadi refleksi bahwa Kota Marmer memiliki kekuatan industri yang terus hidup dan siap bersaing di pasar global. ****
Editor : Dharaka R. Perdana