RADAR TULUNGAGUNG - Suasana paparan Kinerja dan Fakta APBN akhir Oktober 2025 mendadak cair ketika Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung laporan yang menurutnya tampak seperti “ngerjain” dirinya.
Momen spontan itu terjadi di hadapan jajaran pejabat Kementerian Keuangan dan awak media saat membahas perkembangan ekonomi global dan realisasi APBN 2025.
Dalam kegiatan yang membahas perkembangan makro ekonomi hingga realisasi pendapatan negara tersebut, Purbaya mengawali dengan pembukaan formal, termasuk laporan rutin mengenai APBN 2025.
Namun suasana berubah santai ketika ia tiba-tiba bercanda bahwa laporan yang diterimanya terlihat lebih panjang dari yang diperkirakan.
“Saya pikir tadi pendek ternyata panjang. Pak Febrio mau ngerjain saya ini,” ujarnya sambil tertawa, merujuk pada laporan yang disusun oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal.
Candaan itu membuat forum yang biasanya serius menjadi lebih hidup, tetapi fokus utama rapat tetap pada pemaparan realisasi APBN 2025, perkembangan ekonomi global, hingga tren pemulihan domestik.
Perkembangan Ekonomi Global Mulai Stabil
Dalam paparannya, Purbaya Yudhi sadewa menjelaskan bahwa dinamika ekonomi global menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok mereda, sementara The Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan untuk kedua kalinya tahun ini.
Kebijakan tersebut dinilai memberikan angin segar bagi stabilitas pasar global.
Aktivitas manufaktur dunia juga meningkat.
Indeks PMI Global tercatat 50,8 pada Oktober 2025, menunjukkan ekspansi, sementara PMI Indonesia berada di level lebih tinggi yakni 51,2.
Menurut Purbaya, angka tersebut menunjukkan sektor industri nasional masih tangguh di tengah tekanan global.
Meskipun begitu, ekonomi Tiongkok masih melambat di kuartal ketiga.
Sebaliknya, kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia dinilai tetap resilien berkat konsumsi domestik yang kuat dan melalui kebijakan fiskal yang ekspansif.
Harga Komoditas Bergerak Fluktuatif
Sektor komoditas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi realisasi APBN 2025.
Harga batubara, minyak, dan nikel tercatat melemah secara tahunan.
Namun ada pengecualian: harga batubara kembali menguat menjadi sekitar 109,5 dolar AS per ton, dipicu tingginya permintaan dari sejumlah negara importir.
Harga minyak dunia juga naik tipis secara bulanan meski masih melemah secara tahunan, berada di level 63,6 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga tembaga dan CPO menunjukkan tren penguatan year on year.
Kenaikan tembaga terjadi karena kekhawatiran pengetatan suplai serta berakhirnya government shutdown di Amerika Serikat.
Menurut Purbaya, fluktuasi harga komoditas ini langsung memengaruhi penerimaan negara, khususnya sektor migas dan minerba yang menjadi penopang utama struktur pendapatan APBN.
Nilai Tukar Rupiah Moderat di Tengah Penguatan Mata Uang Global
Memasuki pertengahan November 2025, sejumlah mata uang dunia menguat terhadap dolar AS, seperti rubel Rusia, real Brasil, hingga euro.
Sementara rupiah melemah 3,7 persen year to date.
Meski demikian, pelemahan itu tergolong moderat dibanding Turki yang anjlok hingga 19,6 persen dan Argentina yang terdepresiasi 36,1 persen pada periode yang sama.
Pemerintah, kata Purbaya, terus menjaga stabilitas kurs melalui koordinasi erat dengan Bank Indonesia dalam forum KSSK.
Upaya ini menjadi kunci menjaga kepercayaan investor dan kestabilan pasar keuangan.
Pasar Saham Menguat, Obligasi Stabil
Purbaya juga menyoroti kinerja pasar saham global yang tumbuh solid.
Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Brasil mencatat pertumbuhan tinggi.
Di dalam negeri, IHSG naik 18,2 persen year to date, menunjukkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Di sisi lain, pasar obligasi masih dipengaruhi reposisi investor asing akibat ketidakpastian global.
Meski begitu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) justru menurun 85,6 basis poin, menandakan iklim investasi domestik tetap kuat.
“Investor domestik kita semakin mapan dan pasar semakin dalam,” tegas Purbaya.
Realisasi APBN 2025 Masih Sesuai Target
Melalui berbagai indikator tersebut, pemerintah menegaskan bahwa realisasi APBN 2025 masih berada di jalur yang aman.
Penguatan pasar keuangan, stabilisasi harga komoditas tertentu, serta pertumbuhan manufaktur menjadi fondasi penting dalam menjaga momentum ekonomi hingga akhir tahun.
Purbaya menutup paparannya dengan optimisme bahwa koordinasi fiskal dan moneter yang solid akan terus melindungi perekonomian nasional di tengah dinamika global.***
Editor : Vidya Sajar Fitri